Bagi penonton, mungkin adegan perkelahian dalam film hanya berlangsung beberapa detik. Di balik adegan tersebut, ada latihan panjang untuk memastikan setiap gerakan terlihat meyakinkan sekaligus aman.
Itulah yang menjadi salah satu perhatian dari komunitas TNT Fighter. Komunitas tersebut menjadi wadah bagi para penggiat bela diri untuk mempelajari stunt fighting dan mengasah kemampuan mereka dalam bergelut dalam dunia perfilman.
TNT sendiri merupakan singkatan dari The North Team Fighter. Komunitas yang berangkat dari ketertarikan sang pendirinya, Andhi Iqbal, terhadap film laga, bela diri, dan pembuatan video.
Ia kemudian mengajak sejumlah rekannya dengan minat serupa untuk membentuk komunitas pada Juli 2021.
Kegiatan dari komunitas ini ternyata tidak hanya berfokus pada bela diri. Para anggota turut belajar mengenai koreografi pertarungan, aksi-reaksi, hingga akting.
Untuk latihan rutin biasanya diadakan setiap hari Sabtu pada pukul 15.00—17.00. Bahkan pada waktu tertentu, latihannya juga dilakukan di hari Minggu ketika komunitas sedang menggarap suatu proyek, seperti film pendek.
Menurut Andhi, alasan komunitas ini menjadikan film pendek sebagai program mereka adalah sebagai cara untuk para anggotanya bisa melihat perkembangan kemampuannya setelah rutin mengikuti latihan. Program film pendek biasanya dibuat sekitar empat bulan sekali.
"Jadi, biar teman-teman yang belajar, yang ikut bareng kita ini, bisa melihat progres mereka," kata Andhi saat ditemui di Taman Panjat Tebing, Cakung, Jakarta Timur, Minggu (4/10).
Belajar Stunt Fighting Tetap Utamakan Keselamatan dan Keamanan
Andhi membeberkan bahwa untuk bergabung ke komunitasnya tidak dibatasi berdasarkan latar belakang tertentu.
Mereka bisa saja berasal dari bela diri yang berbeda sehingga dapat saling berbagi teknik untuk menghasilkan gerakan yang lebih beragam.
Bahkan, orang yang awam atau belum memiliki dasar bela diri tetap dipersilakan untuk bergabung. Materi akan diberikan secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing anggota.
Selain itu, Andhi menekankan dalam sesi latihan untuk selalu mengutamakan keselamatan dan keamanan. Terlebih dahulu, masing-masing anggota mempelajari dasar bela diri sebelum melanjutkan ke koreografi pertarungan.
Bahkan tidak lupa juga mereka diajarkan cara mengontrol pukulan dan tendangan. Hal tersebut sangat diperlukan agar meminimalkan risiko cedera saat melakukan adegan pertarungan.
"Yang paling kita tekankan adalah safety first," ujarnya.
Ternyata selama proses latihan diperlukan juga koneksi antaranggota. Setiap gerakan harus dilakukan dengan ritme yang sama agar pertarungan terlihat natural ketika kamera merekam adegan tersebut.
Andhi menilai prosesnya tidak jauh berbeda dengan menari. Para anggota harus bergerak bersama dan memahami ritme satu sama lain.
"Harus ada chemistry bareng-bareng. Harus satu frekuensi," jelasnya.
Latihan Bela Diri hingga Peluang di Dunia Film
Tidak hanya berfokus pada komunitas internal, TNT Fighter membuka peluang bagi anggotanya untuk terhubung dengan dunia perfilman. Informasi casting dapat dibagikan kepada anggota yang berminat mengikuti produksi film.
Andhi menyebutkan bahwa komunitasnya sebagai wadah bagi para anggota untuk mengasah keterampilan, mengembangkan kreativitas, dan membuka peluang. Mereka juga bisa memproduksi film pendek yang nantinya menjadi portofolio ketika mengikuti audisi.
Salah satu anggota yang telah merasakan kesempatan tersebut adalah Topan Akbar. Pria asal Ciamis itu bergabung setelah menemukan unggahan fighting choreography TNT Fighter di Facebook.
Ia sebelumnya sudah memiliki dasar-dasar bela diri, seperti pencak silat. Bahkan ia juga terbiasa membuat konten fighting choreography dari teknik silat yang dimilikinya.
Setelah menghubungi Andhi melalui Direct Messages (DM), ia bertemu dan berbincang mengenai komunitas tersebut.
Kemudian ia jadi tertarik bergabung karena TNT Fighter tidak hanya berlatih bela diri, melainkan juga mempelajari stunt fighting untuk kebutuhan film.
Pengalaman Topan lambat laun mulai merambah ke dunia produksi film. Ia membeberkan bahwa pernah mendapat kesempatan bermain dalam film layar lebar sebagai preman yang terlibat tawuran.
Proses syuting tersebut berlangsung sejak 2023 dan filmnya tayang pada 2024. Pengalaman itulah yang menjadi salah satu bukti bagaimana kemampuan bela diri dapat diubah menjadi keterampilan pendukung dalam industri film.
Topan mengaku dengan bergabung ke komunitas TNT Fighter ini membawa perubahan dalam dirinya. Ia merasa jauh lebih percaya diri karena memiliki ruang untuk menyalurkan kemampuan bela diri yang sebelumnya dimiliki.
"Perbedaannya lebih percaya diri, sebelumnya tuh gak begitu percaya diri," ungkap Topan.
Ia juga menganggap komunitas tersebut sebagai tempat untuk membangun jejaring dengan anggota lain. Tidak heran jika ia menyebut TNT Fighter ini sebagai keluarga keduanya.
Kini Topan memutuskan untuk terus bertahan bersama komunitas tersebut. Ia berharap TNT Fighter terus berkembang, memiliki banyak anggota, dan semakin dikenal masyarakat.
"Ya harapannya semoga komunitas TNT ini semakin maju, semakin berkembang, dan anggotanya semakin banyak, dan dikenal di mana-mana," harap Topan.
Di sisi lain, komunitas TNT Fighter ini masih terus menggencarkan pengembangan program latihan dan kualitas produksi film pendeknya. Andhi ingin karya komunitas tersebut tetap memiliki kualitas fighting yang unggul dan baik meski ditayangkan melalui platform YouTube.
Baca Juga
-
Liputan IIBF 2026: Nonton Bilal Indrajaya, Kulineran, hingga Pesan Puisi Dadakan Seikhlasnya
-
Tak Perlu Jadi Manusia Super, Tanyakan 3 Hal Ini ke Dirimu Sendiri untuk Menjaga Kewarasan
-
Bencana Semakin Intens, Bagaimana Negara Cegah Krisis Pangan?
-
Jamuan Puan Rimba, Membawa Cerita Perempuan Penjaga Hutan Lewat Pangan Lokal
-
Blusukan Pasar Minggu Bareng TRIPTIS, Melihat Wajah Asli Jakarta yang Sering Terlupakan
Artikel Terkait
-
Kisah Pak Rejo PLTMH Kedungrong, Modal Otodidak Wujudkan Listrik Tanpa PLN
-
Bukan Sekadar Jalan-Jalan, Komunitas Ini Bikin Tren Baru Akhir Pekan Bareng Anjing Kesayangan
-
Mobil Listrik iCAR V23 Tembus Penyerahan 1.000 Unit ke Konsumen Indonesia
-
Blusukan Pasar Minggu Bareng TRIPTIS, Melihat Wajah Asli Jakarta yang Sering Terlupakan
-
Mengenal TRIPTIS: Ruang 'Haha-Hihi' Buat Dewasa Muda yang Mulai Kehilangan Teman Nongkrong
News
-
Seni Perlawanan di JABFest 2026: Lomba Mewarnai Jadi Cara Lawan Impunitas
-
Soroti Pendidikan, Ugoran Sebut Aksi Kamisan Kini Jadi Kampus Rakyat
-
Kisah Ibu Misidah dan Perlawanan Sunyi Petani Karisma di Kulon Progo
-
Kisah Pak Rejo PLTMH Kedungrong, Modal Otodidak Wujudkan Listrik Tanpa PLN
-
LBH Yogyakarta di BET 2026: Krisis Ekologi Picu Kekerasan Gender
Terkini
-
4 Barrier Sunscreen Andalan Buat Kulit Kering Cegah Dehidrasi dan Iritasi
-
Sinopsis Hide and Seek, Drama Jepang Dibintangi Fukushi Sota dan Shida Sara
-
Merayakan Usia 23 Tahun: Belajar Merangkul Sepi dari Penulis 'Days at the Morisaki Bookshop'
-
Burnout Bukan Prestasi: 5 Tanda Kamu Cuma Sibuk, tapi Nggak Produktif
-
Review Lobang Buaya: Saat Hantunya Cuma Alibi untuk Misteri Pembunuhan Berdarah