Beberapa waktu lalu, bangsa Indonesia memperingati tragedi kelam yang pernah terjadi pada tahun 1965, G30S/PKI. Selain pemutaran film yang selama bertahun-tahun identik dengan peringatan tersebut, ada pula lagu Genjer-genjer yang lekat dengan sejarah politik Indonesia.
Namanya diambil dari genjer, sayuran hijau yang biasa diolah menjadi tumisan. Namun, di balik asosiasi tersebut, genjer sebenarnya merupakan tanaman pangan yang sudah lama dikonsumsi masyarakat.
Terlepas dari kaitannya dengan sejarah, genjer merupakan bahan pangan yang mudah ditemui di sawah dan lingkungan berair. Memilki rasa dan tekstur yang khas, sayuran ini banyak disukai oleh masyarakat Indonesia. Lalu, kenapa genjer bisa dikaitkan dengan tragedi G30S/PKI?
Yuk, kenali empat hal menarik tentang sayuran ini, mulai dari karakteristiknya hingga kaitannya dengan stigma sejarah Indonesia.
1. Sangat Mirip dengan Tumbuhan Eceng Gondok
Sekilas, genjer memiliki beberapa kesamaan dengan eceng gondok. Mulai dari tempat hidupnya di lingkungan berair hingga batang yang berongga.
Bedanya, eceng gondok kerap disebut sebagai gulma karena pertumbuhannya yang invasif dan menghalangi oksigen masuk ke dalam air. Selain itu, eceng gondok tidak dikonsumsi manusia. Biasanya eceng gondok digunakan sebagai pakan ternak atau pupuk kompos.
Di sisi lain, genjer tidak tumbuh secepat eceng gondok dan sering dipanen untuk dikonsumsi. Umumnya, bagian daun dan bunganya yang masih muda diolah dengan cara direbus atau ditumis untuk kebutuhan sayuran sehari-hari.
2. Genjer Bisa Diolah Menjadi Berbagai Macam Makanan
Genjer termasuk sayuran yang cukup mudah diolah menjadi berbagai hidangan rumahan. Bagian daun dan batangnya yang masih muda bisa dimasak menjadi tumisan sederhana dengan bawang putih, bawang merah, cabai, dan bumbu lainnya. Selain ditumis, genjer juga bisa diolah menjadi sayur bening atau dimasak bersama tauco untuk menghasilkan cita rasa gurih dan sedikit asin.
Namun, ada hal yang perlu diingat sebelum mengolah genjer mengingat tanaman ini mengandung getah pahit. Sedikit tips, untuk mengurangi rasa pahitnya, remas genjer dengan garam lalu bilas dengan air bersih. Kamu juga bisa rebus genjer sampai matang untuk memastikan getah benar-benar hilang.
3. Lagu Genjer-genjer Awalnya Bukan untuk Peristiwa G30S/PKI
Lagu Genjer-genjer diciptakan oleh M. Arief, seorang seniman asal Banyuwangi, Jawa Timur, pada tahun 1942. Lagu berbahasa Osing ini awalnya diciptakan sebagai ungkapan perjuangan hidup yang begitu sulit di era pendudukan Jepang. Genjer dipilih sebagai objek utama lagu ini karena tanaman ini cukup mudah ditemui sehingga tak perlu membeli di pasar untuk bisa mengonsumsinya. Karenanya, sayur genjer jadi perlambangan sayur rakyat kecil lewat lagu ini.
20 tahun kemudian, lagu ini kembali populer seiring meletusnya peristiwa kelam G30S/PKI. Keberadaan lagu ini pun bergeser yang mulanya hanya keresahan masyarakat menjadi berafiliasi dengan politik kiri masa itu. Keterkaitan tersebut membuat lagu ini tidak lagi dipandang sebagai lagu daerah semata, tetapi juga sebagai simbol yang dilekatkan pada konflik politik saat itu.
4. Mengalami Pelarangan Atas Stigma Politik yang Dibawa
Karena kaitannya dengan sejarah kelam Indonesia tadi, lagu Genjer-genjer sempat mengalami pelarangan pada masa Orde Baru. Lagu ini mendapat stigma negatif setelah berhubungan dengan peristiwa G30S/PKI sehingga cukup tabu untuk mendengarkan atau menyanyikannya secara terbuka pada waktu itu.
Akibatnya, lagu tersebut semakin jarang terdengar di ruang publik selama bertahun-tahun hingga rezim Orde Baru berakhir. Setelah itu, pelarangan terhadap lagu Genjer-genjer dihapus. Namun, ikatan tersebut seakan tak bisa lepas hingga kini. Masyarakat masih menganggap lagu ini sebagai 'kelompok kiri' atau komunis.
Stigma terhadap lagu ini turut memengaruhi cara masyarakat memandang genjer sebagai tanaman pangan. Sebagian orang mungkin lebih dahulu mengingat kaitannya dengan peristiwa G30S/PKI daripada mengenal genjer sebagai sayuran yang biasa dikonsumsi. Kalau kamu, tahu genjer sebagai sayur atau dari lagu Genjer-genjer?
Baca Juga
-
Ube Ternyata Bukan Ubi Ungu? Simak 3 Perbedaan Mendasarnya!
-
Menelusuri Jejak Patriarki di Korea dalam Novel Kim Jiyeong Born in 1982
-
7 Dekade Berlalu, Ini 4 Alasan Mengapa Kritik Novel '1984' Makin Relevan Hari Ini
-
Awas Keracunan, Perhatikan 5 Ciri Penting Ini Sebelum Menjadikan Tanaman Liar Sebagai Makanan
-
Tren Joki Baca Buku: Melorotnya Literasi atau Jadi Ladang Cuan Kutu Buku?
Artikel Terkait
Lifestyle
-
ADVAN X1 Neo Resmi Rilis: Ponsel Rp1,7 Jutaan, Usung Android 16 dan NFC
-
Auto Glowing! 5 Brightening Gel Cleanser Niacinamide Hempas Kulit Kusam
-
Bangun Auto Glowing! 5 Night Body Care untuk Kulit Cerah dan Lembap
-
Belajar Menikmati Hari Biasa, Menerima Bahwa Tidak Semua Hari Itu Istimewa
-
Stop Ubah Hobi Jadi Side Hustle! Beri Ruang untuk Hal yang Membahagiakan
Terkini
-
Siasat Career Cushioning: Solusi Pekerja Muda Hadapi Ancaman PHK
-
Decision To Leave: Ketika Rasa Curiga Perlahan Berubah Jadi Rasa Rindu
-
Prestasi dan Tuntutan Sosial: Ketika Kemenangan Berujung Tagihan Traktiran
-
RJ Mitte, Pemeran Walter White Jr. di 'Breaking Bad' Tutup Usia di 34 Tahun
-
Sinopsis Still a Family, Dracin Komedi Keluarga Fan Wei dan Jiang Xin