M. Reza Sulaiman | rizki Doel
Pemulihan infrastruktur Aceh Tamiang (Sumber : Suara.com)
rizki Doel

Berbicara tentang Aceh, ingatan saya kembali ke akhir tahun 2014. Waktu itu, tepat pada bulan Desember 2014, saya datang ke Aceh Tamiang untuk menjadi relawan banjir. Ya, banjir Aceh ini sepertinya terulang kembali. Namun, pada 2025 ini, nampaknya banjir Aceh jauh lebih besar dibandingkan tahun 2014.

Pada tahun 2013–2015, saya sendiri sempat bertugas di Sumatra Utara. Sudah tidak terhitung berapa kali saya bolak-balik ke Aceh, mulai dari menjadi relawan bencana sampai sekadar jalan-jalan. Aceh memiliki banyak destinasi wisata yang indah dan kuliner yang lezat. Coba bayangkan kelezatan mi aceh sampai sate matang. Kopi aceh juga sangat nikmat; bagi penikmat kopi, ini menjadi salah satu varietas yang paling berkarakter.

Saya masih mengingat dengan jelas bagaimana kondisi Aceh setelah banjir besar melanda pada November 2025. Air yang surut meninggalkan luka di mana-mana: rumah rusak, jalan terputus, sawah berlumpur, dan wajah-wajah lelah yang mencoba bertahan. Saat itu, saya sempat berpikir bahwa proses pemulihan akan berjalan sangat lama. Namun, waktu membuktikan bahwa harapan bisa tumbuh bahkan dari tanah yang paling porak-poranda.

Pembangunan Aceh pascabencana yang dilakukan oleh Direktorat Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menjadi titik balik yang saya rasakan secara langsung. Tidak hanya sekadar membangun kembali apa yang rusak, tetapi juga menghadirkan perencanaan yang lebih matang dan berorientasi ke masa depan.

Contohnya dalam penanganan jembatan Krueng Tingkeum yang mengalami kerusakan, Kementerian PU tidak hanya membangun jembatan panel darurat, tetapi juga menyiapkan jalur alternatif guna menjaga mobilitas masyarakat.

Pengerjaan dilakukan pada malam hari. Seluruh panel jembatan darurat diselesaikan dan dilakukan uji beban sekitar 38 ton untuk memastikan jembatan aman digunakan.

Saya juga melihat bagaimana infrastruktur dibangun dengan mempertimbangkan risiko banjir yang mungkin terjadi kembali. Saluran air diperlebar, tanggul diperkuat, dan tata kota mulai disusun dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan.

Salah satu kebutuhan utama pascabencana adalah air bersih. Air bersih sangat dibutuhkan warga untuk mandi maupun membersihkan rumah yang terdampak banjir. Dari situlah, Kementerian PU hadir membangun unit Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) IKK Rantau.

SPAM ini menjadi titik penting di Aceh Tamiang yang menyuplai air untuk Kecamatan Rantau dengan kapasitas existing 40 liter per detik. Fasilitas ini berfungsi melayani masyarakat di Kecamatan Rantau dan sekitarnya. Pada saat bencana, sejumlah komponen SPAM Rantau terdampak, antara lain tanggul di sekitar kompleks Instalasi Pengolahan Air (IPA), bangunan intake, reservoir, hingga sistem pompa dan panel listrik.

Setelah dilakukan identifikasi infrastruktur terdampak, Kementerian PU melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW/BPBPK) Aceh bergerak cepat melakukan pembersihan akses menuju lokasi SPAM, melakukan pengecekan menyeluruh terhadap pompa intake, panel listrik, serta pompa dosing, sehingga instalasi dapat kembali dioperasikan secara bertahap.

Selain mengaktifkan kembali SPAM Rantau, Kementerian PU juga terus menyiapkan langkah lanjutan berupa rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur air minum, termasuk perbaikan bangunan intake, IPA, reservoir, serta peningkatan keandalan sistem distribusi. Upaya ini dilakukan agar layanan air minum ke depan menjadi lebih tangguh terhadap risiko bencana.

Penanganan SPAM Rantau menjadi bagian dari rangkaian upaya Kementerian PU dalam memastikan pemulihan layanan dasar pascabencana di Aceh Tamiang, sejalan dengan dukungan penyediaan air bersih melalui IPA mobile, mobil tangki air, sumur bor, dan hidran umum selama masa tanggap darurat.

Sebagai masyarakat yang menyaksikan proses ini, saya merasakan adanya perubahan cara pemerintah hadir di tengah warga. Kehadirannya tidak lagi terasa jauh dan kaku, tetapi lebih terbuka terhadap aspirasi masyarakat. Dalam beberapa pertemuan desa, suara warga didengar, termasuk kekhawatiran kami tentang tempat tinggal, mata pencaharian, dan keselamatan keluarga. Hal ini membuat saya merasa bahwa pembangunan bukan hanya milik pemerintah, tetapi milik kita semua.

Pembangunan Aceh pascabanjir November 2025 mengajarkan saya tentang arti ketahanan dan perencanaan. Bencana memang datang tanpa permisi, tetapi cara kita bangkit adalah sebuah pilihan. Melalui peran Kementerian Pekerjaan Umum, saya melihat Aceh tidak hanya dibangun kembali, tetapi juga dipersiapkan untuk menghadapi masa depan dengan lebih kuat, lebih bijak, dan lebih berdaya.

Baca Juga