Yogyakarta – Merantau kerap dianggap sebagai satu-satunya jalan bagi anak muda desa untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak. Namun, anggapan tersebut coba ditantang oleh Laboratorium Sedusun, inisiatif warga Dusun Siyono, Kelurahan Petir, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, melalui kerja kolektif yang mereka kembangkan sejak akhir 2023.
Kisah tersebut dibagikan dalam sesi Podol-Podol bertajuk “Saat Desa Tak Lagi Ditinggalkan, tapi Dibanggakan Anak Muda” di Panggung Tarung, Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026, Lapangan Beran, Pemda Sleman, Kamis (17/9/2026) pukul 14.15 WIB. Diskusi menghadirkan Kris Mheilda Setyawati atau Mbak Ida dan Mas ST sebagai perwakilan Laboratorium Sedusun.
Mbak Ida mengatakan, gagasan membangun gerakan tersebut berangkat dari keresahan terhadap tingginya urbanisasi pemuda di Dusun Siyono. Dari sekitar 76 kepala keluarga (KK), jumlah anak muda yang masih bertahan di dusun sebelumnya kurang dari 10 orang.
“Kami mempertanyakan, mengapa anak-anak muda di Siyono tidak ada yang mau tinggal di desanya sendiri?” ujar Mbak Ida dalam pemaparannya pada diskusi tersebut.
Menurutnya, banyak pemuda menganggap tidak ada pilihan kehidupan setelah lulus sekolah selain merantau. Padahal, potensi desa belum tentu benar-benar habis. Karena itu, ia bersama Mas ST mulai berdiskusi dengan komunitas, sesepuh, dan warga untuk mengenali sumber daya yang bisa dikembangkan bersama.
Dari proses tersebut, Laboratorium Sedusun dibangun sebagai ruang belajar bersama untuk menggali potensi pangan, kerajinan, dan pengetahuan lokal kawasan karst Gunungkidul. Salah satu inisiatif yang dikembangkan adalah Giat Baik Sedusun, lini kerajinan upcycle yang memanfaatkan material bekas seperti karung tepung, karung semen, dan spanduk acara.
Mas ST, yang mengupayakan perancangan dan manajemen produksi, menjelaskan bahwa produksi kerajinan melibatkan bapak-bapak petani sebagai penjahit. Sekitar 15 orang terlibat dalam pembuatan tas, sedangkan anak-anak muda membantu proses pemotongan bahan, pengeleman, dan penyiapan pola.
“Kami ingin menciptakan transparansi dan keadilan ongkos jahit bagi bapak-bapak,” kata Mas ST. Ia menyebut penentuan tambahan nilai atau upah jahit tidak ditetapkan sepihak, melainkan dibicarakan langsung bersama para penjahit.
Produk Giat Baik Sedusun di antaranya totebag “Bangun” atau Bagor Wangun dan tempat tumbler “Tas Gendul”. Harga Tas Gendul sekitar Rp60.000, sementara totebag Bangun berukuran besar dibanderol Rp187.000. Produk dipasarkan melalui media sosial, pameran, serta jejaring pemasaran di Bali.
Selain kerajinan, Laboratorium Sedusun mengembangkan olahan pangan berbasis hasil pertanian. Warga mempelajari pengolahan singkong menjadi tepung mocaf yang kemudian digunakan untuk membuat brownies, pukis, dan manggleng. Inisiatif tersebut turut melibatkan kolaborasi dengan akademisi dari UNY dan UPN.
Mereka juga menyelenggarakan Tur Ngalas, kegiatan bulanan untuk menjelajahi ladang dan hutan warga. Kegiatan ini mengenalkan pengetahuan musim lokal, termasuk bediding, ngawu-awu, dan lemarengan, serta praktik pertanian tadah hujan dan tumpangsari.
Bagi Laboratorium Sedusun, keberlanjutan gerakan tidak berhenti pada produksi dan pemasaran. Regenerasi anak muda menjadi salah satu tujuan utama yang ingin dibangun dalam lima tahun ke depan.
Mas ST berharap generasi muda desa dapat mengambil alih pengelolaan produksi dan laboratorium, sementara para perintis awal berperan di belakang layar. Sementara itu, Mbak Ida berharap Laboratorium Sedusun berkembang menjadi unit usaha desa yang mandiri dan berkelanjutan.
“Kami ingin ketika anak muda ditanya alasan bertahan di dusun, mereka dengan bangga menjawab: Ya, saya tinggal di desa karena saya ingin merawat dan membangun desa saya sendiri,” pungkas Mbak Ida.
Baca Juga
-
Workshop Lingkar Keadilan Ruang: Pasar Sebagai Kedaulatan Ekonomi Warga
-
Kedaulatan di Atas Kertas: Menggugat Sentralisasi di Launching Buku UGM
-
Kisah Ayu Rianna, Penulis yang Jadikan Kebaya sebagai Outfit Keseharian
-
Kunjungi Suara.com, Mahasiswa UAJY Pelajari Strategi Media dari Disrupsi AI
-
Fenomena Split Bill Gen Z: Mengurai Relasi Kuasa Patriarki di Meja Makan
Artikel Terkait
News
-
Workshop Lingkar Keadilan Ruang: Pasar Sebagai Kedaulatan Ekonomi Warga
-
Comeback Epik F1 Sepang 2026: Dikepung Kabut Asap Karhutla hingga Ancaman Cuaca Ekstrem
-
Tak Perlu Jadi Manusia Super, Tanyakan 3 Hal Ini ke Dirimu Sendiri untuk Menjaga Kewarasan
-
Kedaulatan di Atas Kertas: Menggugat Sentralisasi di Launching Buku UGM
-
Jamuan Puan Rimba, Membawa Cerita Perempuan Penjaga Hutan Lewat Pangan Lokal
Terkini
-
Review 'dejavu' Olivia Rodrigo: Sindiran Telak Buat Mantan yang Minim Ide
-
Dilema Segelas Latte: Apakah Hidup Sehat Berarti Harus Mengorbankan Kebahagiaan Kecil?
-
Jadwal MotoGP Jepang 2026: Apakah Ducati Siap Hadapi Ancaman Aprilia?
-
Perdana Go Public Sejak Debut, Nana Mengaku Sempat Malu Pacaran dengan TOP
-
5 Fakta tentang Intoleransi Laktosa, Ternyata Beda dari Alergi Susu Sapi?