Siapa yang tidak mengenal Ahmad Tohari? Maestro sastra ini tidak hanya dikenal lewat karya monumentalnya, Ronggeng Dukuh Paruk, tetapi juga kemampuannya memotret realitas sosial dengan gaya bahasa yang sangat "Indonesia".
Membaca karyanya selalu memberikan sensasi berkeliling menjelajahi lingkungan sekitar kita. Namun, di balik latar pedesaan yang tampak tenang, Tohari kerap mengajak kita menyingkap "kebenaran di balik kenyataan". Hal ini terasa sangat kental dalam novelnya yang berjudul Orang-Orang Proyek.
Sinopsis: Jembatan Cibawor dan Ironi Pembangunan
Novel ini mengambil latar tahun 1991, sebuah era ketika "Partai Golongan Lestari" memegang kendali penuh atas negara. Tohari menggambarkan dengan gamblang bagaimana praktik korupsi menggurita bahkan dalam pembangunan infrastruktur publik. Demi kepentingan politik dan syahwat materi para oknum, kualitas pembangunan jembatan sengaja dikorbankan melalui berbagai tekanan serta pemangkasan anggaran yang tidak masuk akal.
Di tengah pusaran tersebut, ada Kabul, seorang insinyur sipil idealis yang ditugaskan memantau proyek jembatan di Kali Cibawor. Sebagai mantan aktivis sekaligus anak petani, Kabul memegang teguh prinsip cablaka, sebuah nilai luhur untuk selalu bicara apa adanya dan bertindak jujur. Namun, di lapangan, kejujuran justru menjadi duri yang membuatnya tersisih.
Benturan Idealisme di Tengah Kebusukan Sistem
Orang-Orang Proyek menyuguhkan potret kontras mengenai praktik penipuan yang terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Di lapisan bawah, terdapat pekerja yang mencuri paku atau besi demi bertahan hidup. Sementara itu, di lapisan atas, berdiri sosok Dalkijo, pemimpin proyek sekaligus atasan Kabul. Dalkijo adalah antitesis dari Kabul; meski sama-sama berasal dari keluarga petani, Dalkijo memilih jalan pragmatis dan glamor.
Baginya, keuntungan proyek adalah segalanya, tidak peduli jika rakyat harus menanggung risiko jembatan yang rapuh. Ia bahkan tidak segan mencemooh Kabul sebagai insinyur naif hanya karena tetap memilih jalan jujur.
Ketegangan batin yang dialami Kabul sangatlah mendalam. Ia merasa lelah menghadapi sistem yang sudah telanjur busuk. Pada akhirnya, Kabul memilih untuk mundur demi menjaga idealismenya. Sebuah pilihan pahit yang melempar pertanyaan retoris kepada pembaca: Apakah orang jujur memang tidak memiliki tempat dalam sistem yang cacat?
Kelebihan
Menariknya, di tengah narasi yang berat, Tohari tetap menyisipkan sisi kemanusiaan yang hangat. Kehadiran Wati memberikan nuansa romansa yang manis, sementara karakter Pak Tarya, pensiunan yang hobi memancing, hadir sebagai oase kebijaksanaan. Melalui Pak Tarya, Kabul belajar untuk melihat kehidupan dengan lebih jernih di tengah hiruk-pikuk dunia proyek yang kotor.
Novel ini sangat relevan dibaca oleh generasi muda. Ahmad Tohari tidak hanya menguak kasus korupsi yang telah berakar, tetapi juga berhasil mengusik nurani kita tentang arti integritas. Orang-Orang Proyek adalah pengingat yang kuat bahwa di balik megahnya sebuah bangunan fisik, sering kali ada cerita tentang kejujuran yang dikorbankan demi kepentingan sesaat. Sebuah karya yang akan mengubah cara pandang kita terhadap nilai sebuah pengabdian. Jika menyenangkan, sebarkan; jika tidak, beri tahu!
Identitas Buku
- Judul Buku: Orang-Orang Proyek
- Penulis: Ahmad Tohari
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tebal Buku: 253 halaman
Baca Juga
-
Di Bawah Lampu Loteng: KKN, Kenangan, dan Perpisahan
-
Jangan Disalahkan, Korban Baper Akibat "Pemberi Harapan Palsu" Adalah Korban Ketidakadilan Emosional
-
Menembus Batas, Menyapa Cengkeh: Petualangan KKN Paling Berkesan di Tanah Dengeng-Dengeng
-
Antara Pompa Air yang Haus dan Pangkalan Gas yang Bisu di Tengah Kemarau
-
Reuni Kemerdekaan di Warkop: Antara Secangkir Kopi dan Makna Merdeka
Artikel Terkait
-
Pecinta Buku Wajib Tahu! Ini 5 Film Adaptasi Novel Tayang di Bioskop 2026
-
Deretan Aktor Ini Digaet Bintangi Adaptasi Korea dari Novel Keigo Higashino
-
Orang-Orang Oetimu: Satir Kelam dan Gugatan Kemanusiaan dari Tanah Timor
-
Menggugat Eksploitasi Alam di Novel Jejak Balak Karya Ayu Welirang
-
Lebih dari 13 Juta Kopi Terjual, Ascendance of a Bookworm Makin Populer
Ulasan
-
Ulasan Novel 'Partikel': Formula Hollywood di Balik Karya Dee Lestari
-
Sejarah Jawa Jilid II: Masyarakat, Agama, dan Tradisi dalam Catatan Raffles
-
Mengupas 'Emanon', Manga Sci-Fi Santai yang Bikin Overthinking Soal Makna Kehidupan
-
Lika-Liku Kejar Mimpi di Usia Kepala Empat, 'Timun Jelita' Hadirkan Konflik Sahabat dan Ambisi
-
Di Tanah Lada: Apakah Mati Jadi Jalan Keluar Terbaik untuk Ava?
Terkini
-
Fenomena Split Bill Gen Z: Mengurai Relasi Kuasa Patriarki di Meja Makan
-
Rela Lepas Cuan Jutaan Dolar demi Privasi Anak, Keputusan PewDiePie Patut Ditiru Ortu Zaman Now!
-
Dari Warkop DKI hingga Pandji: Menelusuri Komedi Sebagai Alat Perlawanan
-
Anime Welcome to Demon School, Iruma-kun Umumkan Proyek Film Pertama
-
Nasib Tragis The Transporter: Ditinggal Jason Statham, 2 Aktor Penggantinya Gagal Total!