M. Reza Sulaiman | Angelia Cipta RN
Kolase Poster Film 'Alas Roban' (IMDb)
Angelia Cipta RN

Hutan selalu menyimpan dua wajah: keindahan yang menenangkan dan kegelapan yang tak pernah benar-benar terungkap. Dalam film horor Indonesia bertajuk Alas Roban, sutradara Hadrah Daeng Ratu mengajak para penonton menyusuri salah satu kawasan paling legendaris di Jawa Tengah. Sebuah hutan yang selama puluhan tahun dikenal melalui cerita-cerita misteri, hilangnya orang-orang tanpa jejak, serta bisikan mitos yang diwariskan dari mulut ke mulut.

Tentu, siapa yang tak kenal dengan Alas Roban yang menjadi salah satu tempat mistis yang banyak dibicarakan di berbagai penjuru Pulau Jawa. Bahkan, film ini juga menggaet beberapa aktor dan aktris ternama Tanah Air seperti Michelle Ziudith, Taskya Namya, Rio Dewanto, Saputra Kori, Rukman Rosadi, Agus Kuncoro, Imelda Therinne, Ruth Marini, hingga Pritt Timothy.

Kabarnya, film horor khas kisah mistis Indonesia ini akan segera tayang pada 15 Januari 2026 mendatang!

Sinopsis Lengkap Film Alas Roban

Kisah Alas Roban berawal dari perjalanan Sita (diperankan oleh Michelle Ziudith), seorang perempuan muda yang berusaha pulang ke kampung halamannya setelah lama tinggal di kota. Ia ditemani oleh Anto (diperankan oleh Rio Dewanto), sosok pragmatis yang cenderung mengandalkan logika, serta Tika (Taskya Namya), sahabat Sita yang dikenal lebih peka terhadap hal-hal tak kasat mata. Awalnya, perjalanan mereka hanyalah rutinitas biasa yang melelahkan, namun tak mengandung ancaman apa pun.

Namun, segalanya berubah ketika kendaraan yang mereka tumpangi terpaksa melintasi kawasan Alas Roban pada malam hari. Jalanan sepi, pepohonan menjulang rapat, dan kabut tipis yang perlahan turun menciptakan suasana tidak nyaman sejak langkah pertama mereka memasuki hutan. Ponsel kehilangan sinyal, jam seakan berjalan tidak normal, dan suara-suara aneh mulai terdengar dari balik pepohonan.

Pada awalnya, kejadian-kejadian ganjil tersebut dianggap sekadar sugesti. Anto mencoba menenangkan suasana dengan penjelasan rasional, sementara Sita memilih diam karena merasakan firasat yang sulit ia jelaskan. Berbeda dengan keduanya, Tika justru merasakan kehadiran "sesuatu" yang terus mengamati pergerakan mereka sejak masuk kawasan hutan. Rasa tidak nyaman itu perlahan berubah menjadi ketakutan ketika mereka menyadari bahwa jalan yang mereka lalui terasa berulang, seolah membawa mereka berputar-putar di tempat yang sama.

Ketegangan meningkat ketika mereka bertemu dengan sosok-sosok asing yang muncul tanpa diduga: wajah-wajah pucat, tatapan kosong, dan percakapan yang terasa janggal. Tidak jelas apakah mereka manusia, bayangan masa lalu, atau sesuatu yang lain. Setiap pertemuan meninggalkan bekas psikologis, memunculkan rasa takut yang semakin menekan pikiran masing-masing karakter.

Seiring malam semakin larut, Alas Roban tidak lagi terasa seperti sekadar hutan. Tempat itu berubah menjadi ruang yang hidup, seolah menyimpan ingatan dan kemarahan lama. Penonton diajak menyaksikan bagaimana satu per satu rahasia masa lalu para tokoh mulai terkuak. Trauma, kesalahan, dan penyesalan yang selama ini terkubur muncul dalam bentuk teror yang personal. Hutan seakan mengetahui kelemahan terdalam setiap orang yang melintasinya.

Bagi Sita, Alas Roban menghadirkan bayangan masa lalu yang selama ini ia hindari. Ada peristiwa lama yang belum pernah benar-benar ia selesaikan, dan hutan itu seolah memaksanya untuk menghadapi kenyataan pahit tersebut. Anto, yang sejak awal bersikap rasional, perlahan kehilangan pijakan logikanya ketika kejadian-kejadian yang ia saksikan tak lagi bisa dijelaskan dengan akal sehat. Sementara itu, Tika, dengan kepekaannya, menjadi jembatan antara dunia nyata dan sesuatu gaib yang bersembunyi di balik kabut Alas Roban.

Film ini tidak mengandalkan teror instan semata. Alas Roban membangun ketegangan secara perlahan melalui suasana, kesunyian, dan rasa terisolasi. Pemilihan lokasi alam yang nyata memberikan kekuatan visual tersendiri: pepohonan tinggi, jalan berliku, dan gelapnya malam menciptakan rasa terjebak yang nyata bagi penonton. Setiap suara ranting patah atau embusan angin terasa memiliki makna. Bahkan, penyampaian hal-hal mistis yang dipercaya banyak orang pun disampaikan dengan sangat baik melalui alur yang membuat merinding.

Menjelang klimaks, ketiganya dihadapkan pada pilihan sulit: terus melarikan diri atau menghadapi apa pun yang telah lama menunggu di dalam hutan. Di titik inilah Alas Roban menunjukkan kekuatannya sebagai horor berbasis psikologis dan budaya. Teror tidak hanya datang dari sosok gaib, tetapi juga dari rasa bersalah dan ketakutan manusia itu sendiri.

Dijadwalkan tayang 15 Januari 2026 di seluruh bioskop Indonesia, Alas Roban hadir sebagai salah satu film horor lokal yang memanfaatkan kekayaan mitos Nusantara tanpa kehilangan relevansi modern. Film ini bukan sekadar cerita tentang hutan angker, melainkan refleksi tentang manusia, masa lalu, dan konsekuensi dari hal-hal yang tidak pernah benar-benar diselesaikan. Jadi, apakah kamu siap menjadi saksi dari kisah mistis fenomenal hutan Pulau Jawa ini?