Sekar Anindyah Lamase | Yas Julia
Film Na Willa (Instagram/nawillaofficial)
Yas Julia

Film Na Willa hadir sebagai salah satu tontonan keluarga yang meramaikan libur Lebaran 2026. Diproduksi oleh Visinema Studios dan disutradarai oleh Ryan Adriandhy, film ini diadaptasi dari karya Reda Gaudiamo yang dikenal dengan cerita-cerita hangat tentang dunia anak. Dengan durasi hampir dua jam, Na Willa mencoba membawa penonton masuk ke dunia kecil yang sederhana, tapi penuh makna.

Film ini berfokus pada Willa seorang anak perempuan berusia enam tahun yang melihat dunia sebagai tempat yang penuh keajaiban. Ia tumbuh di sebuah gang di Surabaya, di mana kesehariannya diisi dengan bermain, berimajinasi, dan menjelajahi hal-hal kecil yang terasa besar bagi seorang anak.

Namun, cerita mulai bergerak ketika perubahan datang. Teman-temannya mulai masuk sekolah, bahkan salah satu sahabatnya mengalami kecelakaan. Dunia yang awalnya terasa ramai dan menyenangkan perlahan menjadi sepi. Dari sini, film mulai menyentuh tema yang lebih dalam, tentang kehilangan, perubahan, dan proses tumbuh.

Salah satu kekuatan utama Na Willa terletak pada cara penyampaian ceritanya. Dengan sudut pandang anak kecil, film ini berhasil menghadirkan pengalaman yang jujur dan polos. Penonton diajak melihat bagaimana perubahan besar dalam hidup orang dewasa bisa terasa sangat membingungkan bagi anak-anak. Ini menjadi poin plus karena film tidak menggurui, melainkan mengajak memahami.

Dari segi visual, film ini juga patut diapresiasi. Suasana yang dihadirkan terasa lembut, hangat, dan penuh warna. Detail latar seperti gang kecil, rumah-rumah sederhana, hingga suasana Surabaya tahun 1960-an digambarkan dengan cukup hidup. Nuansa nostalgia terasa kuat, terutama bagi penonton dewasa yang mungkin pernah merasakan masa kecil serupa.

Kelebihan lainnya ada pada kualitas akting para pemerannya. Terutama performa Luisa Adreena sebagai Willa terasa sangat natural, mampu menggambarkan karakter anak kecil yang penuh rasa ingin tahu tanpa terdengar berlebihan.

Emosi yang disampaikan terasa tulus, terutama dalam momen-momen ketika Willa mulai merasa kehilangan dan kebingungan. Interaksi dengan karakter lain seperti Mak, Pak, dan teman-temannya juga terasa hangat dan hidup, membuat hubungan antar karakter terasa autentik.

Namun, di balik semua kehangatan itu, film ini tidak lepas dari kekurangan. Salah satu yang paling terasa adalah minimnya penggunaan dialek Surabaya. Mengingat latarnya yang sangat khas, penggunaan bahasa Indonesia baku justru membuat suasana terasa kurang “hidup”. Dialog yang terdengar terlalu formal sedikit mengurangi kedekatan emosional dengan setting lokal yang sebenarnya punya potensi besar.

Selain itu, alur cerita film ini cenderung berjalan lambat dan minim konflik besar. Bagi sebagian penonton, terutama yang terbiasa dengan cerita yang lebih dinamis, hal ini bisa terasa membosankan. Film ini lebih mengandalkan momen-momen kecil daripada plot yang kuat, sehingga tidak semua orang akan merasa terikat secara emosional hingga akhir.

Meski begitu, Na Willa tetap berhasil menyampaikan pesan yang cukup dalam tentang arti tumbuh dan menerima perubahan. Film ini mengingatkan bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai keinginan, tetapi selalu ada cara baru untuk menemukan kebahagiaan.

Secara keseluruhan, Na Willa adalah film yang hangat, sederhana, dan penuh makna, meski belum sepenuhnya maksimal dalam menggali potensi lokalnya.

Skor: 8/10

Film ini cocok ditonton bersama keluarga, terutama bagi yang ingin menikmati cerita ringan dengan sentuhan emosional. Na Willa bukan film yang penuh konflik, tapi cukup untuk membuat penonton tersenyum kecil dan mungkin sedikit merenung setelahnya.