Thrash adalah film thriller survival bergenre disaster-shark yang dirilis eksklusif oleh Netflix pada 10 April 2026. Disutradarai sekaligus ditulis oleh Tommy Wirkola—sutradara Norwegia yang dikenal lewat film-film penuh aksi berbau dark humor seperti Violent Night (2022) dan Hansel & Gretel: Witch Hunters (2013)—film ini menggabungkan dua elemen horor klasik: badai dahsyat dan serangan hiu ganas.
Dibintangi Phoebe Dynevor, Whitney Peak, dan Djimon Hounsou, Thrash berdurasi 86 menit dengan rating R karena adegan kekerasan berdarah dan bahasa kasar. Awalnya direncanakan tayang di bioskop oleh Sony Pictures dengan judul sementara Beneath the Storm, film ini kemudian diambil alih Netflix pada awal 2026 setelah beberapa kali pergantian judul (The Rising dan Shiver).
Pertarungan Hidup dan Mati di Tengah Banjir
Sinopsis tanpa spoiler berat: Di kota pesisir kecil Annieville, South Carolina, Badai Henry yang awalnya kategori 2 berubah menjadi monster kategori 5 yang luar biasa ganas—bahkan ada dialog yang bercanda soal kategori 6 untuk menggambarkan kekuatannya. Saat bendungan jebol, air bah naik dengan cepat dan membawa serta kawanan hiu bull shark serta satu great white raksasa yang haus darah.
Penduduk yang terjebak karena berbagai alasan pribadi harus bertahan hidup di tengah banjir yang semakin tinggi sambil menghindari predator laut yang kini berenang bebas di jalan-jalan, rumah, dan atap bangunan. Cerita mengikuti beberapa kelompok korban: Lisa Fields (Phoebe Dynevor), seorang wanita hamil tua yang terperangkap dalam situasi ekstrem; Dakota (Whitney Peak), gadis agorafobia yang enggan meninggalkan rumah mendiang ibunya; Dr. Dale Edwards (Djimon Hounsou), ahli biologi laut yang berusaha menyelamatkan keponakannya; serta tiga anak asuh yang tinggal bersama orang tua asuh yang egois dan kejam.
Review Film Thrash
Secara visual, Thrash cukup memuaskan sebagai film B-movie modern. Efek CGI banjir, angin kencang, dan serangan hiu terlihat solid—terutama adegan hiu yang meluncur di antara rumah-rumah setengah tenggelam atau muncul tiba-tiba dari air keruh berwarna merah darah. Tommy Wirkola berhasil menciptakan atmosfer mencekam dengan memanfaatkan lokasi pengambilan gambar di Melbourne, Australia, yang disulap menjadi kota pesisir Amerika.
Adegan badai yang menghancurkan kota di awal film juga dibuat spektakuler, memberi kesan skala bencana yang nyata. Produser Adam McKay menyebut premis ini terinspirasi dari perubahan iklim nyata, di mana suhu air laut yang lebih hangat memperkuat badai dan membuat hiu semakin agresif mendekati pantai.
Akan tetapi, kekuatan visual tersebut tidak sepenuhnya didukung oleh naskah dan penyutradaraan. Cerita tersebar ke terlalu banyak subplot, sehingga ketegangan sering terputus-putus. Alih-alih fokus pada satu tokoh utama seperti Crawl (2019) yang sukses membangun suspense di ruang terbatas, Thrash melompat-lompat antara kelompok Lisa, Dakota-Dale, dan anak-anak asuh.
Akibatnya, film terasa kurang padu dan momentumnya sering hilang. Beberapa dialog klise (“Ini bukan cuaca biasa!”) dan karakter pendukung yang karikatural (terutama orang tua asuh yang jahat) membuat tone film tidak konsisten—kadang mencoba serius dengan sentuhan pesan lingkungan, tapi sering jatuh ke humor konyol dan adegan gore berlebihan. Adegan melahirkan di tengah serangan hiu, misalnya, menjadi momen paling absurd dan entertaining sekaligus, tapi juga menunjukkan betapa film ini sadar diri sebagai hiburan murahan.
Akting para pemeran utama menjadi penyelamat. Phoebe Dynevor memberikan penampilan fisik dan emosional yang kuat sebagai ibu hamil yang harus bertarung demi bayinya. Djimon Hounsou, seperti biasa, membawa bobot dan kredibilitas sebagai ilmuwan yang menjelaskan perilaku hiu.
Whitney Peak berhasil menyampaikan trauma agorafobia dengan baik, meski karakternya agak tipis. Efek praktis dan CGI hiu cukup meyakinkan untuk ukuran Netflix, meski tidak seikonik Jaws. Sound design badai dan raungan hiu juga efektif menciptakan rasa tidak nyaman. Kalau boleh jujur, film Thrash ini justru membuatku merasa bosan, meskipun premisnya sangat gila dan penuh potensi.
Sayangnya, film ini gagal memanfaatkan kesempatan sebagai sebuah B-movie yang seharusnya liar dan menghibur. Dari analisisku sendiri, produksi ini terasa sangat malas dan cukup menyebalkan karena tidak mampu membangun ketegangan yang memadai sepanjang cerita. Meski begitu, film ini tetap bisa dinikmati dengan cara yang bodoh dan ringan—seperti hiburan disposable yang cocok ditonton santai tanpa ekspektasi tinggi sama sekali.
Secara keseluruhan, Thrash bukan film hebat, tapi juga bukan sampah total. Ia berhasil sebagai hiburan ringan bagi penggemar genre shark-disaster seperti The Meg, Sharknado, atau 47 Meters Dow. Kalau kamu suka film yang sadar diri sebagai popcorn entertainment penuh aksi, gore, dan sedikit humor hitam, film ini layak ditonton. Rating pribadi dariku: 5.8/10. Ia punya visual keren dan premis gila, tapi kurang fokus dan kedalaman membuatnya cepat terlupakan setelah kredit bergulir.
Film Thrash sudah tersedia untuk streaming di Netflix sejak Jumat, 10 April 2026. Dan kamu bisa langsung menontonnya kapan saja dengan langganan Netflix. Film ini hadir dengan subtitle bahasa Indonesia dan audio asli Inggris. Durasi singkatnya membuatnya pas untuk sesi menonton malam tanpa mengganggu jadwal.
Thrash membuktikan bahwa Netflix masih suka memproduksi film genre yang guilty pleasure—tidak ambisius, tapi cukup menggigit untuk satu kali tonton. Kalau kamu pencinta hiu dan bencana alam, pasang sabuk keselamatan dan tekan play. Siapa tahu, setelah ini kamu malah ingin cek cuaca besok pagi.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Belajar Ikhlas di Taman Rusa USU: Ruang Pulang Saat Saya Berada di Titik Terendah
-
Novel Nyai Dasima: Dilema Nyai Dasima di Antara Dua Dunia Kelam
-
Tukarkan Kayu dengan Rasa, Rahasia Kuliner di Balik Megahnya Candi Jambi
-
Review Film Ready or Not 2: Here I Come, Adegan Aksi dan Gore Memuaskan!
-
Menafsir Ulang Kutukan Batu di Era Modern dalam Legenda Kelam Malin Kundang
Terkini
-
Jangan Salah Beli! 4 HP yang Masih Worth It di Tengah Harga yang Naik
-
Jadi Film Terseram 2026, Salmokji Akan Tayang di Bioskop Indonesia
-
5 HP Infinix dengan Kamera Terbaik 2026, Harga Mulai di Bawah Rp2 Jutaan
-
Lenovo Serius Garap Tablet Premium, Yoga Tab Siap Jadi Pengganti Laptop?
-
Resonansi Sunyi di Jombang: Sebuah Dialektika Tentang Hidup dan Rasa Cukup