Sekar Anindyah Lamase | aisyah khurin
Novel Her Own Hero (goodreads.com)
aisyah khurin

Di awal abad ke-20, narasi utama mengenai perempuan adalah sosok "bunga pajangan" yang rapuh, membutuhkan perlindungan laki-laki, dan terbatas pada ruang domestik. Namun, Wendy L. Rouse dalam "Her Own Hero" menyingkap realitas yang berbeda.

Ia membawa kita ke masa di mana perempuan mulai belajar Ju-Jitsu, tinju, dan gulat untuk melawan pelecehan di jalanan dan ketidakadilan sistemik.

Rouse memulai bukunya dengan membedah norma gender era Edwardian dan Progresif. Pada masa itu, ketakutan akan "bahaya putih" (white slavery) dan pelecehan di ruang publik membuat perempuan merasa terancam.

Alih-alih hanya bersembunyi di rumah, sekelompok perempuan pemberani mulai menyadari bahwa ketergantungan pada pelindung laki-laki sering kali tidak memadai atau bahkan justru mengekang kebebasan mereka.

Buku ini menjelaskan bagaimana bela diri menjadi alat untuk menghancurkan stigma bahwa perempuan secara biologis lebih lemah.

Rouse menunjukkan bahwa dengan mempelajari teknik yang tepat, kekuatan fisik laki-laki dapat dilawan. Ini adalah revolusi mental yang sama besarnya dengan revolusi fisik.

Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah kaitan erat antara bela diri dan gerakan hak pilih perempuan (suffragette). Di Inggris dan Amerika Serikat, para aktivis hak pilih sering kali menghadapi kekerasan fisik dari polisi maupun penonton yang marah saat melakukan demonstrasi.

Rouse mendokumentasikan bagaimana tokoh-tokoh seperti Edith Garrud melatih para suffragette dalam seni Ju-Jitsu. Bela diri asal Jepang ini dipilih karena mengutamakan pengalihan energi lawan daripada kekuatan otot murni, menjadikannya senjata ideal bagi perempuan melawan pria yang lebih besar. Bela diri bukan lagi sekadar hobi, melainkan instrumen politik untuk memastikan suara mereka tetap terdengar tanpa harus babak belur di jalanan.

Rouse secara cerdas menghubungkan perkembangan bela diri dengan evolusi mode pakaian perempuan. Sulit untuk membayangkan seorang perempuan melakukan bantingan judo sambil mengenakan korset yang mencekik atau rok panjang yang berat.

Buku ini mencatat bagaimana kebutuhan akan pertahanan diri mendorong perubahan dalam cara perempuan berpakaian. Munculnya pakaian olahraga yang lebih longgar dan fungsional adalah dampak langsung dari keinginan perempuan untuk bisa bergerak bebas dan melindungi diri. Ini menunjukkan bahwa perjuangan kemandirian perempuan terjadi di banyak lini, dari sasana bela diri hingga ke lemari pakaian.

Salah satu kontribusi terbesar buku ini adalah analisisnya tentang aspek psikologis dari bela diri. Rouse berargumen bahwa pelatihan fisik memberikan dampak besar pada mentalitas perempuan. Dengan mengetahui cara melepaskan diri dari cengkeraman atau memberikan pukulan yang efektif, rasa takut yang selama ini menghantui perempuan mulai terkikis.

"Her Own Hero" menekankan bahwa tujuan utama gerakan ini bukan untuk menciptakan kekerasan, melainkan untuk memberikan pilihan. Seorang perempuan yang tahu cara membela diri adalah perempuan yang memiliki agensi atas ruang publik. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai korban potensial, melainkan sebagai subjek yang berdaulat.

Rouse tidak menutup mata terhadap isu interseksionalitas. Meskipun gerakan ini sangat progresif, akses terhadap pelatihan bela diri sering kali terbatas pada perempuan kulit putih kelas menengah dan atas.

Namun, ia juga mencatat bagaimana perempuan dari latar belakang etnis lain menggunakan pertahanan diri sebagai alat melawan penindasan rasial. Di sinilah buku ini menjadi sangat relevan dimana pertahanan diri bukan hanya soal melawan pencopet di gang gelap, tetapi juga soal menjaga martabat di tengah masyarakat yang diskriminatif.

"Her Own Hero" adalah karya sejarah yang sangat vital untuk memahami dari mana asal-usul pemberdayaan perempuan modern. Wendy L. Rouse berhasil menghidupkan kembali kisah-kisah para instruktur bela diri perempuan pertama yang namanya sempat terkubur oleh waktu.

Buku ini mengingatkan kita bahwa keamanan tubuh adalah hak asasi paling dasar. Melalui penelitian yang mendalam dan narasi yang mengalir, Rouse membuktikan bahwa setiap pukulan dan bantingan yang dipelajari perempuan seabad yang lalu adalah batu bata yang menyusun fondasi kemandirian perempuan saat ini.

Identitas Buku

Judul: Her Own Hero

Penulis: Wendy L. Rouse

Penerbit: NYU Press

Tanggal Terbit: 8 Agustus 2017

Tebal: 288 Halaman

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS