Berakar dari kehabisan ide tulisan dan posisi Emak yang memasak sayur nangka bumbu santan kuning hasil kebun, saya jadi kepikiran untuk membuat artikel mengenai sayur nangka. Memang bukan jenis makanan orang have dan spesial, tetapi eksistensinya terus hadir dan menjadi gaya hidup hemat bahkan sampai hari ini. Kok bisa?
Nangka (Artocarpus heterophyllus) merupakan salah satu tanaman yang banyak tersebar di Indonesia, tanpa kecuali Pulau Jawa. Masyarakat lazim memanfaatkan buahnya, baik yang sudah masak maupun yang masih muda. Nangka muda alias gori (dialek Mataraman dalam buku Kawruh Pepak Basa Jawa) atau tewel telah dikenal mampu menjadi sayur yang bisa diolah sesuai selera guna pendamping nasi.
Ragam Variasi Sayur Nangka
Dalam lini kehidupan masyarakat pedesaan, budaya berbagi sudah menjadi gaya hidup. Nggak melulu harus berbagi makanan jadi, bahkan berbagi sayur mentah adalah lazim, nggak terkecuali nangka muda. Apalagi di pedesaan banyak sekali yang memiliki pohon nangka di pekarangan rumah.
Nangka muda sendiri dapat diolah menjadi banyak masakan, tergantung mood dan kesabaran sebab ada beberapa jenis nangka yang proses perebusannya cukup lama. Kendati nangka jenis hibrida memiliki kelebihan yakni lebih cepat empuk saat direbus. Sejauh yang saya tahu dan pernah coba, nangka muda dapat diolah menjadi beberapa kuliner khas seperti:
- Gudeg. Kuliner khas Yogyakarta ini memiliki citarasa manis dan berwarna merah agak kecoklatan karena penggunaan gula merah,
- Sayur lodeh. Saya rasa, sayur lodeh nangka cukup lazim dan lumrah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Kalau dalam keseharian saya, sayur lodeh nangka buatan Emak biasanya dicampur dengan kacang panjang atau kacang tolo,
- Gulai nangka. Kuliner ini pernah saya temui di rumah makan Padang. Dengan bumbu medok nan pekat, dan penggunaan rempah-rempah yang kian menambah kekayaan rasa,
- Sayur asem. Jujur saya terpesona dengan suatu varian sayur asem Jakarta yang menggunakan campuran nangka muda. Beradu dengan kuah kemerahan dan segala sayuran yang ada di dalamnya, kuliner ini layak mendapat tahta di hati.
Blendrang Tewel dan Esensi Mengikat Perut
Dalam kehidupan masyarakat pedesaan, budaya berhemat dan mengikat perut telah berlangsung sedari lama. Bukan hanya sekadar downgrade lauk hewani menjadi nabati, tapi betul-betul melucuti segala aspek. Saya tahu opini ini bakal menuai pro dan kontra, tetapi saya pernah menjalaninya.
Keberadaan pohon nangka di pekarangan rumah adalah hal yang paling kami syukuri, karena buahnya bisa dimanfaatkan untuk survive. Kadang, Emak memilih satu buah nangka muda yang cukup besar agar hasilnya banyak, lalu dimasak kuah santan pedas. Blendrang tewel alias sayur nangka itu sukses bertahan menjadi selama 4-5 harian.
Dari kacamata beberapa orang mungkin kurang relevan, tetapi bagi saya itu merupakan suatu cara mengikat perut apalagi in this economy. Lagipula, gaya hidup ini telah ada sejak jaman baheula bahkan pada era nenek saya. Esensinya bukan lagi soal sayur harian, tapi lebih pada survive dalam kehidupan yang keras.
Probabilitas Oseng Nangka yang Nyentrik
Lumrahnya, sayur nangka memang dimasak kuah ya. Namun, ada satu pengalaman unik yang membuat Emak berubah pikiran.
Berakar dari sayur lodeh nangka yang sudah mencapai 4 hari, dan rasa bosan itu hadir. Jadilah Emak memutar otak, mulai dari mencincang perbawangan dan cabai, hingga mengosengnya dengan sayur nangka yang masih ada tanpa kuah. Berbumbu garam dan penyedap, sayur lodeh musnah dan berganti osengan entah apa. Namun begitu dirasakan, maknyus juga!
Saya menulis artikel ini berdasarkan opini dan pengalaman pribadi seputar sayur nangka muda ya. Termasuk budaya mengikat perut dan gaya hidup hemat yang sudah ada sejak jaman dahulu. Jadi, kawan-kawan sudah pernah makan sayur nangka?
Baca Juga
-
Antara Sejarah, Kuliner Warisan, dan Gaya Hidup Pedas Manis ala Sambal Bajak
-
Semantik Terasi dalam Masakan Jawa sebagai Penyedap dan Gema Mistika Pekat!
-
Eksistensi Sambel Pecel Sebagai Lauk Ekonomis yang Cocok Buat Anak Kosan!
-
Mie Ayam: Comfort Food Pelampiasan Lelah Kerja Kaum Mendang-Mending Sehabis Gajian
-
Mengenang Nasi Pecel Rp2 Ribuan, Kenapa Kuliner Ini Nggak Pernah Ada Matinya?
Artikel Terkait
Lifestyle
-
Lagi Cari HP Murah Rasa Flagship? Itel A300+ adalah Jawabannya
-
4 Sheet Mask Lemon Lokal Buat Hempas Wajah Kusam dan Lelah Akibat Sinar UVA
-
Kulit Dehidrasi? Ini 4 Krim Malam Hyaluronic Acid Penyelamat Skin Barrier
-
Terjebak Hustle Culture? Ini Tanda Gen Z Harus Segera Ambil Jeda Biar Nggak Kena Job Fatigue
-
Antara Sejarah, Kuliner Warisan, dan Gaya Hidup Pedas Manis ala Sambal Bajak
Terkini
-
Buku Cemong: Menemukan Makna di Balik Kenangan dan Ketimpangan Hidup
-
Manhwa Aksi Populer Teenage Mercenary Diadaptasi Anime TV, Tayang 2027
-
Jebakan Halusinasi Kemenangan, Mengapa Judi Online Bikin Orang Ketagihan?
-
Membaca The Man Who Knew Infinity: Ketika Timur Menggugat Dominasi Barat
-
Sinopsis Shadows of Desire, Dracin Daniel Zhou dan Zhao Qing di iQiyi