M. Reza Sulaiman | Rizka Utami Rahmi
Local Media Summit 2026 yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, Kamis (22/10/2026) [Dok/Rizka Utami]
Rizka Utami Rahmi

Local Media Summit 2026 resmi digelar mulai tanggal 22 Oktober hingga 23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Acara yang diinisiasi Suara.com dan International Media Support (IMS) itu kembali mempertemukan berbagai media lokal dari berbagai penjuru Indonesia untuk membahas soal tantangan yang dihadapi industri media saat ini.

Saya berkesempatan menghadiri acara tersebut sebagai salah satu perwakilan dari penulis Yoursay.id. Dalam kesempatan itu, saya mendengarkan pemaparan para narasumber yang mengisi forum tersebut.

Salah satu yang menurut saya paling menarik adalah terkait bahasan soal kecerdasan buatan (AI) yang kini sangat mempengaruhi audiens dalam mengonsumsi berita.

New Normal:  Perubahan cara audiens mengonsumsi berita

Ketua Komisi Digital dan Sustainabilty Dewan Pers, Dahlan Dahi saat mengisi materi di forum Local Media Summit 2026 yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, Kamis (22/10/2026) [Dok/Rizka Utami]

Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi dalam kesempatan itu menyampaikan beberapa poin yang sangat menarik mengenai pergeseran kebiasaan audiens dalam mendapatkan berita.

Menurutnya, saat ini kita sudah memasuki era new normal di mana audiens tidak membaca langsung berita melalui sumber aslinya.

“New normal, user tidak datang lagi ke source,” kata Dahlan saat menyampaikan materi yang berlangsung di Hotel Manhattan, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026). 

Era new normal ini, menurut Dahlan, tidak bisa mengembalikan audiens pada kebiasaan audiens yang mencari berita langsung ke sumbernya melalui mesin pencarian.

“Apakah kita akan kembalikan lagi kebiasaan pembaca ke era Google dulu? Nggak,” lanjut Dahlan.

Selain itu, Dahlan juga menyinggung soal kebiasaan audiens yang kini lebih mudah mendapatkan jawaban melalui AI Overview yang menyebabkan media penerbit kini kehilangan audiens dan sedikitnya jumah kunjungan.

Meski demikian, Dahlan mengungkap bahwa AI juga banyak membantu jurnalis dan masyarakat dalam meningkatkan produktivitas, akan tetapi ia juga tak menampik bahwa AI membuat tenaga manusia tersingkir.

“AI ini juga ada bagusnya, ada buruknya. Buruknya adalah apa? tadinya kita kerjakan dengan orang, sekarang kita kerjakan dengan teknologi. So, kita kurangi biaya orang, kita naikin biaya teknologi,” kata Dahlan.

Selain itu, AI juga semakin memperdalam pergeseran ini jika audiens semakin mudah mendapatkan berita melalui media sosial tanpa harus mengunjungi sumber aslinya.

Nasib industri media di tengah gempuran AI

Ketua Komisi Digital dan Sustainabilty Dewan Pers, Dahlan Dahi saat mengisi materi di forum Local Media Summit 2026 yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, Kamis (22/10/2026) [Dok/Rizka Utami]

Laporan Reuters Institute tahun 2025 tentang Indonesia menemukan bahwa 57% audiens mengakses berita melalui platform media sosial. Bahkan, penggunaan TikTok sebagai sumber berita meningkat menjadi 34%.

Para penerbit bahkan memperkirakan trafik dari mesin pencari akan menurun 43% selama tiga tahun ke depan. Hal ini terjadi setelah penurunan signifikan dalam lalu lintas rujukan ke situs berita, dari Facebook (-43%) dan X (-46%) selama tiga tahun terakhir.

CEO Suara.com, Suwarjono mengatakan bahwa konten yang dibuat di website saat ini sudah tak lagi relevan dengan era sebelumnya. Hal ini dikarenakan media harus bersaing berebut audiens yang kini lebih memilih membaca berita melalui media sosial.

“Kalau sebelumnya kita semua menaikkan semua konten yang menarik, tapi, kita sekarang harus ada pilihan. Karena apa? kita berebut engagement, berebut pembaca dengan sosial media yang sangat cepat memberitakan breaking news dari lokasi tertentu,” ujar Suwarjono.

Sebelum gempuran AI yang masif seperti sekarang, industri media sebelumnya sudah terdampak gelombang PHK. Menurut laporan Dewan Pers, sepanjang 2023-2024 setidaknya ada sebanyak 1.200 pekerja media terdampak PHK.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat lebih dari 800 pekerja media mengalami PHK sejak 2024 hingga pertengahan 2025.

Tak hanya itu, berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, pada periode Januari hingga Mei 2025 terdapat setidaknya 24.000 pekerja dari berbagai sektor yang mengalami PHK, termasuk di dalamnya sektor media.