Novel "Sociopath: A Memoir" karya Patric Gagne bukan sekadar buku biografi biasa, ia adalah sebuah dekonstruksi radikal terhadap stigma kesehatan mental yang paling ditakuti di masyarakat. Melalui narasi yang jujur, tajam, dan terkadang provokatif, Gagne mengajak pembaca masuk ke dalam struktur otak dan batin seseorang yang didiagnosis memiliki kepribadian sosiopat, sebuah istilah yang selama ini identik dengan monster dalam film thriller.
Sebagian besar dari kita tumbuh dengan pemahaman bahwa sosiopat adalah "predator" yang tidak memiliki perasaan. Namun, Patric Gagne menyuguhkan perspektif yang berbeda, kekosongan. Sejak masa kanak-kanak, Gagne menyadari bahwa ia tidak merasakan emosi seperti anak-anak lainnya. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada empati yang meluap-luap, dan yang paling mencekam adalah absennya rasa takut.
Gagne menggambarkan kondisi internalnya sebagai sebuah "tekanan" atau kegelisahan yang hanya bisa diredakan dengan melakukan tindakan impulsif atau melanggar aturan. Bagian awal buku ini sangat menarik karena ia menceritakan bagaimana ia mencuri mainan atau masuk ke rumah orang asing bukan karena motif keuntungan material, melainkan untuk merasakan "sesuatu" guna mengisi kekosongan emosional yang hampa tersebut.
Salah satu poin terkuat dalam buku ini adalah bagaimana Gagne mengedukasi pembaca bahwa sosiopati (yang secara klinis dikenal sebagai Antisocial Personality Disorder atau ASPD) berada dalam sebuah spektrum. Ia berargumen bahwa:
Tidak semua sosiopat adalah penjahat. Banyak yang hidup di antara kita sebagai profesional yang sukses.
Emosi sosiopat tidak mati, melainkan terbatas. Gagne menunjukkan bahwa ia bisa merasakan kasih sayang, meskipun bentuknya sangat berbeda dari standar neurotipikal.
Buku ini secara brilian memetakan transisi Gagne dari seorang anak yang bingung menjadi seorang wanita dewasa yang berusaha membangun kehidupan fungsional. Gagne mengakui bahwa ia menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan melakukan "masking", sebuah teknik meniru emosi orang lain agar bisa berbaur.
Inti dari konflik batin dalam novel ini adalah pencarian Gagne akan validasi medis. Ia merasa frustrasi karena dunia medis seringkali menganggap sosiopat sebagai kasus yang "tidak bisa disembuhkan" atau "jahat secara inheren." Gagne menolak narasi tersebut. Ia mengejar gelar doktor dalam bidang psikologi justru untuk memahami dirinya sendiri dan mencari cara agar orang-orang seperti dirinya bisa hidup tanpa harus merugikan orang lain.
Interaksinya dengan suaminya, David, menjadi salah satu bagian paling menyentuh sekaligus membingungkan dalam buku ini. Bagaimana seseorang yang tidak memiliki empati bisa mencintai? Gagne menjawabnya dengan menunjukkan komitmen dan kesetiaan yang logis. Kejujurannya kepada David tentang kondisinya adalah sebuah titik balik yang menunjukkan bahwa integritas bisa ada tanpa perlu didorong oleh rasa bersalah moral konvensional.
Gagne menulis dengan gaya yang sangat khas. Kalimat-kalimatnya lugas, tanpa bunga-bunga emosional yang berlebihan, mencerminkan cara berpikirnya sendiri. Namun, justru karena kejujuran yang "dingin" itulah, buku ini terasa sangat intim. Pembaca tidak diajak untuk mengasihani penulis, melainkan untuk mengamati dunia melalui lensa yang sangat jernih dan objektif.
Ia menggunakan humor gelap (dark humor) untuk meringankan situasi yang bagi orang normal mungkin sangat mengerikan. Keberaniannya untuk mengakui pikiran-pikiran gelapnya tanpa sensor membuat pembaca merasa tidak nyaman, namun di situlah letak kekuatan bukunya. Ia tidak mencoba menjadi pahlawan, ia hanya mencoba menjadi jujur.
Melalui memoar ini, Gagne melancarkan kritik tajam terhadap manual diagnostik seperti DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Ia merasa bahwa label "sosiopat" telah dirampas oleh budaya populer dan sistem hukum, sehingga mengabaikan kebutuhan terapeutik bagi individu yang menderita kondisi tersebut.
"Sociopath" karya Patric Gagne adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang tertarik pada psikologi manusia. Buku ini menantang prasangka kita tentang moralitas dan kejahatan. Ia membuktikan bahwa perilaku adalah pilihan, sementara emosi adalah biologi.
Pesan utama yang bisa diambil adalah, seseorang bisa menjadi "baik" secara sosial meskipun secara internal mereka tidak merasakan dorongan emosional untuk menjadi baik. Gagne menunjukkan bahwa dengan kontrol diri, pemahaman intelektual terhadap etika, dan bantuan medis yang tepat, seorang sosiopat bisa menjadi anggota masyarakat yang produktif dan bahkan penyayang.
Secara keseluruhan, novel ini adalah sebuah pencapaian luar biasa dalam literatur memoar. Patric Gagne berhasil melakukan sesuatu yang mustahil, ia memberikan suara pada kondisi yang selama ini dianggap tidak memiliki suara hati. Ia mengubah sosok "monster" di bawah tempat tidur kita menjadi sosok manusia yang kompleks, cacat, namun sangat berusaha untuk tetap "manusiawi".
Identitas Buku
Judul: Sociopath
Penulis: Patric Gagne
Penerbit: Simon & Schuster
Tanggal Terbit: 2 April 2024
Tebal: 368 Halaman
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Review Drama The Early Spring, Hubungan Toxic Antara Bos Dan Bawahan
-
Review Drama Cases Between Us, Memecahkan Kasus Kejahatan di Era Republik
-
Buku All The Bright Places, Meruntuhkan Stigma Negatif Isu Mental Health
-
Drama Reborn Rich, Balas Dendam dan Intrik Rahasia Cucu Konglomerat Korea
-
Review Drama As You Stood By, Ketika Hukum Gagal Melindungi Korban KDRT
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Serial Ted Lasso Season 3: Akhir Kisah Persahabatan Roy dan Jamie
-
TKW Mencari Surga: Potret Kehidupan Tenaga Kerja Wanita yang Tak Banyak Diketahui Orang
-
Tahun Itu Berlalu Begitu Cepat Vol 2: Ketika Masa Lalu Kembali Mengusik
-
Review Your Personal Taxi: Kisah Taksi Antik Penyembuh Luka Batin Penumpang
-
Ulasan Buku Look! A Bear!: Tentang Persahabatan yang Melampaui Perbedaan
Terkini
-
Kemewahan Jeda: 10 Menit Tidak Produktif Bukan Berarti Membuang Waktu
-
Batin Tersiksa Gara-Gara Selalu Bilang 'Iya'? Ini 4 Cara Bebaskan Diri dari Rasa Bersalah
-
Membongkar Crab Mentality: Saat Perempuan Dipaksa Berebut Sisa Sumber Daya
-
VIVIZ Terancam Ganti Nama Grup Usai Eunha, SinB, Umji Gabung Agensi Baru
-
Ramai Jasa Bikin Surat Sakit Palsu: Bukti Karyawan Makin Licik atau Budaya Kerja yang Toxic?