Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Tujuh Kelana (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Dunia sastra fantasi Indonesia terus berkembang dengan hadirnya berbagai karya yang mencoba memadukan imajinasi luas dengan latar budaya yang beragam. Salah satu novel yang cukup menarik adalah Tujuh Kelana karya Nellaneva yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.

Novel ini menawarkan kisah petualangan penuh misteri yang berpusat pada seorang gadis muda bernama Zarra Mediana dan pencarian tujuh permata ajaib yang menyimpan kekuatan besar.

Cerita dimulai dari kehidupan Zarra yang sebenarnya cukup biasa. Gadis berusia 19 tahun itu tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah drastis hanya karena rasa ingin tahu yang sederhana.

Sinopsis Novel

Suatu hari ia menemukan sebuah permata merah berbentuk bulan sabit di antara barang-barang peninggalan kakeknya. Ketika menyentuhnya, permata itu memancarkan cahaya terang yang memenuhi ruangan. Peristiwa aneh itu menjadi awal dari rangkaian kejadian tak terduga yang mengubah hidup Zarra.

Malam setelah penemuan tersebut, seorang lelaki misterius bermasker hitam muncul dan mengancamnya. Ia menuntut agar Zarra menyerahkan permata tersebut, karena benda itu dipercaya dapat membuka sebuah “gerbang” yang menyimpan kekuatan luar biasa. Dari sinilah Zarra mulai menyadari bahwa permata itu bukan sekadar benda peninggalan keluarga, melainkan bagian dari rahasia besar yang diincar banyak pihak.

Dalam perjalanan memahami misteri tersebut, Zarra bertemu dengan Alto Rialtiorre, seorang pria yang mengetahui lebih banyak tentang dunia yang selama ini tersembunyi dari manusia biasa.

Bersama Alto, Zarra memulai petualangan panjang untuk mencari enam permata lain sebelum jatuh ke tangan para pengkhianat. Perjalanan mereka membawa keduanya menjelajahi berbagai tempat di dunia, menghadapi bahaya, dan mengungkap rahasia yang selama ini tersembunyi.

Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada pembangunan dunia atau world building-nya. Penulis memperkenalkan berbagai kelompok makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia. Ada Kaum Aristokrat yang memiliki umur panjang dan kekuatan luar biasa sehingga sering dianggap seperti dewa.

Ada pula Kaum Pelindung, makhluk yang memiliki kemampuan lebih tinggi daripada manusia dan terbagi ke dalam sembilan klan dengan ciri khas masing-masing. Selain itu, terdapat juga manusia yang telah “diubah” oleh Kaum Aristokrat.

Penjelasan mengenai dunia tersebut disampaikan secara bertahap, sehingga pembaca tidak langsung dibanjiri informasi di awal cerita. Pendekatan ini membuat sistem sihir dan struktur sosial dalam novel terasa lebih alami dan mudah dipahami.

Kelebihan dan Kekurangan

Dalam genre fantasi, dua elemen penting yang sering menentukan kualitas cerita adalah magic system dan world building, dan keduanya cukup terasa kuat dalam Tujuh Kelana.

Selain itu, adegan aksi dalam novel ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Banyak bagian cerita yang terasa sangat visual, bahkan beberapa pembaca merasa pengalaman membaca novel ini seperti sedang menyaksikan komik atau animasi petualangan. Pertarungan, pengejaran, serta konflik antar tokoh digambarkan dengan cukup jelas sehingga mudah dibayangkan.

Tokoh utama, Zarra Mediana, digambarkan sebagai karakter yang tidak sempurna. Ia sering gegabah, mudah minder, dan terkadang emosional. Namun justru sifat-sifat itu membuatnya terasa lebih manusiawi dan mudah dipahami pembaca. Banyak orang mungkin melihat sebagian sifat Zarra sebagai refleksi diri mereka sendiri: rasa ragu, ketakutan, tetapi juga keberanian untuk terus melangkah.

Meski demikian, novel ini tidak lepas dari beberapa kritik. Salah satunya yaitu jumlah tokoh yang sangat banyak. Karakter seperti Dion, Grenn, Ares, dan lainnya memang hadir dalam cerita, tetapi tidak semuanya mendapatkan pengembangan yang mendalam. Beberapa tokoh terasa hanya menjadi pendamping perjalanan Zarra tanpa peran yang benar-benar kuat dalam alur cerita.

Hubungan romantis antara tokoh utama terasa kurang natural dan muncul di momen yang kurang tepat, terutama ketika cerita sedang berada dalam situasi tegang. Dan agaknya romansa tersebut terasa terlalu sederhana untuk karakter yang sudah berusia dewasa.

Meski memiliki kekurangan, Tujuh Kelana tetap berhasil menghadirkan pengalaman membaca yang seru. Petualangan yang penuh kejutan, misteri permata, serta dunia fantasi yang luas membuat novel ini mampu membangkitkan rasa ingin tahu pembaca hingga halaman terakhir. Bahkan ending cerita menghadirkan keputusan penting yang diambil Zarra dengan cara yang cukup cerdas.

Secara keseluruhan, novel ini merupakan salah satu contoh menarik dari perkembangan fantasi modern di Indonesia. Dengan perpaduan unsur Barat dan sentuhan lokal yang tetap terasa, Tujuh Kelana menawarkan perjalanan imajinatif yang mampu membawa pembaca menjelajahi dunia yang penuh rahasia, konflik, dan pilihan besar yang menentukan masa depan.

Identitas Buku

  • Judul: Tujuh Kelana
  • Penulis: Nellaneva
  • Penerbit: Elex Media Komputindo
  • Tahun Terbit: 2024 (Cetakan Kedua)
  • ISBN: 9786-230-019-14-2
  • Tebal: 384 halaman
  • Kategori: Fiksi, Fantasi
  • Genre: Fantasi Lokal/Remaja