Peta politik Amerika Latin berubah total hanya dalam hitungan hari. Hal ini menjadi momen bersejarah sekaligus kontroversial bagi dunia internasional menyusul runtuhnya rezim Nicolás Maduro di Venezuela. Operasi militer Amerika Serikat yang berlangsung cepat akhirnya berujung pada penangkapan sang pemimpin sosialis tersebut, menandai berakhirnya dominasi Chavismo yang telah berkuasa selama lebih dari dua dekade.
Situasi di Caracas, ibu kota Venezuela, dilaporkan mulai beralih dari fase pertempuran ke fase transisi. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam pernyataan terbarunya menegaskan bahwa Washington kini memegang kendali penuh atas situasi keamanan dan pemerintahan sementara di negara kaya minyak tersebut. Pernyataan ini sekaligus menepis keraguan internasional mengenai siapa yang memegang tongkat komando pascagulingnya Maduro.
Transisi di Bawah Bayang-Bayang Washington
Berbeda dengan upaya kudeta yang gagal pada tahun-tahun sebelumnya, invasi 2026 ini terbukti efektif melumpuhkan struktur kekuasaan lama. Nicolás Maduro, yang selama ini dikenal licin dari jerat hukum internasional, kini resmi menghadapi dakwaan berat. Laporan menyebutkan bahwa pemerintahan baru yang didukung AS sedang dibentuk secara maraton untuk mengisi kekosongan kekuasaan dan mencegah perang saudara.
Trump, dengan gaya diplomasinya yang blak-blakan, menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk "mengembalikan Venezuela kepada rakyatnya". Namun, banyak pengamat geopolitik melihat langkah ini sebagai upaya strategis AS untuk mengamankan cadangan minyak terbesar di dunia yang selama ini "terkunci" oleh sanksi dan mismanajemen.
Foto-foto penahanan Maduro yang beredar luas juga menjadi simbol runtuhnya benteng anti-Amerika di kawasan tersebut. Ia kini menghadapi serangkaian dakwaan, mulai dari pelanggaran HAM berat hingga narkoterorisme, yang akan disidangkan di bawah pengawasan ketat otoritas baru.
Dunia kini menahan napas. Jatuhnya Venezuela ke tangan pengaruh Amerika Serikat diprediksi akan mengubah drastis harga minyak dunia dan peta aliansi di Amerika Selatan. Bagi negara-negara berkembang, peristiwa ini menjadi pengingat keras tentang betapa rapuhnya kedaulatan di tengah percaturan kekuatan adidaya.
Pertanyaan besarnya sekarang bukanlah tentang nasib Maduro yang tampaknya sudah tamat, melainkan bagaimana wajah baru Venezuela di bawah kendali langsung dari Gedung Putih? Apakah ini awal dari kemakmuran baru, atau justru babak baru ketidakstabilan di wilayah tropis tersebut?
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Berhasil Tumbangkan Nicolas Maduro, Donald Trump Ambil Alih Minyak Venezuela
-
3 Pelajaran Berharga dari Venezuela Agar Sektor Energi Indonesia Tak Mudah Didikte Global
-
DPR Kritik Keras Penangkapan Presiden Venezuela oleh AS: Ancaman Nyata Kedaulatan Dunia
-
Harga Minyak Dunia Mulai Mendidih Akibat Ulah Trump Kudeta Venezuela
-
Korea Utara Sebut Serangan di Venezuela Jadi Contoh Sifat Jahat dan Biadab Amerika Serikat
News
-
Menguji Keseriusan Indonesia Soal Keadilan Ekologis Pasca COP30 Brasil
-
Gotong Royong Membangun Kembali Sumatra dan Aceh yang Diterjang Banjir
-
Menuju Pulihnya Jalur Lembah Anai: Upaya Kelancaran Logistik Ranah Minang
-
Netflix Akuisisi Warner Bros., Industri Bioskop Khawatir Jendela Tayang Dipangkas
-
Aceh dan Bencana: Ketangguhan di Tanah Serambi Mekkah
Terkini
-
Daily Look Tanpa Drama, 4 Outfit Sat Set ala Gaeul IVE yang Stylish
-
Cuci Muka Sekalian Skincare? 5 Facial Wash dengan Serum Ini Wajib Dicoba
-
Alasan Emosional yang Bikin Tiap Zodiak Tergoda Buat Selingkuh: Aries Impulsif, Pisces Mudah Baper?
-
Kedatangan John Herdman dan Bludak Suporter Setia yang Hanya Bisa Dipancing Bukti Nyata di Lapangan
-
Sinopsis Papa Zola The Movie, Film Animasi Keluarga tentang Ayah luar biasa