Film Michael terasa kayak panggung megah yang dihiasi panorama cahaya, tapi di balik gemerlap itu, ada cerita yang jauh lebih memilukan. Tentang bagaimana didikan keras bisa membentuk sekaligus meretakkan seseorang dari dalam.
Disutradarai Antoine Fuqua, film ini mencoba merangkum perjalanan hidup Michael Jackson dari masa kecilnya bersama Jackson 5 di era 60-an hingga puncak kejayaan solo di era 80-an melalui album seperti Thriller. Itu merupakan perjalanan yang, ‘di atas kertas’, terlihat sangat membanggakan dan bisa dikatakan sebagai ‘kemenangan’. Namun, kalau ditarik lebih dalam, semua itu didapat nggak semulus jalan tol, yang mana ada luka yang mengendap.
Film ini mengikuti Michael kecil yang tumbuh di bawah bayang-bayang sosok ayahnya, Joseph Jackson, yang diperankan dengan Colman Domingo. Sejak awal, hubungan mereka sudah terasa nggak sehat. Bukan sekadar disiplin, tapi tekanan yang nyaris tanpa jeda. Latihan panjang, tuntutan perfeksionisme, dan hukuman fisik jadi bagian dari keseharian. Bahkan di usia yang masih sangat belia, Michael sudah dipaksa memahami satu hal: kesalahan sekecil apa pun punya konsekuensi.
Di titik ini, film sebenarnya punya bahan yang sangat kuat. Didikan keras bukan cuma latar belakang, tapi fondasi psikologis yang membentuk hampir seluruh hidup Michael. Ada rasa takut yang menetap, rasa nggak pernah cukup, dan kebutuhan untuk selalu tampil sempurna. Semua itu kemudian terbawa sampai Michael dewasa, termasuk rasa nggak percaya diri pada fisiknya sendiri, yang dalam banyak interpretasi berujung pada perubahan penampilan yang terus-menerus.
Menariknya, film juga sempat menyentuh sisi kontradiktif dari sosok Joseph. Di satu sisi, dia digambarkan sebagai figur yang intimidatif, bahkan cenderung kejam. Namun di sisi lain, metode keras itu juga yang mendorong lahirnya disiplin luar biasa dalam diri Michael dan saudara-saudaranya. Tanpa tekanan itu, mungkin Jackson 5 nggak akan pernah mencapai popularitas seperti yang kita kenal. Ini semacam ironi yang pahit.
Sayangnya, di sinilah film mulai terasa setengah hati.
Alih-alih menggali lebih dalam dinamika psikologis tersebut, narasinya bergerak terlalu cepat. Momen-momen penting seperti kekerasan fisik atau tekanan emosional hanya lewat sekilas, tanpa benar-benar memberi ruang bagi penonton untuk merasakan dampaknya. Padahal, di situlah inti cerita berada. Bukan sekadar ‘apa yang terjadi’ tapi ‘apa yang dirasakan’.
Penampilan Jaafar Jackson memang berhasil menangkap gestur, cara bergerak, bahkan aura panggung yang begitu khas. Pun ada momen-momen kecil di mana dia menunjukkan kerentanan (tatapan kosong), tubuh yang seolah-olah lelah menanggung ekspektasi. Di situ, untuk sesaat, film ini hampir menemukan jiwanya.
Namun lagi-lagi, momen itu cepat berlalu. Film ini terlalu sibuk melompat dari satu fase ke fase lain. Dari masa kecil ke ketenaran, dari panggung ke studio, tanpa benar-benar berhenti untuk menyelami konflik batin Michael. Lagu-lagu besar; Billie Jean atau Bad muncul sebagai penanda waktu, bukan sebagai hasil dari proses emosional yang kompleks. Padahal, kalau mau jujur, karya-karya itu lahir bukan cuma dari bakat, tapi juga dari tekanan, trauma, dan kebutuhan untuk ‘melarikan diri’ dari kenyataan.
Ada satu hal yang cukup mengganggu. Film ini kayak takut untuk benar-benar jujur. Film ini memperlihatkan luka, tapi nggak pernah benar-benar membukanya. Menyinggung trauma, tapi nggak membiarkan penonton duduk di dalamnya. Akibatnya, semua terasa seperti di atas permukaan. Terlalu rapi, indah, tapi dingin.
Padahal, cerita tentang didikan keras seperti ini seharusnya punya dampak emosional yang kuat. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk memahami. Bagaimana anak bisa tumbuh menjadi ikon dunia, tapi tetap membawa ketakutan masa kecilnya ke mana-mana. Bagaimana tepuk tangan jutaan orang nggak selalu mampu menutupi suara kecil di dalam kepala yang terus berkata, “Kamu belum cukup baik!”
Di titik itu, Film Michael terasa kehilangan kesempatan emasnya. Yup, punya cerita besar, karakter kompleks, dan aktor yang mampu menghidupkannya. Sayangnya, karena pendekatan narasinya yang dangkal, semua itu jadi terasa bak potongan-potongan yang nggak benar-benar menyatu.
Akhirnya, yang tersisa adalah ironi. Sebuah film tentang sosok yang begitu manusiawi, tapi terasa kurang manusia.
Apakah Sobat Yoursay sudah nonton Film Michael? Bagaimana pendapatmu tentang film ini? Sah-sah saja bila kamu berbeda pendapat kok.
Baca Juga
-
Bukan Lagi Dilan yang Kita Kenal: Mengapa 'Dilan ITB 1997' Lebih Sunyi dan Penuh Luka?
-
Spoiler Alert! Tujuh Seni Kematian yang Dipentaskan Film Ghost in the Cell
-
Mendobrak Eksplorasi Provokatif lewat Benturan Humor Gelap Film The Drama
-
Sinisme Ghost in the Cell, Saat Kematian Disulap Jadi Karya Seni
-
Mengulik Petrova Line, Garis Ancaman Kiamat dalam Film Project Hail Mary
Artikel Terkait
Ulasan
-
Teka-teki untuk Anak Kepo: Pohon Tua, Tengkorak, dan Permainan Aneh
-
Novel The Barn Identity: Misteri Kerangka Manusia di Dalam Lumbung
-
Ulasan Novel Beauty Case, Membedah Obsesi Standar Kecantikan bagi Perempuan
-
Review Film Monster: Refleksi Diri tentang Prasangka Kita pada Orang Lain
-
Potret Hidup yang Perih dan Berisik dalam Novel Jakarta Selintas Aram
Terkini
-
Pendidikan untuk Perempuan: Kunci Memutus Rantai Ketimpangan, Sudah on Track?
-
Fenomena Melihat Hantu: Antara Halusinasi atau Cuan yang Harus Dieksekusi?
-
4 Cleansing Balm Bersihkan Makeup Remover, Harga Affordable Cuma Rp24 Ribu
-
Sempat Ramai, Sekuel Film Clueless Batal Dibuat
-
Hangout Makin Kece dengan Sontek 4 Ide Daily OOTD ala Karina aespa Ini!