W.S Rendra adalah seorang penyair dan teaterawan Indonesia yang lahir di Solo pada tanggal 7 November 1935. Sejak masih masih duduk di bangku sekolah, Rendra banyak menulis karya sastra, seperti sajak, cerpen, dan drama. Rendra juga mahir dalam bermain peran. Rendra pernah kuliah jurusan Sastra Barat di universitas Gadjah Mada.
Karya drama pertama Rendra terbit pada tahun 1954. Karya tersebut diberi judul "Orang-Orang di Tikungan Jalan". Karya pertamanya tersebut langsung mendapatkan penghargaan Sayembara Drama dari Kementrian Pendidikan dan kebudayaan daerah Yogyakarta pada saat itu.
Dalam dunia teater, W.S Rendra mendirikan grup drama Studio Grup Drama Yogya bersama Arifin C. Noer, Deddy Sutomo, dan Parto. Pada tahun 1964, Rendra melanjutkan pendidikannya di American Academy of Dramatical Arts selama 3 tahun. Di Amerika, Rendra belajar ilmu-ilmu sosial. Ketertarikannya pada masalah sosial, Rendra membuat kumpulan buku sajak yang diberi judul Blues untuk Bonnie yang terbit pada tahun 1971.
Setelah pulang dari Amerika, Rendra membentuk Bengkel Teater di Yogyakarta dan memulai pertunjukan pertamanya yang diberi nama oleh para pemerhati teater sebagai "Teater Mini Kata". Teater tersebut terdiri dari dua, yaitu "Bip-Bop" dan "Rambate Rate Rata". Teater tersebut dipentaskan di Balai Budaya. Pertunjukan tersebut berhasil membuat banyak orang kagum dengan Rendra. Rendra mendapat banyak tanggapan. Bahkan, dia diberi penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan atas drama dan sajak yang dibuatnya.Namun, banyak juga orang yang mengeluh kalau teater tersebut sulit untuk dimengerti.
Dua tahun setelah pertunjukan pertama Rendra selesai, dia banyak menulis drama-drama kolosal, seperti "Mastodon Burung Kondor", "Kisah Perjuangan Suku Naga", "Sekda", "Panembahan Reso", dan "Selamatan Anak Cucu Sulaiman". Drama-drama dari Rendra banyak bertemakan pembicaraan antara hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam sekitarnya, dan pengeksplorasian imaji gerak, bentuk, dan suara.
Perkembangan teater modern di Indonesia berkembang pesat pada tahun 1970-an. Tahun-tahun ini disebut sebagai zaman keemasan untuk teater modern Indonesia. Namun, pada tahun 1980-an teater modern Indonesia turun drastis, karena berkurangnya grup-grup teater. Tahun 1988 menjadi tahun pertunjukkan drama Rendra yang terakhir, drama tersebut diberi judul "Selamatan Anak Cucu Sulaiman". Rendra menjadi duta kesenian pada Kesenian Indonesia di Amerika.
Sumber:
Rendra, W.S. Pertimbangan Tradisi Kumpulan Karangan. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya. 2005.
Yoesoef, M. Sastra dan Kekuasaan Pembicaraan atas Drama-Drama Karya W.S. Rendra. Jakarta: Wedatama Widya Sastra. 2007.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Kabar Baik! Seni Tradisional Reak Sunda Tampil di Festival Musik Roskilde Denmark
-
Kunjungi Bandara YIA, Erick Thohir Dorong Bandara Jadi Etalase Seni dan Budaya Indonesia
-
Unik! Polisi Ubah Knalpot Blong Hasil Sitaan Jadi Patung Ikan dan Replika Sepeda Motor
-
Seni Budaya di Hari Pengungsi Sedunia di Medan Disambut Antusias
Ulasan
-
Mengupas 'Emanon', Manga Sci-Fi Santai yang Bikin Overthinking Soal Makna Kehidupan
-
Lika-Liku Kejar Mimpi di Usia Kepala Empat, 'Timun Jelita' Hadirkan Konflik Sahabat dan Ambisi
-
Di Tanah Lada: Apakah Mati Jadi Jalan Keluar Terbaik untuk Ava?
-
Review 'Lucky Strike': Saat Taktik Pura-Pura Mati Jadi Satu-Satunya Jalan Selamat dari Pasukan SS
-
Review Forgotten Island: Emosinya Kuat, tapi Konfliknya Terlalu Main Aman
Terkini
-
Anime Welcome to Demon School, Iruma-kun Umumkan Proyek Film Pertama
-
Nasib Tragis The Transporter: Ditinggal Jason Statham, 2 Aktor Penggantinya Gagal Total!
-
Rangkul Kekurangan! KickFlip Ungkap Indahnya Masa Muda di Lagu Puzzle Piece
-
Salah Kaprah Filosofi Teras: Menggugat Apatisme Gen Z Berkedok Stoikisme
-
Fenomena Sunday Scaries: Membedah Horor Hari Senin Bagi Para Pekerja