Selama beberapa tahun terakhir, warga Depok mungkin merasa ada yang hilang dari denyut nadi kotanya. Di tengah padatnya aktivitas sebagai kota penyangga ibu kota, ruang kolektif tempat anak muda bisa berkumpul, bernyanyi bersama, dan melepaskan penat perlahan mulai meredup. Kerinduan akan festival musik yang seru, hangat, dan dekat kini akhirnya menemukan pelabuhannya kembali.
Depok sedang bersiap untuk merayakan kembalinya euforia tersebut lewat The Popstival Vol. 2 – Together We Loud. Dijadwalkan berlangsung pada 4 Juli 2026, festival ini memilih Area Hall Budi Utomo Hotel Bumi Wiyata sebagai jantung pertunjukannya. Pemilihan lokasi ini menjadi simbol penting bahwa festival musik kini kembali dekat dengan muda-mudi, tidak eksklusif, dan mudah diakses oleh siapa saja.
Menyatukan Energi Kolektif di Panggung Jantung Kota
The Popstival bukan hadir tanpa pondasi yang kuat. Sebelumnya, Vol. 1 yang bertajuk Your Pop. Your Fest. telah sukses mencuri perhatian pada 30 November 2025. Keberhasilan tersebut menjadi bukti nyata bahwa Depok masih sangat haus akan pengalaman musik kolektif. Kali ini, Vol. 2 hadir dengan skala yang lebih besar, konsep matang, dan pengalaman yang lebih imersif bagi para penontonnya.
Sederet nama besar yang tengah menjadi sorotan di skena musik Indonesia dipastikan akan membakar panggung, mulai dari Perunggu, Kelompok Penerbang Roket, hingga The Jeblogs, Alkateri, dan Gledeg. Tak hanya bintang nasional, deretan talenta lokal juga diberi ruang untuk unjuk gigi, mempertegas identitas bahwa festival ini tumbuh dari dan untuk komunitas itu sendiri.
Semangat ini tertuang dalam narasi Together We Loud. Ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah pernyataan bahwa gerakan kreatif anak muda di Depok akan terasa jauh lebih besar ketika dilakukan secara bersama-sama dibandingkan bergerak sendirian.
Menghidupkan Ruang Ekspresi yang Sempat Hilang
Lahirnya festival ini didasari oleh kebutuhan nyata akan hadirnya ruang bersama di kota tersebut. Felani Galih Prabawa, selaku Festival Director, menjelaskan bahwa inti dari acara ini adalah menciptakan koneksi antarmanusia melalui musik.
"Sudah cukup lama Depok tidak memiliki festival yang benar-benar bisa menjadi ruang berkumpul. Bukan hanya menonton, tapi merasakan energi bersama. The Popstival hadir untuk menghidupkan kembali momen itu, di mana musik menjadi penghubung, dan semua orang bisa menjadi bagian dari pengalaman yang sama," ungkap Felani.
Ia juga menambahkan bahwa kesuksesan edisi perdana menjadi pemantik semangat untuk memberikan pengalaman yang lebih berkesan pada tahun 2026 ini. "Vol. 1 menjadi bukti bahwa Depok punya antusiasme yang besar. Di Vol. 2 ini, kami ingin membawa pengalaman yang lebih besar, lebih seru, dan lebih berkesan. Together We Loud jadi fondasi kami untuk menciptakan festival yang benar-benar hidup dari energi kolektif," tutupnya.
Pada akhirnya, The Popstival Vol. 2 adalah sebuah perayaan tentang pertemuan dan ribuan suara yang menyatu di satu tempat. Bagi anak muda Depok, 4 Juli mendatang bukan hanya soal menonton band favorit, melainkan momen untuk kembali merasakan hangatnya euforia festival di rumah sendiri.
Baca Juga
-
Buku Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia: Cinta, Kemiskinan, dan Kepedihan
-
Pengalaman Horor Kang Pentol, Bertemu Dua Perempuan Misterius dekat Makam
-
Senja yang Meminjam Fajar
-
Bedah Makna Lagu 'Stuck' ENHYPEN: Kisah Cinta Egois Sang Vampir yang Berujung Bahaya
-
Ngeri! Puncak Bonus Demografi 2030 Bisa Jadi Bencana Lingkungan Kalau Kita Terus Abai
Artikel Terkait
-
KPK Siap Hadapi Praperadilan Eks Wakil Ketua PN Depok di Kasus Suap Lahan
-
Bela-belain dari Bandung, Penonton Hammersonic Ini Todong Ravel Entertainment Bawa Legenda Punk
-
Bawa Klub Presiden Prabowo Promosi, Widodo Cahyono Putro Justru Kecewa, Ini Alasannya
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Pengeroyok Anggota TNI di Stasiun Depok Ternyata Mabuk, Satu Pelaku Masih Buron!
News
-
Hidup Jadi Terasa Seperti Konten: Personal Branding atau Personal Pressure?
-
Euforia Harvest Moon dan Ironi Warga Kota Besar yang Dijajah 'Polusi Cahaya'
-
Diminta OTP dan Pasang APK Saat Melamar Kerja? Fix, Itu Loker Palsu!
-
Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi
-
Make Munir Live Again: Merawat Ingatan Kasus HAM di Aksi Kamisan Jogja
Terkini
-
Buku Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia: Cinta, Kemiskinan, dan Kepedihan
-
Pengalaman Horor Kang Pentol, Bertemu Dua Perempuan Misterius dekat Makam
-
Senja yang Meminjam Fajar
-
Bedah Makna Lagu 'Stuck' ENHYPEN: Kisah Cinta Egois Sang Vampir yang Berujung Bahaya
-
Ngeri! Puncak Bonus Demografi 2030 Bisa Jadi Bencana Lingkungan Kalau Kita Terus Abai