Dari awal membaca, judulnya terasa sangat kontroversial karena memadukan kata "julid" dan "fi sabilillah" yang memiliki arti saling kontradiktif. Julid adalah tindakan yang berkonotasi negatif, sedangkan fi sabilillah adalah sebuah amalan baik.
Terbit pada Juni 2024 dengan ketebalan 200 halaman, Julid Fi Sabilillah karya Erlangga Greschinov (Penerbit ReneBook) hadir sebagai dokumentasi sebuah gerakan digital. Buku ini merekam lahirnya fenomena Julid Fi Sabilillah, sebuah gerakan perlawanan warganet yang bertujuan mematahkan propaganda pro-Zionis melalui narasi tandingan, edukasi publik, dan tekanan opini di ruang maya.
Berangkat dari realitas konflik Palestina–Israel yang semakin brutal pascaserangkaian eskalasi kekerasan, buku ini tidak hanya berbicara tentang empati, melainkan juga tentang strategi perlawanan informasi. Erlangga Greschinov, yang dikenal sebagai penggagas dan "komandan" gerakan Julid Fi Sabilillah, membingkai perlawanan ini sebagai bentuk jihad digital: bukan dengan senjata fisik, melainkan dengan narasi, literasi, dan keberanian melawan manipulasi informasi.
Secara struktural, buku ini dibagi ke dalam lima bab utama:
- Awal mula Julid Fi Sabilillah;
- Sejarah okupasi Israel di tanah Palestina;
- Realitas yang terjadi di Palestina;
- Aksi nyata warga Indonesia;
- Panduan gerakan Julid Fi Sabilillah.
Struktur ini membuat buku tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga sistematis dan edukatif. Pembaca diajak memahami konflik Palestina bukan sekadar dari sisi kemanusiaan, tetapi juga dari sisi sejarah, politik global, dan propaganda modern.
Salah satu bagian penting yang diulas adalah sejarah zionisme modern, termasuk Kongres Zionis pertama di Basel (1897) yang melahirkan Organisasi Zionis Internasional, mengangkat Theodor Herzl sebagai tokoh sentral, serta menetapkan Palestina sebagai "tanah air" bagi bangsa Yahudi. Buku ini juga mengkritisi mentalitas kolonial Eropa abad ke-19 yang melekat dalam ideologi zionisme, termasuk narasi Herzl yang memposisikan negara Yahudi sebagai "benteng peradaban Eropa melawan barbarisme Asia", sebuah pandangan yang sarat rasisme dan superioritas budaya.
Di sisi lain, buku ini juga mengupas propaganda Israel yang dikenal dengan istilah Hasbara, sebuah strategi komunikasi terstruktur dan masif yang bertujuan membangun citra positif Israel di dunia internasional. Hasbara tidak hanya bekerja melalui media resmi, melainkan juga lewat influencer, politisi, media sosial, dan framing narasi global. Di sinilah Julid Fi Sabilillah mengambil posisi sebagai gerakan tandingan untuk membongkar manipulasi informasi dan narasi sepihak.
Keunikan buku ini terletak pada pendekatannya yang tidak elitis. Bahasa yang digunakan ringan, lugas, dan komunikatif, sehingga bisa diakses oleh pembaca awam yang baru mulai belajar tentang isu Palestina. Sejarah panjang penjajahan Israel, praktik apartheid, genosida, hingga propaganda global disajikan secara ringkas, runtut, dan mudah dipahami.
Lebih dari sekadar buku sejarah-politik, Julid Fi Sabilillah juga merupakan buku gerakan. Di dalamnya terdapat daftar aksi nyata, dokumentasi dampak gerakan digital, serta panduan praktis bagi siapa pun yang ingin terlibat dalam perlawanan informasi. Menariknya, gerakan ini tidak dilepaskan dari prinsip moral dan adab. Erlangga Greschinov menegaskan bahwa perlawanan tetap harus berbasis etika, tidak kehilangan nilai kemanusiaan, dan tidak jatuh pada kebencian membabi buta.
Buku ini menegaskan satu hal penting: di era digital, informasi adalah medan perang. Narasi bisa membentuk opini publik, memengaruhi kebijakan, dan bahkan membenarkan kekerasan. Karena itu, perlawanan tidak selalu harus hadir dalam bentuk fisik; ia bisa hadir dalam bentuk edukasi, literasi, dan keberanian bersuara.
Pada akhirnya, Julid Fi Sabilillah bukan hanya buku tentang Palestina, melainkan tentang kesadaran kolektif. Ia mengubah rasa tidak berdaya menjadi energi perlawanan, menggeser emosi menjadi aksi, dan mengubah kemarahan menjadi gerakan terstruktur. Buku ini mengajarkan bahwa dalam dunia yang dikuasai propaganda, keberpihakan pada kebenaran adalah sikap politik, dan literasi adalah bentuk perjuangan. Seperti pesan yang terus digaungkan di dalamnya, edukasi adalah senjata utama untuk membebaskan penjajahan pemikiran. Dari sanalah, pembebasan yang lebih besar bisa dimulai.
Baca Juga
-
Memaklumi Manusia Tak Harus Selalu Kuat di Novel Bibi Gill Karya Tere Liye
-
4 Rekomendasi Tempat Dinner Romantis untuk Valentine di Kota Batu
-
Menggugat Eksploitasi Alam di Novel Jejak Balak Karya Ayu Welirang
-
Membuka Sejarah Kelam Sekolah di Novel Efek Domino!
-
Novel Etnik Menik: Mimpi dan Realitas Sosial yang Diam-diam Menyentil
Artikel Terkait
-
Memaklumi Manusia Tak Harus Selalu Kuat di Novel Bibi Gill Karya Tere Liye
-
Perempuan, Perlawanan, dan Palestina: Memahami Leila Khaled Lewat Biografi Karya Sarah Irving
-
Orang-Orang Proyek: Potret Getir Idealisme yang Terbentur Busuknya Sistem
-
Israel Gabung BoP Trump, Golkar: Kesempatan Indonesia Bisiki Netanyahu Soal Kemerdekaan Palestina
-
Israel Resmi Gabung BoP, Pakar UGM Sebut Indonesia Terjebak Diplomasi 'Coba-Coba' Berisiko Tinggi
Ulasan
-
Perempuan, Perlawanan, dan Palestina: Memahami Leila Khaled Lewat Biografi Karya Sarah Irving
-
Memaklumi Manusia Tak Harus Selalu Kuat di Novel Bibi Gill Karya Tere Liye
-
Novel Perempuan dan Anak-anaknya,Tragedi 1965 dalam Sudut Pandang Keluarga
-
Orang-Orang Proyek: Potret Getir Idealisme yang Terbentur Busuknya Sistem
-
Ulasan Film Unbroken: Perjuangan Atlet Olimpiade Bertahan Hidup dalam Perang Dunia II
Terkini
-
Kucing Hitam di Ujung Gang
-
4 Serum Korea Noni Perkuat Skin Barrier pada Kulit Berjerawat dan Sensitif
-
Valentine Sendirian? Ini 5 Pilihan Drama China Romantis untuk Menghangatkan Hari Kasih Sayang
-
Gegara Gerald Vanenburg, John Herdman Dipastikan Bakal Nganggur Setahun! Kok Bisa?
-
Manis dan Penuh Doa, Inilah 5 Jajanan Khas Tahun Baru Imlek