Eyes of Wakanda merupakan serial animasi antologi mini Marvel Studios yang dirilis secara eksklusif di Disney+ pada 1 Agustus 2025. Semua empat episode dirilis sekaligus, menandai serial pertama Phase Six MCU yang berlatar di Sacred Timeline.
Dibuat oleh Todd Harris dengan dukungan produser eksekutif Ryan Coogler, serial ini mengeksplorasi Hatut Zaraze—juga dikenal sebagai War Dogs—kelompok prajurit Wakanda yang menjalankan misi berbahaya di seluruh dunia untuk mengambil kembali artefak vibranium yang hilang.
Serial ini berfokus pada tema kerahasiaan, pengorbanan, dan warisan Wakanda sebagai kekuatan tersembunyi. Berbeda dengan What If...? yang bersifat alternatif, Eyes of Wakanda memperkaya lore utama MCU dengan menampilkan sejarah panjang para agen yang melindungi kerajaan dari eksposur teknologi vibranium. Animasi yang memukau, terinspirasi seni Afrika-Amerika kontemporer seperti Ernie Barnes, menghadirkan visual yang kaya, pencahayaan dramatis, dan desain produksi yang detail di setiap era sejarah.
Review Serial Eyes of Wakanda
Episode pertama, Into the Lion's Den (1260 SM), memperkenalkan Noni (disuarakan Winnie Harlow), mantan anggota Dora Milaje yang diasingkan. Ia ditugaskan menangkap Nkati alias The Lion (Cress Williams), mantan prajurit Wakanda yang membangun kerajaan bajak laut dengan teknologi curian.
Adegan pertarungan klimaks di kompleks bawah laut penuh ketegangan, di mana Noni menghadapi pasukan dan mengalahkan The Lion dalam duel intens. Adegan paling berkesan adalah saat Noni memilih bergabung dengan Hatut Zaraze daripada kembali ke Dora Milaje, menegaskan semangat independen dan dedikasi terhadap misi rahasia. Ini menjadi fondasi kuat bagi serial, menampilkan aksi memukau dan pengenalan organisasi War Dogs.
Episode kedua, Legends and Lies (1200 SM), berlatar Perang Troya. B'Kai (Larry Herron) menyamar sebagai Memnon di pasukan Yunani. Episode ini mengintegrasikan mitos Trojan Horse dengan twist Wakanda, termasuk pertarungan melawan Achilles yang ikonik. Adegan berkesan terjadi ketika B'Kai harus mengambil kalung vibranium dari Helen of Troy sambil menghadapi konflik moral, termasuk pertarungan dengan Achilles yang berujung pada luka tumit legendaris. Narasi ini menekankan pengorbanan identitas demi kerahasiaan Wakanda.
Episode ketiga, Lost and Found (1400 M), membawaku ke K'un-Lun. Agen Basha (Jacques Colimon) mencuri kepala patung naga berisi vibranium, yang memicu konfrontasi dengan Jorani (Jona Xiao), pemegang Iron Fist versi perempuan Tiongkok. Adegan paling memorable adalah pertarungan Jorani menggunakan kekuatan Iron Fist melawan pasukan Hatut Zaraze, serta momen emosional di ruang artefak di mana ia mengembalikan vibranium sambil menantang konsep kepemilikan. Episode ini mengeksplorasi tema kepercayaan dan etika pencurian.
Episode penutup, The Last Panther (1896 M), menjadi puncak ambisius. Prince Tafari dan mentornya Kuda (Steve Toussaint) mengambil kapak vibranium di Pertempuran Adwa. Kemunculan Black Panther masa depan (Anika Noni Rose) yang melakukan perjalanan waktu menghadirkan visi Wakanda hancur akibat isolasionisme. Adegan paling berkesan adalah konfrontasi dan visi masa depan ini, yang menghubungkan langsung dengan film Black Panther melalui kapak yang kelak dicuri Killmonger. Episode ini secara filosofis membenarkan keputusan T'Challa membuka Wakanda, sambil menampilkan aksi waktu-tempat yang inovatif.
Jadi bisa kusimpulkan, Eyes of Wakanda unggul dalam visual dan eksplorasi sejarah Wakanda yang mendalam. Animasi hand-painted-nya menciptakan kedalaman dan keindahan yang jarang ditemui, dengan palet warna vibrant yang sesuai era masing-masing. Akan tetapi, durasi pendek yang hanya empat episode sekitar 25-30 menit membuat beberapa cerita terasa kurang mendalam, terutama episode tengah yang bisa dengan mudah ditebak. Meski demikian, ini mencerminkan kekuatannya sebagai tambahan berharga bagi lore Black Panther.
Serial ini tersedia untuk streaming di Disney+ sejak 1 Agustus 2025 di seluruh wilayah termasuk Indonesia. Bagi penggemar MCU, khususnya Black Panther, ini adalah tontonan wajib yang memperkaya pemahaman tentang pengorbanan di balik kemegahan Wakanda. Eyes of Wakanda membuktikan bahwa mata-mata kerajaan bukan hanya pelindung, melainkan pahlawan tak dikenal yang membentuk takdir sebuah bangsa. Dengan potensi musim lanjutan, serial ini meninggalkan kesan mendalam tentang warisan, identitas, dan harga kerahasiaan. Rating pribadi: 7/10.
Baca Juga
-
Review Film Daayra: Hadirkan Realita Pahit Penegakan Hukum yang Dilematis!
-
Review Crew Girl: Kisah Perjuangan Atlet Remaja Mempertahankan Impian!
-
Review Drawn Together: Kisah Cinta Pengawal Pribadi Penuh Ketegangan Seru!
-
Review Neagley: Drama Aksi Khas Reacher dengan Sentuhan Lebih Emosional
-
Ulasan Film Akal Imitasi: Saat Teknologi Canggih Mulai Menggantikan Guru
Artikel Terkait
Ulasan
-
Poret Pendidikan di Pinggiran Kuala Mesuji dalam Novel Anak-Anak Kuala
-
3 Buku Parenting Rekomendasi Nikita Willy, Sukses Didik Anak Tumbuh Optimal
-
Review Serial 10 PM: Ketika Teknologi Membuka Pintu Menuju Dunia Lain
-
Review Avengers: Endgame Encore, Bocoran 4 Adegan Baru yang Menggoda Fans
-
Jika Boring, Jangan Lupa Touring: Menikmati Lautan Awan di Puncak Malangsari
Terkini
-
Niti Rumat: Ketika Kurator Seni Rupa Tak Hanya Pameran, tapi Juga Merawat Sejarah
-
Bukan Buat Perang, Ini Alasan RI Butuh Kapal Induk
-
Bebas Kilap! 4 Physical Sunscreen Silica untuk Kontrol Sebum Kulit Sensitif
-
HUAWEI MatePad Air 2026: Tablet Tipis dengan Layar OLED 144Hz dan AI untuk Kerja Lebih Cerdas
-
Slow Dating: Tak Mau Terburu-buru atau Menghindari Hubungan Intens di Awal?