Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Kuncen (IMDb)
Ryan Farizzal

Film horor Indonesia terus berkembang, dan Kuncen garapan Jose Poernomo menjadi salah satu yang paling dinanti di akhir 2025. Dirilis di bioskop pada 6 November 2025 melalui HERS Productions dan Cinevara, film berdurasi 1 jam 47 menit ini menggabungkan elemen pendakian gunung, mitos lokal, dan teror supranatural.

Dengan latar Gunung Merbabu yang mistis, Kuncen tidak sekadar menghadirkan jumpscare murahan, melainkan membangun ketegangan melalui suasana yang mencekam dan kepercayaan masyarakat sekitar. Meski rating IMDb-nya berada di angka 5,2 dari lebih dari seribu penilaian, film ini tetap layak ditonton bagi pencinta horor lokal yang haus cerita berbasis folklor Indonesia.

Sinopsisnya sederhana tapi memikat. Awindya (Azela Putri), seorang siswi SMA yang nekat, memutuskan mendaki Gunung Merbabu setelah pacarnya, Devlin (Thomi Baraqbah), hilang kontak selama 24 jam. Ia mengajak dua sahabatnya, Agnes (Vonny Felicia) dan Mojo (Mikha Hernan), untuk menyusul. Sesampainya di desa kaki gunung, mereka mendapati kenyataan mengerikan: sang Kuncen—penjaga gunung yang bertugas menjaga keseimbangan alam gaib—tewas tragis akibat ilmu hitam. Tanpa Kuncen, gerbang gaib terbuka lebar. Makhluk-makhluk tak kasatmata bebas berkeliaran, mengancam siapa pun yang berani memasuki wilayah suci itu.

Awindya dan kelompoknya lalu bertemu Yoga (Cinta Brian) dan Diska (Davina Karamoy), dua pendaki lain yang juga kehilangan orang terdekat. Bersama, mereka berusaha mencari pengganti Kuncen baru agar teror bisa dihentikan. Cerita berkembang dari pencarian sederhana menjadi perjalanan penuh misteri, di mana batas antara dunia nyata dan alam gaib semakin tipis.

Sutradara Jose Poernomo, yang juga menulis skenario, berhasil memanfaatkan mitos “kuncen” sebagai metafor penjaga alam. Ini bukan sekadar horor hantu biasa, melainkan kritik halus tentang manusia yang mengganggu keseimbangan alam karena ego dan keputusasaan.

Salah satu kekuatan terbesar film Kuncen justru berada pada sinematografi dan suasana mencekam yang dibangunnya dengan sangat apik. Adegan-adegan lebar yang menampilkan lereng Gunung Merbabu diselimuti kabut tebal, hutan gelap yang semakin menyempit seiring perjalanan, serta hembusan angin malam yang seolah membawa bisikan-bisikan gaib, berhasil menciptakan rasa sesak di dada yang terasa sangat nyata dan mendalam.

Film ini tidak mengandalkan CGI berlebihan atau efek visual yang memaksa. Justru terornya lebih banyak bersifat tak kasat mata—seperti bayangan samar yang sekilas terlihat di balik pepohonan, bunyi langkah kaki tanpa ada sosok yang terlihat, atau rintihan suara yang memanggil nama orang-orang terkasih. 

Review Film Kuncen

Salah satu adegan di film Kuncen (Instagram.com/hersproduction)

Kalau menurutku sih, film horor yang tidak langsung ditunjukkan secara jelas ini jauh lebih menakutkan dibandingkan yang dihadirkan secara gamblang di layar. Efek suara yang halus dan scoring musik minimalis semakin memperkuat nuansa mencekam tanpa harus bergantung pada jumpscare murahan yang mudah ditebak.

Adegan pendakian di malam hari terasa begitu realistis, membuat saya yang pernah merasakan pengalaman hiking langsung merinding karena familiaritasnya dengan suasana dingin, sepi, dan penuh ketidakpastian di pegunungan. Semua elemen itu menyatu dengan baik, sehingga atmosfer horornya tidak hanya terasa menegangkan, tapi juga autentik dan membekas lama di benakku. 

Akting para pemeran utama menjadi sorotan utamaku. Azela Putri sebagai Awindya memberikan penampilan yang penuh emosi, meski karakter utamanya annoying dan pick-me. Sikap keras kepalanya memang membuatku sedikit kesal, tapi itu justru menjadi bagian dari konflik internal film.

Vonny Felicia dan Mikha Hernan menyuntikkan elemen komedi ringan lewat chemistry persahabatan mereka, yang menjadi jeda emosional di tengah horor. Davina Karamoy sebagai Diska dan Cinta Brian sebagai Yoga terasa lebih matang dan memberikan keseimbangan. Sayangnya, beberapa dialog terasa kaku dan pengembangan karakter kurang mendalam, membuatku sulit benar-benar peduli dengan nasib mereka.

Kelebihan lain adalah integrasi romansa dan persahabatan di tengah teror. Awalnya terasa klise, tapi justru menjadi napas segar yang membuat karakter terasa manusiawi. Unsur misteri siapa Kuncen baru juga dijaga dengan baik, membuat penonton terus menebak hingga akhir. Akan tetapi, film ini bukan tanpa kekurangan. Beberapa plot hole dan genre confusion—campuran horor, petualangan, komedi, dan drama—membuat tone kadang tidak konsisten. Eksekusi cerita terasa terburu-buru di paruh akhir, dan akting pendukung sesekali kurang meyakinkan. Buat kamu yang mencari horor murni tanpa elemen remaja, ini bisa jadi pengganggu.

Secara keseluruhan, Kuncen berhasil menghadirkan horor lokal yang segar dengan memanfaatkan lokasi Gunung Merbabu sebagai karakter utama. Film ini mengingatkan kita pada pentingnya menghormati alam dan mitos leluhur, sekaligus memberikan hiburan menegangkan selama hampir dua jam.

Bagi penggemar film seperti Pengabdi Setan atau Suzzanna yang suka nuansa mistis Indonesia, Kuncen layak ditonton. Rating pribadi dariku: 6.5/10. Bukan masterpiece, tapi cukup greget untuk mengusik rasa penasaran dan membuatmu berpikir dua kali sebelum mendaki gunung sendirian di malam hari.

Film Kuncen kini resmi tersedia untuk streaming di Netflix Indonesia mulai 19 Maret 2026. Kamu bisa menontonnya kapan saja dengan langganan Netflix tanpa tambahan biaya. Tidak ada opsi gratis legal saat ini, jadi pastikan menggunakan platform resmi agar mendukung industri perfilman lokal.

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, Kuncen membuktikan bahwa horor Indonesia masih punya banyak potensi. Kalau kamu suka cerita gunung berbalut gaib, film ini adalah pilihan tepat untuk malam weekend yang mencekam. Selamat menonton—dan ingat, jangan ganggu yang tidak boleh diganggu!