Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Colony (IMDb)
Ryan Farizzal

Colony, disutradarai oleh Yeon Sang-ho—sutradara yang dikenal lewat Train to Busan—merupakan film horor aksi Korea Selatan yang dirilis pada tahun 2026. Film berdurasi 122 menit ini menggabungkan elemen thriller biologis, aksi intens, dan komentar sosial tentang kolektivisme serta evolusi manusia.

Dengan pemeran utama seperti Gianna Jun (Jun Ji-hyun) sebagai Kwon Se-jeong, Koo Kyo-hwan sebagai antagonis utama Seo Young-chul, serta dukungan aktor seperti Go Soo, Ji Chang-wook, dan lainnya, Colony menghadirkan pendekatan segar pada genre zombie.

Aksi Intens di Gedung Terisolasi Seoul yang Memukau

Salah satu adegan di film Colony (IMDb)

Cerita berlangsung di dalam gedung tinggi Dongwoo-ri di pusat Seoul. Seorang ilmuwan bernama Seo Young-chul melancarkan serangan teror biologis dengan menyuntikkan jamur lendir mutan yang ia kembangkan. Virus ini menyebar dengan cepat selama konferensi biotech perusahaan Chains Bio.

Infeksi menyebabkan korban mengalami transformasi mengerikan: tubuh mereka berkedut, merangkak seperti makhluk primitif, kemudian berevolusi menjadi entitas yang terhubung melalui jaringan kolektif mirip semut. Pihak berwenang segera menyegel seluruh gedung, menjebak para penyintas di dalamnya.

Kwon Se-jeong, seorang profesor bioteknologi yang sedang mencari pekerjaan melalui mantan suaminya, terperangkap di tengah kekacauan ini. Bersama sekelompok penyintas kecil—termasuk petugas keamanan beserta kakaknya yang memiliki disabilitas mobilitas, serta remaja pengganggu—ia harus bertahan hidup sambil menghadapi ancaman yang terus berevolusi.

Film ini mengeksplorasi bukan hanya horor fisik, tetapi juga dinamika manusia: pengkhianatan, pengorbanan, dan pertanyaan etis tentang konektivitas versus individualitas. Young-chul, yang menjadi pembuat virus, meyakini bahwa jaringan kolektif seperti semut merupakan masa depan umat manusia, sehingga ia mengendalikan gerombolan zombie secara strategis.

Ulasan Film Colony

Salah satu adegan di film Colony (IMDb)

Secara teknis, Colony unggul dalam koreografi aksi dan efek praktis. Transformasi zombie dirancang dengan gerakan kontorsionis yang mengerikan, memanfaatkan penari profesional untuk menciptakan visual yang mengganggu. Yeon Sang-ho berhasil membangun ketegangan secara bertahap melalui lantai-lantai gedung, mirip struktur Grand Hotel di mana setiap level menghadirkan tantangan baru.

Sinematografi memanfaatkan ruang sempit untuk menciptakan rasa klaustrofobia yang efektif, sementara skor musik dan desain suara memperkuat sensasi horor. Meskipun begitu perkara metafor tentang AI dan otoritarianisme tidak terlalu mendalam.

Film ini tayang perdana di Festival Film Cannes pada 15 Mei 2026 di sesi Midnight Screenings, kemudian rilis luas di Korea Selatan pada 21 Mei 2026. Di Indonesia, Colony mulai diputar di bioskop pada 3 Juni 2026, didistribusikan oleh PT Primacinema Multimedia. Jadwal tayang tersedia di jaringan seperti Cinema XXI, dengan tiket advance sudah dijual sejak akhir Mei. Film ini mendapat rating 13+ dan tersedia dalam format 2D.

Salah satu adegan paling menegangkan terjadi pada tahap awal penyebaran virus di ruang konferensi. Seorang eksekutif terinfeksi dan mulai mengalami transformasi di depan mata para hadirin. Tubuhnya berkedut tak terkendali, mata memutar ke belakang, dan ia merangkak dengan kecepatan luar biasa sambil menyerang orang-orang terdekat. Kamera bergerak dinamis mengikuti chaos, dengan suara jeritan dan dentuman tubuh yang memenuhi ruangan.

Penyintas berlarian ke pintu keluar yang terkunci, sementara infeksi menyebar seperti api. Adegan ini efektif karena membangun ketegangan dari momen intim menjadi pembantaian massal dalam hitungan menit. Rasa tak berdaya para korban, dikombinasikan dengan realisasi bahwa tidak ada jalan keluar, menciptakan horor psikologis yang mendalam. Efek praktis pada transformasi tubuh menambah lapisan visceral yang sulit dilupakan.

Bagian yang paling membekas buatku adalah saat konfrontasi klimaks di rooftop gedung, waktu para penyintas akhirnya berhadapan langsung dengan koloni zombie yang sudah terhubung sepenuhnya. Di sini, makhluk-makhluk tersebut bergerak secara sinkron, seolah-olah dikendalikan oleh satu kesadaran kolektif. Se-jeong menggunakan pengetahuan ilmiahnya untuk menganalisis pola perilaku mereka, sementara aksi fisik dari karakter seperti petugas keamanan dan lainnya menampilkan pertarungan jarak dekat yang brutal tapi cerdas.

Adegan ini tidak hanya memukau secara visual dengan koreografi massal, tetapi juga menyampaikan tema film: bahaya kehilangan individualitas demi kebaikan bersama. Pengorbanan pribadi di momen ini, ditambah resolusi yang bittersweet, meninggalkan kesan reflektif tentang sifat manusia di bawah tekanan ekstrem. Ada dua hal yang paling membekas buatku: koreografi gerakan zombie yang tak biasa dan pesan filosofisnya yang tetap bikin kepikiran meski kredit film sudah habis.

Overall, Colony adalah tambahan yang kuat dalam filmografi Yeon Sang-ho. Meski mengikuti formula genre zombie, inovasi pada konsep koloni yang terhubung dan produksi berkualitas tinggi menjadikannya layak ditonton. Film ini berhasil menyeimbangkan aksi mendebarkan dengan elemen emosional dan intelektual, meski terkadang terasa terlalu luas dalam kritik sosialnya.

Buat kamu penggemar horor Korea, Colony menawarkan pengalaman teatrikal yang intens dan memuaskan. Dengan durasi dua jam lebih, film ini tetap terjaga ritmenya tanpa kehilangan momentum. Sangat aku rekomendasikan untuk ditonton di bioskop guna merasakan efek suara dan visualnya secara maksimal. Rating pribadi: 8.9/10.