Di tengah kelesuan pelukis kaca Indonesia, Iskandar, pelukis kaca dan wayang asal Indonesia diundang oleh lembaga nirlaba, lintas budaya Asia Tenggara "SEA Junction" yang berpusat di Bangkok, Thailand. Undangan berkaitan dengan pameran tunggal dan workshop lukis kaca di Galery SEA Junction, Bangkok Arts and Culture Center, 14 - 22 April lalu.
Setiap hari selama pameran berlangsung, Iskandar memberikan workshop lukis kaca dan Wayang Uwuh, wayang yang terbuat dari sampah botol mineral ke seluruh pengunjung pameran, baik masyarakat lokal Bangkok maupun pengunjung berbagai belahan dunia.
Iskandar menjelaskan, lukis kaca Indonesia pada jaman penjajahan Belanda, banyak dinikmati dan dimiliki para priyayi dan bangsawan kraton, petinggi Belanda bahkan orang orang Arab dan Cina. Lukis kaca Indonesia populer dan banyak digemari pada era abad 19 dan 20, sehingga lukis kaca pada saat itu sudah menjadi bagian dari Nusantara.
Sedang lukis kaca merupakan percampuran atau dipengaruhi gaya lukis Jawa, Cina, Muslim dan Eropa. Sedangkan pusat lukis kaca dahulu terdapat di Jogjakarta, Cirebon, Buleleng Bali, Tulung Agung.
Kondisi lukis kaca saat ini memprihatinkan. "Kolektor lebih suka membeli lukisan yang berkiblat ke Barat, sehingga pelukis kaca Indonesia beralih profesi karena tidak ada yang membeli lukis kaca," kata dia.
Pada pameran tunggal lukis kaca saya di Bangkok lalu, masih cerita Iskandar, Steven dari New York Amerika datang jauh jauh hanya membeli lukis kaca. Alasannya ternyata lukis kaca terlihat artistik dan etnik. Demikian juga Yanin warga negara Thailand membeli lukisan kaca, karena lukis kaca lebih seksi serta komposisi warna dan detail lukisannya bagus.
Apa daya tarik melukis kaca? Menurut Iskandar, sifat kaca yang lincin sehingga cat kadang lari. Bahkan cara melukis juga unik permukaan yang dilukis tapi membayangkan hasilnya di balik permukaan. sehingga kaca sering di balik untuk melihat hasil lukisan. " Ini pengalaman yang menakjubkan dan menarik," kata salah seorang guru besar Universitas terpandang di Bangkok yaitu Prof Mingsan.
Tag
Baca Juga
-
4 Low pH Cleanser Berbahan Probiotic Buat Perkuat Skin Barrier Kulit Kering
-
Gen Z dan Conscious Unbossing: Saat Karier Tidak Harus Naik secara Vertikal
-
Ilusi Kesantunan Pejabat: Di Balik Permintaan Maaf Wapres soal MBG
-
Kerasnya Aspal dan Tugas Domestik: Membedah Beban Ganda Ojol Perempuan
-
Side Hustle Kini Jadi Tren: Solusi Finansial atau Malah Bikin Kewalahan?
News
-
Indonesia Comic Con Rayakan Satu Dekade, Digelar 34 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran
-
Belajar Menjaga Sungai dari Tradisi Lubuk Larangan Malako Kociak
-
Efek Domino Kenaikan Avtur: Ancaman Nyata Mahalnya Tiket Pesawat bagi Pariwisata
-
Humor yang Membunuh Sains: Menyoal Sentilan Prabowo dan Narasi Anti-Intelektual
-
World Cleanup Day 2026, Trash Ranger Menggerakkan Anak Muda Peduli Sampah
Terkini
-
4 Low pH Cleanser Berbahan Probiotic Buat Perkuat Skin Barrier Kulit Kering
-
Gen Z dan Conscious Unbossing: Saat Karier Tidak Harus Naik secara Vertikal
-
Ilusi Kesantunan Pejabat: Di Balik Permintaan Maaf Wapres soal MBG
-
Kerasnya Aspal dan Tugas Domestik: Membedah Beban Ganda Ojol Perempuan
-
Side Hustle Kini Jadi Tren: Solusi Finansial atau Malah Bikin Kewalahan?