Ada kalanya hidup terasa terlalu riuh untuk dipahami sendirian. Kita merasa kuat, terlihat baik-baik saja, tetapi di dalam hati ada simpul-simpul kusut yang tak kunjung terurai. Di titik inilah kita sadar akan satu kebenaran sederhana. Sekuat apa pun kita, kita tetap butuh someone to talk.
Curhat bukan tanda kelemahan, melainkan kebutuhan manusiawi. Gagasan inilah yang dirangkai dengan hangat dan jujur dalam buku “Semua Orang Butuh Curhat” karya Lori Gottlieb, seorang psikoterapis asal Amerika Serikat.
Buku ini merupakan terjemahan dari karya non-fiksi berjudul Maybe You Should Talk to Someone. Lori Gottlieb menuliskannya berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai psikoterapis di Los Angeles, sekaligus sebagai seorang pasien yang juga membutuhkan bantuan.
Di sinilah keistimewaan buku ini: ia tidak berbicara dari menara gading seorang ahli, melainkan dari dua sisi sofa terapi. Sebagai pendengar dan sebagai orang yang terluka.
Lori menunjukkan bahwa memendam luka batin hanya akan membuatnya tumbuh diam-diam dan menjadi lebih menyakitkan.
Masalah yang berat, jika dipikul sendiri, kerap berubah menjadi beban emosional yang merembet ke mana-mana: tubuh, relasi, hingga cara kita memandang diri sendiri.
Melalui sesi-sesi konseling yang ia ceritakan, benang kusut yang awalnya tampak tak beraturan perlahan bisa dirunut kembali. Bukan karena masalah langsung hilang, tetapi karena ada ruang aman untuk bercerita.
Menariknya, buku ini juga menampilkan pengalaman Lori ketika ia sendiri harus duduk sebagai pasien. Ia mengalami kehilangan besar yang mengguncang hidupnya dan memaksanya berhadapan dengan kenyataan bahwa perubahan dan kehilangan sering datang beriringan.
Ketika kita ingin sesuatu berubah, kita harus siap kehilangan sesuatu yang lain. Bahkan perubahan sikap seseorang yang tiba-tiba menyebalkan dan mudah marah sering kali bukan soal karakter, melainkan luka kehilangan yang belum sempat diproses.
Dalam psikoterapi, sesi pertama sering kali bukan tentang solusi, melainkan kelegaan. Pasien datang membawa cerita yang selama ini tertahan. Mereka hanya ingin didengar, tanpa dihakimi. Lori mengisahkan seorang pasien kanker dengan prognosis hidup yang pendek, yang justru memilih psikiater tanpa pengalaman menangani kasus serupa.
Alasannya sederhana: ia hanya butuh seorang teman. Kisah ini mengingatkan bahwa terkadang kita tidak membutuhkan orang yang “paling paham”, melainkan orang yang hadir.
Hal ini relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ketika kita pusing dengan kuliah atau pekerjaan tertentu, berbicara dengan orang dari dunia yang sama justru bisa membuat kita makin tenggelam. Sebaliknya, teman dari latar berbeda dapat memberi jarak emosional dan sudut pandang segar.
Lori juga menyinggung kecenderungan manusia menciptakan narasi keliru demi merasa lebih baik dalam jangka pendek. Padahal, narasi ini sering berdampak buruk dalam jangka panjang. Dengan bercerita kepada orang lain, kita bisa mendengar kembali cerita kita sendiri dan menemukan makna yang selama ini luput.
Secara ilmiah, manusia memiliki neuron cermin yang membuat emosi menular. Nada suara yang tenang bisa meredakan kemarahan, dan kehadiran yang empatik mampu menenangkan batin yang kalut. Karena itu, hubungan dan percakapan memiliki daya penyembuhan.
Psikoterapis, menurut Lori, bukanlah penyihir atau transplantasi kepribadian. Mereka tidak menghapus masalah, melainkan menumpulkan ujung-ujung tajamnya agar kita bisa berpikir lebih jernih dan tidak terlalu reaktif.
Semua Orang Butuh Curhat mengingatkan kita bahwa luka dalam hidup tidak pernah benar-benar berakhir. Dan melalui bercerita, kita belajar berdamai dengan hidup yang manusiawi.
Identitas Buku
- Judul: Semua Orang Butuh Curhat (Maybe You Should Talk to Someone)
- Penulis: Lori Gottlieb
- Penerjemah: Susi Purwoko
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama,
- Tahun Terbit: 2022
- Tebal: 508 halaman
- ISBN: 978-6020-65-997-8
- Kategori: Non Fiksi, Motivasi Diri
Baca Juga
-
Nuku: Sultan Pemberontak yang Mengguncang Imperium VOC di Nusantara Timur
-
Membaca Indonesia dari Kacamata Orde Baru: Menelusuri Indonesia 1979
-
Berdemokrasi dengan Sehat: Bicara Politik itu Hak Warga Negara
-
Menelusuri Kehidupan Sosial Batavia di Buku Jean Gelman Taylor
-
Londo Ireng 1831-1945: Kisah yang Terlupakan dalam Sejarah Indonesia
Artikel Terkait
Ulasan
-
Memoar Getir Vabyo: Ketika Eksploitasi Kerja Dibungkus Ironi Komedi
-
Demi Krypto dan Cinta: Pengorbanan yang Menjadi Jantung Film Supergirl
-
Nuku: Sultan Pemberontak yang Mengguncang Imperium VOC di Nusantara Timur
-
Novel Delicious Lips: Berawal dari Rasa Turun ke Hati
-
Ulasan Film The Substance: Pertarungan Dua Ego dalam Satu Tubuh yang Rusak
Terkini
-
Masih Hangat!Honor X80 Pro Max Resmi Debut 22 Juni:Usung Baterai 11.000 mAh dan Layar 10.000 Nits
-
Nonton Pee Nak 5: Siap-siap Ketawa di Antara Jump Scare yang Bikin Jantungan!
-
Marco Bezzecchi vs Marshal: Valentino Rossi Tak Menyangka Muridnya Diskors
-
Anti-Apek! 4 Parfum Pria Paling Segar Buat Dipakai Gym dan Olahraga Outdoor
-
Proklamasi di Kedai Kopi: Lahirnya Republik Marilah Cerita