Empat kelompok bantuan internasional non pemerintah seperti Save the Children, Komite Penyelamatan Internasional (the International Rescue Committee), Dewan Pengungsi Norwegia (the Norwegian Refugee Council) and CARE, pada hari Minggu (25/12) memutuskan menghentikan kegiatan mereka di Afghanistan, pasca pemerintah Taliban melarang perempuan untuk bekerja di organisasi non-pemerintah.
Pelarangan itu diketahui terjadi sejak hari Sabtu ketika Menteri Ekonomi Qari Din Mohammed Hanif yang mengeluarkan aturan tersebut juga menambahkan bahwa organisasi yang tidak mematuhi aturan tersebut akan dicabut izin operasinya di wilayah Afghanistan.
Larangan perempuan bekerja di organisasi non-pemerintah itu kemudian mendapat sorotan banyak pihak, pasalnya Afghanistan saat ini banyak mendapat bantuan dari organisasi yang menyediakan layanan kesehatan, pendidikan, hingga perlindungan kemanusiaan.
Sayangnya organisasi tersebut harus menghentikan kegiatannya, sebab tidak adanya perempuan di dalam unit pelayanan mereka, membuat efektivitas jangkauan terhadap anak-anak hingga perempuan menjadi sulit.
BACA JUGA: Terungkap Alasan Amanda Manopo Putus dengan Billy Syahputra, Bukan Karena Jadi Orang Ketiga
Salah satu kendala larangan itu diungkap oleh Kepala organisasi Norwegian Refugee Council yakni Neil Turner yang menilai begitu pentingnya posisi anggota perempuan dalam kegiatan mereka.
"Kami telah mematuhi semua norma budaya dan kami tidak dapat bekerja tanpa staf perempuan kami yang berdedikasi, yang penting bagi kami untuk mengakses perempuan yang sangat membutuhkan bantuan," kata Neil Turner seperti dikutip penulis dari AP News pada Senin (26/12/2022).
Sebagai gambaran, Neil Turner bahkan menyebut organisasinya memiliki 468 staf perempuan yang bekerja di negara Afghanistan.
Sementara organisasi lainnya seperti Komite Penyelamatan Internasional yang juga kecewa atas keputusan pemerintah Taliban, mengungkapkan bahwa organisasinya memiliki 3.000 staf wanita yang berjuang di Afghanistan.
Aturan ini diketahui juga sempat mendapat respons dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang menilai pentingnya peran LSM di Afghanistan.
BACA JUGA: 5 Daftar Artis Indonesia yang Masuk Jajaran Perempuan Tercantik di Dunia, Ada Ayu Ting Ting
"Perserikatan Bangsa-Bangsa dan mitranya, termasuk organisasi non-pemerintah nasional dan internasional, membantu lebih dari 28 juta warga Afghanistan yang bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup," kata Antonio Guterres seperti dikutip dari NPR.
Selain PBB, Amerika Serikat melalui Menteri Luar Negerinya Antony Blinken juga menyatakan betapa pentingnya peran wanita dalam organisasi kemanusiaan di seluruh dunia.
"Wanita adalah pusat operasi kemanusiaan di seluruh dunia," kata Antony Blinken.
"Keputusan ini bisa menghancurkan rakyat Afghanistan," tambahnya, masih dikutip dari NPR.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Dukungan untuk Palestina di Prancis Disambut Gas Air Mata
-
Gatot Nurmantyo Anggap Duet Anies Baswedan dan Cak Imin Positif dan Aman
-
Tak Sangkal, Lady Nayoan Akui Rendy Kjaernett Sosok Bapak Sayang Anak
-
Tampakkan Batang Hidung Depan Publik, Rendy Kjaernett Ngaku Ingin Fokus Benahi Masalah Internal Keluarga
-
Hore! Ridwan Kamil Sebut Kereta Cepat Jakarta Bandung Bakal Gratis 3 Bulan
Artikel Terkait
-
Perempuan dan Tren Aktif Olahraga: Gaya Hidup Sehat atau Tekanan Body Goals?
-
Jaga Hak Perempuan, DPR Didesak Segera Sahkan Wahidah Suaib Jadi Anggota PAW Ombudsman RI
-
Review Lelaki-Lelaki Tanpa Perempuan: Tujuh Kisah Tentang Sepi dan Kehilangan
-
Perempuan dan Budaya Konsumtif: Belanja buat Healing atau Cuma Pelarian?
-
Shepreneur Learning Series bantu wirausaha perempuan tingkatkan daya saing usaha
News
-
Jinakkan El Nino Pakai Garam Laut: Ide Brilian atau Malapetaka Baru?
-
Cerita dari Taman Puring: Begini Serunya Mengikuti Latihan Komunitas Parkour Jakarta
-
Mengenal Kimpul, Umbi Lokal Pengganti Nasi yang Sedang Viral Jadi Seblak hingga Tteokbokki
-
Baitul Arqam PWM Papua Barat Tuntas Digelar, Cetak Kader Kokoh Berlandaskan Islam Berkemajuan
-
Mengenal Komunitas Parkour Jakarta: Mengubah Stigma Olahraga Ekstrem Jadi Seni Disiplin Tubuh
Terkini
-
Fenomena Kerja "Serabutan" di Era Modern: Cari Fleksibilitas atau Terpaksa?
-
Bukan Sekadar Visual, Ini Alasan Drama Korea Jadi Terapi 'Healing' Paling Favorit
-
Di Balik Ilusi Media Sosial dan Ekspektasi: Belajar Hadir dan Menerima Jalur Hidup yang Tak Linear
-
Ketika Perjuangan Terasa Disederhanakan dalam Kalimat "Enak, ya, Jadi Kamu"
-
Menemukan Cinta di Jalur Pendakian