Muhaimin Iskandar alias Cak Imin turut menanggapi terakit harga beras naik tetapi tidak menguntungkan petani. Hal itu disampaikan Cak Imin melalui cuitan di akun X pribadinya pada Jumat (1/3/2024).
Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01 ini menyatakan bahwa kenaikan harga beras seharusnya bisa menguntungkan petani. Namun, kenyataannya petani justru tak mendapat keuntungan itu.
BACA JUGA: Sebut Mudah Lawan Ridwan Kamil di Pilgub DKI, Ahmad Sahroni: Kecuali Anak Presiden Itu Sulit
Menurutnya, ada banyak hal yang harus dibenahi segera.
"Mestinya, harga beras naik kan yang untung petani, tapi pada kenyataanya kok tidak, pasti ada banyak hal yang harus dibenahi segera.
#salamperubahan," cuit Cak Imin.
Pernyataan Cak Imin ini ternyata banyak disetujui oleh warganet.
"Karena petani hanya dijadikan bahan dagangan saat pemilu, dan dijadikan tameng ketika harga-harga naik. Kalau pemerintah serius membenahi urusan pertanian, gak bakal kejadian pupuk langka dan mahal." komentar @Tv***ri.
"Iyaa cak bener, yang untung petani, tapi petani luar negri," ujar @mas***_.
"Kan berasnya impor, wajar dong cak kalau petani gak ikut untung meskipun beras naik (emoji tertawa)" tulis @rajin***ger_.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa melambungnya harga beras karena perubahan iklim yang membuat sejumlah wilayah harus gagal panen.
"Kenapa naik? Karena ada yang namanya perubahan iklim, ada yang namanya perubahan cuaca sehingga gagal panen, produksi berkurang sehingga harganya jadi naik," kata Jokowi saat memberikan bantuan beras di Gedung Kawasan Pertanian Terpadu, Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (19/2/2024).
Kata presiden, bansos beras yang digelontorkan pemerintah dapat meringankan beban masyarakat kecil di tengah kenaikan harga.
"Pemerintah kita membantu bantuan beras ini agar meringankan ibu-ibu dan bapak-bapak semuanya karena harganya naik tadi," kata Jokowi.
Cek berita dan artikel yang lain di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Pendidikan Tanpa SPP, Tapi Tidak Tanpa Beban: Membaca Pelanggaran Hak Anak
-
Di Atas Dendam, Ada Martabat: Mengenal Sisi Intim Buya Hamka Lewat Memoar Anak
-
Narasi Politik yang Setengah Jadi di Balik Kampanye Sekolah Gratis
-
Bukan Gratis, tapi Sulit: Jeritan Pendidikan di Namorambe
-
Privilege Pendidikan: Les Privat dan Wajah Ketimpangan yang Kita Abaikan
Artikel Terkait
News
-
UI Green Marathon 2026: Saleh Husin Siap Taklukkan 42 KM demi Masa Depan Mahasiswa
-
Avec le Temps: Harmoni Puitis Prancis dan Arab di Jantung Yogyakarta
-
Penyuluh Agama Islam Perkuat Kolaborasi, Tebar Toleransi dari Karanganyar
-
Mimpi yang Terparkir: Saat Ekonomi Menjadi Rem Bagi Ambisi Generasi Muda
-
Ichigo Ichie: Seni Menikmati Hidup di Era Distraksi Digital
Terkini
-
Pendidikan Tanpa SPP, Tapi Tidak Tanpa Beban: Membaca Pelanggaran Hak Anak
-
Di Atas Dendam, Ada Martabat: Mengenal Sisi Intim Buya Hamka Lewat Memoar Anak
-
Narasi Politik yang Setengah Jadi di Balik Kampanye Sekolah Gratis
-
Bukan Gratis, tapi Sulit: Jeritan Pendidikan di Namorambe
-
Privilege Pendidikan: Les Privat dan Wajah Ketimpangan yang Kita Abaikan