Bimo Aria Fundrika | Salman Faris
Jembatan Penghubung Kembali kehidupan pascabencana di Aceh
Salman Faris

Seorang ibu memejamkan mata, saat tali sling itu dieratkan ke tubuhnya. Didalam gendongan, bayi berusia tak lebih dari 1 tahun itu menangi dan ditutupi dengan kerudung, hari itu cuaca di Ketol, Aceh Tengah sangat terik.

Walaupun terik, aliran sungai masih deras. Satu-satunya penghubung antara 2 wilayah yang terbelah aliran sungai di Ketol, Aceh Tengah adalah Jembatan Berawang Gadjah, namun terputus saat banjir bandang menenggelamkan wilayah tersebut.

“Saya ingin membeli kebutuhan bayi, seperti popok dan susu,” ucap Ibu sambil bersiap-siap menyebrangi sungai dengan jembatan darurat dari tali sling.

Mau tidak mau Ibu dan bayi pun menyebrang menggunakan tali sling, bayangkan jika tali tersebut terputus, dua nyawa pun sangat berharga. Bayangkan jika jembatan yang setiap harinya kita lewati seperti nampak tak berjasa, ternyata memiliki fungsi yang luar biasa.

Jembatan bukan hanya penghubung jalan dan sungai semata, namun penghubung nadi-nadi dan jantung kehidupan. Itulah yang dirasakan setelah melihat video seorang ibu di Aceh Tengah. 

Sementara itu, Jembatan Krueng Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya terlihat lalu lalang kendaraan. Kendaraan warga, logistik dan kendaraan berat pun kini telah melintasi jantung Kabupaten Pidie.

Seperti aliran darah yang terpompa menuju jantung, kini aktivitas warga pun telah berangsur normal, setelah  terputus dan terhubung kembali karena dilakukan oprit. Oprit dilakukan dengan menimbun tanah di bagian pangkal jembatan sehingga jembatan akan kembali terhubung satu sama lain.

Jembatan Krueng Meureudu salah satu akses utama jalan Meureudu-Pidie Jaya di Kabupaten Bireuen. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh pun telah menyelesaikan pembersihan jalan dari lumpur akibat banjir bandang di Jembatan tersebut, setelah diselesaikan penimbunan oprit jembatan serta pemasangan batu boulder. 

Tak Hanya Jembatan Penghubung Kehidupan, Air Bersih Pun Kini Berkecukupan

Bukan hanya akses jembatan saja, namun ketersediaan air bersih pun merupakan salah satu hal krusial di Aceh Tamiang. Pasca banjir bandang, lumpur menggenangi pemukiman warga, layanan air pun terhenti. Warga Aceh Tamiang sangat membutuhkan air bersih untuk mandi, masak, membersihkan lumpur dan berbagai aktivitas termasuk memutar kembali roda perekonomian. 

Setelah penantian selama 1 bulan, warga Aceh Tamiang kini salah satu infrastruktur penyedia air bersih yaitu Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) IKK Rantau telah kembali berfungsi. Air bersih merupakan salah satu kebutuhan primer sehingga bisa mempercepat proses pemulihan baik kesehatan maupun lingkungan. 

Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) IKK Rantau bisa dibilang sangat krusial bagi Aceh Tamiang. SPAM IKK Rantau mampu menghasilkan kapasitas eksisting 40 liter per detik dan melayani masyarakat di Kecamatan Rantau dan sekitarnya. 

Lalu, kenapa penanganan kebutuhan air bersih membutuhkan waktu? Setelah terjadi bencana, SPAM ikut terdampak sehingga kompleks instalasi pengolahan air pun rusak. Setelah dilakukan pengecekan terhadap pompa intake, panel listrik, dan pompa kemudian barulah instalasi bisa dioperasikan kembali secara bertahap. 

Kualitas air pun turut menjadi perhatian, jangan sampai air yang dikonsumsi bermasalah dan menyebabkan permasalahan lain seperti penyakit kulit dan diare. Komitmen untuk mengutamakan kualitas air juga menjadi salah satu pertimbangan utama, kenapa dibutuhkan waktu untuk mengembalikan instalasi air bersih tersebut. 

Selain Aceh Tamiang, perbaikan jembatan, akses jalan dan air pun dilakukan di sejumlah wilayah  yang terdampak di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Tak hanya menyediakan air bersih, namun pemerintah pun turut memperhatikan sanitasi dan kebersihan lingkungan pasca bencana. 

Di titik inilah peran Bina Marga terasa bekerja dalam senyap, namun berdampak panjang. Di Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat, alat berat bergerak menyusuri jalan yang tertimbun longsor, membuka kembali ruas-ruas yang sempat hilang ditelan lumpur dan arus air.

Jalan nasional yang sebelumnya terputus kini kembali menyambung desa ke kota, pasar ke rumah warga, dan harapan ke masa depan.

Di Sumatra Barat, jalan-jalan yang tergerus banjir bandang kembali diperkuat, bahu jalan dipadatkan, dan jalur darurat disiapkan agar mobilitas tetap berjalan. Sementara di Sumatra Utara, pembersihan material longsor dan perbaikan struktur jalan menjadi prioritas agar akses antar wilayah tidak lumpuh berkepanjangan.

Bina Marga tak hanya membangun ulang aspal dan jembatan, tetapi memastikan konektivitas sebagai fondasi pemulihan sosial dan ekonomi. Karena setelah bencana, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan, melainkan jalan pulang menuju kehidupan yang kembali berjalan.

Baca Juga