Bagi perempuan di Indonesia, memutuskan untuk terjun bermain sepak bola atau futsal bukan sekadar soal kepiawaian menggiring bola. Ada tembok yang begitu tinggi dan sangat membatasi. Itu adalah stereotip gender yang harus mereka tabrak setiap hari.
Dalam diskusi "Breaking Barriers, Building Future" di Kedutaan Besar Inggris pekan lalu, terungkap bahwa musuh terbesar atlet perempuan berupa label dan asumsi publik yang mengesampingkan dan sering kali meremehkan kemampuan mereka.
Label Fisik yang Mengerdilkan Prestasi
Salah satu tantangan paling menjengkelkan adalah bagaimana publik dan media sering kali lebih fokus pada penampilan fisik daripada kompetensi teknis. Women Program Manager and Head Coach Inspire Indonesia, Sicilia Setiawan menceritakan pengalaman pahitnya saat berhasil membawa tim memenangkan level nasional.
"Waktu saya diwawancara, saya seneng banget dong, pencapaian kan? Ternyata waktu keluar, headlinenya 'Pelatih Cantik'. Sedih banget saya, jujur banget sedih," ungkapnya.
Label seperti ini bukan sekadar pujian kosong, melainkan juga bentuk pengerdilan yang seolah mengatakan bahwa prestasi seorang perempuan tidak cukup menarik tanpa embel-embel fisik.
Body Shaming dan Tekanan Psikologis
Di lapangan, gangguan ini berubah menjadi perundungan atau body shaming. Pemain Timnas Futsal Wanita Indonesia, Novita Murni Piranti menyoroti bagaimana penonton sering kali menyerang bentuk tubuh atlet daripada mengapresiasi skill yang mereka miliki.
"Laki-laki itu lebih ngeliat ‘dengan bentuk tubuh seperti itu kayaknya enggak pantas...’ Saya di sini mau main futsal loh, tapi kenapa yang disorot itu bentuk tubuh, bukan skill saya," ujar Novita.
Tekanan ini semakin berat dengan adanya media sosial. Komentar negatif yang masif bisa menjatuhkan mental atlet sebelum bertanding. Novita menyarankan agar para atlet lebih selektif menggunakan media sosial selama masa persiapan pertandingan untuk menjaga kesehatan psikis mereka.
Stigma Sepak Bola Adalah "Olahraga Laki-Laki"
Di daerah, tantangannya bahkan lebih personal. Budaya lokal sering kali menganggap sepak bola adalah hal yang tabu bagi perempuan. Novita menceritakan masa kecilnya, di mana ia harus bermain bola secara sembunyi-sembunyi agar tidak dimarahi orang tua. Namun, ia membuktikan bahwa prestasi membuatnya menjadi sesuatu yang diakui.
"Ketika saya bisa membuktikan dengan prestasi, akhirnya rasa percaya itu muncul sedikit-sedikit. Akhirnya orang tua, orang-orang terdekat punya support tersendiri dan jadi kekuatan tersendiri untuk saya," tambahnya.
Membangun Ruang yang Lebih Ramah Untuk Perempuan
Lalu, bagaimana caranya membuat olahraga yang didominasi laki-laki ini menjadi lebih inklusif? Diskusi ini merumuskan beberapa langkah konkret:
1. Pendidikan Sejak Dini
Sicilia mengusulkan agar kesetaraan gender bisa masuk ke dalam kurikulum sekolah.
"Kalau kita bisa masuk ke sekolah dan memasukkan kurikulum tentang kekerasan gender atau hak perempuan, itu sangat amat powerful," ujarnya.
2. Keamanan dan Perlindungan
Komisioner Komnas Perempuan, RR. Sri Agustini menekankan perlunya mekanisme pelaporan yang aman untuk kasus pelecehan seksual di ruang olahraga agar atlet tidak takut melapor.
3. Ketegasan terhadap Pelaku Bullying
Novita berpendapat bahwa kesadaran saja tidak cukup jika tidak ada hukuman bagi pelaku perundungan agar tidak terjadi fenomena "ikut-ikutan".
4. Menciptakan Role Model
Freddie Brunt dari Kedutaan Besar Inggris menekankan pentingnya menciptakan panutan agar perempuan-perempuan muda melihat bahwa mereka punya masa depan yang nyata pada olahraga ini.
Mengubah budaya olahraga tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan keteguhan hati dari para pelakunya untuk terus menjadi teladan. Sebagaimana pesan dari Sicilia Setiawan yang mengatakan, "Kita harus terus memperhatikan mereka, di aspek hidup mereka juga. Kita juga harus jadi role model. Dari kita jadi role model, mereka akan lihat dan mereka akan copy. Jadi harus dari diri sendiri kita yang mencoba."
Baca Juga
-
Lebih dari Harmoni Vokal: Bagaimana 'Shkidooshki' Menjadi Mata dan Jiwa Visual Konser Sal Priadi?
-
Misi PSDC GKI Gejayan: Ketika Notasi Lagu dan Coretan Partitur Lebih Seram dari Soal UTS
-
Bye-bye Velocity! Mengapa Tren "Natural" D'Masiv Gantikan "Dung Tak Dung" di Momen Ramadan 2026
-
Tutorial S3 Marketing Jalur Asbun: Cara Aldi Taher Jualan Burger Sampe Masuk Trending Topic
-
Flower Power 2026: Upgrade Dress Motif Bunga Lamamu Biar Lebih Chic dan Dewasa!
Artikel Terkait
-
Gandeng Kelme, Ini Dia Jersey Baru Timnas Indonesia
-
Tutorial Melawan Sistem ala Rusti Dian: Biar Suara Perempuan Gak Cuma Jadi Background
-
Klub Ada, Kompetisi Tiada: Sepak Bola Perempuan Indonesia Ada Masa Depannya Gak?
-
UBL Dukung Atlet Berprestasi Lewat Beasiswa, Ada Penggawa Timnas Futsal Indonesia
-
Hasil Undian Piala AFF Futsal 2026: Indonesia Masuk Grup B, Bareng Australia hingga Malaysia
Hobi
-
4 Drama Menarik di Formula 1 GP China 2026: Menyala Mercedes!
-
Jadwal MotoGP Brasil 2026: Diogo Moreira Balapan di Kampung Halaman
-
Blak-Blakan! Valentino Rossi Ogah Naik Motor MotoGP Lagi
-
Jelang F1 GP China 2026: 4 Tim Ini Berpeluang Raih Kemenangan
-
4 Juara Dunia F1 Belum Cukup, Max Verstappen Incar Nurburgring 24 Jam
Terkini
-
Golden Menang Oscar, Pidato Tim Kreator Terpotong Picu Dugaan Diskriminasi
-
Rumah Kinclong Jelang Lebaran: Tradisi Tahunan yang Tak Pernah Absen
-
5 Drama dan Film Misteri Yoo Yeon Seok Terbaik yang Wajib Masuk Watchlist
-
Tanpa Perlu Makeup Tebal! 4 Tone Up Sunscreen SPF 50 untuk Kulit Cerah Natural
-
Aktivis Kontras Diserang, Bukti Nyata Kemunduran Demokrasi?