Sekar Anindyah Lamase | e. kusuma .n
Ilustrasi sibuk bekerja (Pexels/RDNE Stock project)
e. kusuma .n

Pernah merasa harus menyelesaikan pekerjaan lebih cepat karena sekarang sudah ada AI yang bisa menyelesaikan tugas dalam hitungan menit? Tidak heran, sebab AI bisa membantu kita mencari ide, menyusun presentasi, hingga membuat draf tulisan dengan lebih praktis.

Sekilas, perkembangan ini membuat hidup lebih mudah. Namun, ada pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: ketika pekerjaan bisa diselesaikan lebih cepat, apakah kita benar-benar mendapatkan lebih banyak waktu untuk beristirahat?

Jangan-jangan, waktu yang berhasil dihemat tadi justru diisi dengan pekerjaan baru. Target semakin banyak, respons dituntut semakin cepat, dan waktu penyelesaian deadline tugas pun menjadi semakin singkat.

Kita seolah tidak lagi memiliki alasan untuk bekerja lebih lambat karena teknologi sudah menyediakan kemudahan. Bagi generasi muda yang tumbuh bersama teknologi digital, situasi ini menjadi tantangan tersendiri.

Kita dituntut adaptif, produktif, dan mampu memanfaatkan AI agar tidak tertinggal. Namun, jika teknologi diciptakan untuk membantu manusia, mengapa kita justru merasa harus terus berlari hingga sering merasa kelelahan?

AI Membuat Segalanya Cepat, tapi Tekanan Tidak Berkurang

AI menawarkan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Pelajar menggunakannya untuk memahami materi, pekerja bisa menyusun ide lebih efisien, dan kreator konten terbantu dalam mengembangkan konsep.

Sayangnya, efisiensi juga berpotensi membentuk ekspektasi baru. Ketika sebuah tugas bisa diselesaikan lebih cepat, orang mungkin berharap tugas berikutnya juga selesai dalam waktu yang lebih singkat.

Akibatnya, produktivitas tidak lagi hanya diukur berdasar kualitas pekerjaan, tapi juga dari seberapa cepat seseorang menyelesaikannya. Ironisnya, kondisi ini akan membuat kita merasa bersalah saat memilih beristirahat.

Padahal, kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, kreativitas, pertimbangan etis, dan proses berpikir mendalam yang tidak bisa begitu saja dipercepat.

Gen Z dan Budaya Harus Selalu Produktif

Tekanan untuk terus produktif sebenarnya sudah muncul sebelum AI berkembang pesat. Media sosial dipenuhi konten tentang rutinitas pagi yang disiplin, pencapaian karier, pengembangan keterampilan, dan berbagai cara memaksimalkan waktu.

Kini, kehadiran AI menambah dimensi baru: kita bukan hanya dibandingkan dengan orang lain, tapi juga dengan kemampuan teknologi. Saat orang lain mampu menghasilkan lebih banyak dalam waktu singkat, kita mungkin merasa harus melakukan hal yang sama.

Padahal, manusia memiliki keterbatasan energi, konsentrasi, dan kapasitas emosional. Kita membutuhkan waktu untuk berpikir, belajar dari kesalahan, dan memulihkan tenaga. Bahkan saat menggunakan bantuan AI sekalipun.

Tidak setiap waktu kosong harus diisi dengan kursus daring. Tidak setiap ide harus segera diwujudkan menjadi proyek. Tidak setiap kesempatan harus diambil demi meningkatkan produktivitas. Bagi saya, skill mengenali batas diri justru penting di era teknologi yang bergerak cepat.

Jeda Bukan Musuh Produktivitas

Kita sering menganggap istirahat sebagai waktu yang terbuang. Padahal, jeda bisa membantu kita kembali berkonsentrasi, mengevaluasi pekerjaan, dan melihat persoalan dari sudut pandang berbeda.

Jeda bukan berarti menolak kemajuan. Justru, kita sedang belajar memanfaatkan kemajuan tanpa kehilangan kendali atas waktu dan kehidupan sendiri. Bisa dengan menggunakan AI secara bijak, memberi batas produktivitas, hingga ruang aktivitas tanpa target.

Selain itu, kita juga bisa mulai mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan hasil milik orang lain. Bukankah kecepatan orang lain tidak bisa dipaksakan menjadi ukuran mutlak untuk kemampuan kita?

Kapan Kita Boleh Melambat?

Menurut saya, jawabannya sederhana: kita boleh melambat ketika tubuh membutuhkan istirahat, pikiran perlu ruang untuk memproses sesuatu, atau kecepatan justru mengorbankan kualitas dan kesejahteraan.

Kita tidak harus menunggu kelelahan menumpuk sebelum memberi diri sendiri waktu untuk berhenti sejenak. AI memang bisa membantu manusia bekerja lebih cepat, tapi teknologi tidak bisa menggantikan kebutuhan manusia.

Kita tetap perlu ruang untuk beristirahat, membangun hubungan, dan menikmati kehidupan di luar pekerjaan. Ingat, kemajuan bukan hanya tentang seberapa banyak yang bisa diselesaikan, tapi juga bagaimana menggunakan waktu dengan lebih sadar.

Di era AI, kemampuan untuk melambat mungkin sama pentingnya dengan kemampuan untuk bergerak cepat. Sebab, teknologi semestinya memperluas pilihan hidup kita, bukan mengubah kehidupan menjadi perlombaan produktivitas tanpa garis akhir.