M. Reza Sulaiman | Syamsul Alam
Ilustrasi Keranjang Belanja Online Selalu Penuh tapi Tak Kunjung Checkout (Magnific.com)
Syamsul Alam

Pernahkah kamu membuka aplikasi belanja online hanya untuk melihat-lihat, tetapi tanpa sadar keranjang belanjamu sudah dipenuhi berbagai barang? Mulai dari pakaian, skincare, aksesori, hingga barang-barang lucu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Menariknya, meskipun sudah menghabiskan waktu memilih barang, kamu justru tidak kunjung menekan tombol checkout. Barang-barang tersebut akhirnya dibiarkan tersimpan selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan.

Kebiasaan ini ternyata bukan hanya dialami oleh orang yang sedang menghemat uang. Ada berbagai alasan mengapa seseorang senang memasukkan barang ke keranjang, tetapi akhirnya memilih untuk tidak membelinya.

Melansir Baymard Institute dalam laporan Cart Abandonment Rate Statistics, sebanyak 42 persen responden pembeli online di Amerika Serikat mengaku pernah meninggalkan keranjang belanja karena hanya melihat-lihat atau belum siap membeli.

Lantas, apa sebenarnya yang membuat keranjang belanja online sering penuh tetapi tidak kunjung dibayar? Berikut lima alasan yang mungkin pernah kamu alami.

1. Menjadikan Keranjang Belanja sebagai Wishlist

Tidak sedikit orang menggunakan keranjang belanja sebagai tempat menyimpan barang-barang yang ingin dibeli suatu saat nanti. Misalnya, ketika menemukan sepatu yang menarik, kamu langsung memasukkannya ke keranjang meskipun belum memiliki rencana untuk membeli dalam waktu dekat. Menurut penelitian Page Laubheimer yang dipublikasikan Nielsen Norman Group pada 2018, konsumen sering menggunakan keranjang belanja online sebagai tempat menyimpan produk yang ingin dipertimbangkan kembali.

Bagi sebagian pengguna, memasukkan barang ke keranjang terasa lebih praktis dibandingkan harus  mencari ulang produk yang pernah ditemukan. Akibatnya, keranjang yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan pembelian justru berubah menjadi tempat mengumpulkan daftar keinginan.

2. Masih Ingin Membandingkan Harga dan Kualitas

Pernah memasukkan beberapa produk serupa ke keranjang karena bingung menentukan pilihan? Kebiasaan ini cukup masuk akal, terutama ketika ada banyak penjual yang menawarkan produk dengan harga dan kualitas berbeda. Sebelum membeli, seseorang biasanya ingin memastikan bahwa produk yang dipilih sesuai dengan kebutuhan dan anggaran.

Melansir penelitian Angeline G. Close dan Monika Kukar-Kinney dalam Journal of Business Research pada 2010, salah satu motivasi penggunaan keranjang belanja online adalah mencari informasi produk dan mengatur pilihan belanja. Karena itulah, sebagian konsumen memasukkan beberapa barang ke keranjang untuk dibandingkan terlebih dahulu.

Namun, semakin banyak pilihan yang tersedia, proses menentukan barang yang paling sesuai juga bisa membutuhkan waktu lebih lama. Akhirnya, niat membeli pun tertunda karena belum menemukan pilihan yang benar-benar cocok.

3. Sekadar Mengisi Waktu Luang dan Mencari Hiburan

Membuka aplikasi belanja online tidak selalu berarti seseorang sedang membutuhkan barang. Terkadang, aktivitas tersebut dilakukan hanya untuk menghilangkan rasa bosan setelah menjalani rutinitas sehari-hari. Melihat produk terbaru, mencari barang unik, hingga membaca ulasan pembeli bisa menjadi kegiatan yang cukup menghibur.

Penelitian Close dan Kukar-Kinney juga membahas unsur hiburan sebagai salah satu motivasi konsumen dalam menggunakan keranjang belanja online. Bayangkan ketika kamu sedang bersantai sambil membuka marketplace. Awalnya hanya ingin melihat produk yang sedang populer, tetapi lama-kelamaan beberapa barang menarik mulai masuk ke keranjang.

Setelah menutup aplikasi, keinginan untuk membeli barang tersebut ternyata tidak sebesar saat pertama kali melihatnya. Hal ini menunjukkan bahwa ketertarikan pada suatu produk tidak selalu berakhir dengan keputusan untuk membeli.

4. Total Pembayaran Ternyata Lebih Mahal dari Perkiraan

Salah satu momen yang sering membuat seseorang berpikir ulang adalah ketika melihat total pembayaran. Saat memilih barang, harga yang ditampilkan mungkin terlihat cukup terjangkau. Namun, setelah masuk ke halaman checkout, muncul berbagai biaya tambahan. Mulai dari ongkos kirim, biaya layanan, hingga biaya lain yang membuat total belanja menjadi lebih besar dari perkiraan.

Menurut Baymard Institute, tingginya biaya tambahan merupakan salah satu penyebab konsumen meninggalkan proses pembelian online. Misalnya, seseorang ingin membeli barang seharga Rp30.000. Namun, setelah ditambah biaya pengiriman dan layanan, totalnya menjadi Rp50.000.

Perbedaan tersebut mungkin membuat pembeli mempertimbangkan apakah barang tersebut masih layak dibeli. Tidak heran jika sebagian orang akhirnya memilih menunda pembelian sambil mencari toko lain yang menawarkan biaya lebih terjangkau.

5. Proses Checkout Terasa Rumit atau Kurang Meyakinkan

Alasan terakhir yang membuat seseorang membatalkan pembelian adalah proses checkout yang kurang nyaman. Tidak semua aplikasi atau situs belanja memberikan pengalaman transaksi yang sederhana. Ada kalanya pengguna diminta membuat akun baru, mengisi terlalu banyak informasi, atau melewati beberapa tahapan sebelum pembayaran berhasil dilakukan.

Baymard Institute juga mengidentifikasi proses checkout yang panjang, kewajiban membuat akun, serta kekhawatiran terhadap keamanan informasi pembayaran sebagai alasan konsumen meninggalkan keranjang. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan berbelanja tidak hanya dipengaruhi oleh harga atau kualitas produk, tetapi juga oleh rasa nyaman dan percaya terhadap platform yang digunakan.

Ketika proses pembayaran terasa terlalu merepotkan atau menimbulkan keraguan, sebagian konsumen memilih membatalkan transaksi. Apalagi jika barang yang ingin dibeli bukan termasuk kebutuhan mendesak, keputusan untuk meninggalkan keranjang mungkin terasa lebih mudah.

Keranjang Belanja Penuh Bukan Berarti Harus Dibeli Semua

Memiliki banyak barang di keranjang belanja online sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Kebiasaan tersebut bisa menjadi bagian dari proses mencari informasi, membandingkan harga, atau mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli. Namun, ada baiknya kamu mulai membedakan barang yang benar-benar diperlukan dengan produk yang hanya menarik perhatian sesaat.

Manfaatkan fitur wishlist untuk menyimpan barang yang belum ingin dibeli. Selain itu, periksa kembali total pembayaran agar pengeluaran tetap sesuai dengan anggaran. Pada akhirnya, tidak semua barang yang sudah masuk keranjang harus berakhir di meja pembayaran.

Jadi, kalau keranjang belanjamu penuh tetapi belum ada satu pun barang yang di-checkout, mungkin kamu bukan sekadar sedang menghemat uang. Bisa jadi, kamu sedang menikmati proses memilih dan mempertimbangkan barang sebelum mengambil keputusan.