Buku Katjang Tjina dalam Kuliner Nusantara menghadirkan pengalaman membaca yang tidak biasa, terutama bagi pecinta kuliner tradisional Indonesia.
Alih-alih sekadar menyajikan resep atau deskripsi makanan, buku ini mengajak pembaca menyelami sejarah, budaya, hingga filosofi di balik salah satu elemen penting dalam masakan Nusantara: kacang tanah, atau yang dalam istilah lama disebut “katjang tjina.”
Melalui pendekatan yang unik, buku ini berfokus pada pecel sebagai pintu masuk utama.
Dari awal, pembaca sudah diajak berpikir kritis lewat pertanyaan-pertanyaan sederhana namun menggugah: apa bedanya pecel dan pecak? Apakah pecel ayam sama dengan pecel lele? Dan bagaimana hubungan antara rujak cingur dan pecel sayur?
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi benang merah yang mengikat keseluruhan isi buku, sekaligus memperlihatkan betapa kaya dan kompleksnya kuliner Indonesia.
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada eksplorasi etimologi kata “pecel.” Penulis menelusuri jejak istilah tersebut hingga ke prasasti dan kakawin Jawa Kuno, membuka wawasan bahwa makanan yang kini dianggap sederhana ternyata memiliki akar sejarah yang panjang.
Pembaca diajak memahami bahwa pecel bukan sekadar hidangan, melainkan bagian dari perjalanan budaya yang telah melewati berbagai zaman.
Tidak berhenti di sana, buku ini juga menghadirkan perjalanan menarik melalui kisah Cebolang dalam Serat Centhini.
Dengan gaya narasi yang mengalir, pembaca diajak berkeliling desa, kampung, hingga kota untuk menemukan berbagai bentuk pecel yang hidup di masyarakat abad ke-19.
Penggambaran ini terasa hidup, seolah-olah kita ikut berjalan bersama tokoh tersebut, mencicipi pecel dari satu tempat ke tempat lain.
Bagian yang paling memikat adalah ketika buku ini menggambarkan transformasi pecel dari masa ke masa.
Dari sepincuk pecel beralaskan daun pisang atau jati yang dijajakan oleh Mbok Pecel keliling di Stasiun Cornelis Batavia tahun 1919, hingga penyajiannya di era modern dengan piring plastik.
Perubahan ini tidak hanya menunjukkan perkembangan zaman, tetapi juga menggambarkan bagaimana kuliner beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.
Selain itu, pembahasan mengenai kacang tanah sebagai bahan utama bumbu pecel juga menjadi sorotan penting.
Buku ini mengupas peran kacang tanah tidak hanya sebagai bahan makanan, tetapi juga sebagai simbol akulturasi budaya.
Istilah “katjang tjina” sendiri mengisyaratkan adanya pengaruh Tionghoa dalam perjalanan kuliner Nusantara, yang kemudian berbaur dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas lokal.
Dari segi gaya bahasa, buku ini terasa khas dan kaya nuansa. Penulis menggunakan bahasa yang semi-akademis namun tetap komunikatif, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Ada sentuhan sastra dan sejarah yang membuat pembacaan terasa lebih dalam, meskipun di beberapa bagian mungkin terasa cukup padat bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan istilah atau referensi budaya Jawa klasik.
Kelebihan lain dari buku ini adalah kemampuannya menghubungkan kuliner dengan aspek sosial dan budaya.
Pecel digambarkan sebagai makanan yang “mudah berselingkuh,” dalam arti mampu beradaptasi dan berpadu dengan berbagai jenis lauk dan tradisi kuliner lain.
Hal ini menjadi metafora yang menarik untuk menggambarkan fleksibilitas dan keterbukaan budaya Indonesia.
Namun, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan. Bagi pembaca yang mencari panduan praktis atau resep, buku ini mungkin terasa kurang relevan.
Fokusnya yang lebih pada sejarah dan narasi budaya membuatnya lebih cocok sebagai bacaan reflektif daripada referensi memasak.
Selain itu, penggunaan istilah dan referensi klasik bisa menjadi tantangan tersendiri bagi pembaca awam.
Secara keseluruhan, Katjang Tjina dalam Kuliner Nusantara adalah buku yang sangat layak dibaca, terutama bagi mereka yang tertarik pada sejarah kuliner, budaya Jawa, atau kajian gastronomi.
Buku ini mengajak kita untuk melihat makanan sehari-hari dari sudut pandang yang lebih luas dan mendalam, sekaligus menyadarkan bahwa setiap hidangan memiliki cerita panjang yang layak dihargai.
Baca Juga
-
Ulasan Novel Buat Ayah yang Dirindui: Luka Anak yang Tak Pernah Dipahami
-
Perjalanan Haya Mencari Arti Kehidupan dalam Novel 'Apa Itu Pulang?'
-
Ulasan Buku 'Husnuzon': Menemukan Tenang di Tengah Luka
-
Tahan dan Tenang, Nanti Datang Senang: Pelukan Hangat saat Hidup Berat
-
Perjalanan Spiritual dan Emosi dalam Cuma Aku, Lukaku, dan Tuhanku
Artikel Terkait
Ulasan
-
Membaca Tanah Surga Merah Karya Arafat Nur: Satire Sengit Penguasa Daerah
-
Kritik Novel Bukan Perawan Maria: Antara Gagasan Berani dan Narasi Tanggung
-
Yang Bertahan dan Binasa Perlahan: 19 Cerita Getir tentang Wajah Indonesia
-
Aksi Brutal Berbalut Komedi, Mengapa Bullet Train Wajib Masuk Daftar Tontonmu?
-
Ulasan Novel Buat Ayah yang Dirindui: Luka Anak yang Tak Pernah Dipahami
Terkini
-
Rupiah Melemah, Beli iPhone Murah di Luar Negeri Tak Lagi Menggiurkan?
-
Ironi Lulusan Sekolah Kejuruan: Mengapa Penyumbang Pengangguran Terbesar Masih dari SMK?
-
Berhenti Jadi Budak Konten: Mengapa Hidup 'Estetik' Seringkali Adalah Jebakan Finansial
-
OPPO Enco Air5 Pro Resmi Rilis, Senjata Baru OPPO di Pasar TWS Premium 2026
-
Belanja Demi Mendapat Gratis Ongkir: Hemat atau Malah Jebakan Konsumtif?