Lee Cronin kembali menggebrak dunia horor dengan Lee Cronin's The Mummy (2026), sebuah reimagining radikal dari ikon klasik The Mummy. Setelah sukses besar Evil Dead Rise (2023) yang memecahkan rekor box office dan memuaskan fans dengan kekerasan brutal serta teror keluarga, Cronin kini menulis sekaligus menyutradarai film horor supernatural berdurasi 133 menit ini.
Diproduksi oleh James Wan (Atomic Monster), Jason Blum (Blumhouse), dan New Line Cinema di bawah Warner Bros., film ini bukan sekadar petualangan pasir dan kutukan kuno ala Brendan Fraser atau Tom Cruise. Sebaliknya, Cronin mengubah legenda mummy menjadi horor domestik yang intim, mengerikan, dan penuh body horror yang bikin merinding.
Dari Trauma ke Teror yang Merayap dari Dalam
Seorang jurnalis bernama Charlie Cannon (Jack Reynor) dan istrinya Larissa (Laia Costa) kehilangan putri tengah mereka, Katie (Natalie Grace), yang hilang tanpa jejak di gurun pasir. Delapan tahun kemudian, keluarga yang sudah hancur itu diguncang kejutan: Katie ditemukan hidup di dalam sarkofagus kuno.
Reuni yang seharusnya penuh air mata bahagia berubah menjadi mimpi buruk. Katie tidak lagi seperti dulu. Ia membawa sesuatu yang kuno, mengerikan, dan haus akan kehancuran. Dengan bantuan detektif Dalia Zaki (May Calamawy) dan nenek dari pihak ibu (Verónica Falcón), keluarga ini berjuang memahami apa yang sebenarnya terjadi—sementara tubuh Katie mulai berubah menjadi sesuatu yang benar-benar mengerikan.
Cronin brilian dalam membangun ketegangan. Berbeda dengan The Mummy (1932) atau reboot 2017 yang penuh aksi spektakuler, film ini fokus pada trauma keluarga, grief, dan horor psikologis yang perlahan berubah menjadi kekerasan fisik ekstrem. Tema mummification for a different purpose — seperti yang dijelaskan Cronin sendiri — menjadi metafor kuat tentang bagaimana masa lalu yang terkubur bisa membusuk dan meracuni generasi berikutnya.
Elemen possession ala The Exorcist bertemu body horror ala David Cronenberg, dengan efek praktis yang memuaskan: bisul, lidah memanjang licin, suara basah squelching yang super, serta adegan-adegan gore yang bikin aku sebagai. penonton bergidik. Suara desainnya luar biasa; setiap derit kulit, setiap hembusan pasir, dan setiap jeritan terasa nyata di bioskop. Visualnya, claustrophobic, dan penuh detail mengerikan — rumah biasa berubah menjadi neraka pribadi, mirip apartemen di Evil Dead Rise.
Review Film Lee Cronin's The Mummy
Penampilan aktor menjadi pilar utama. Natalie Grace sebagai Katie adalah MVP mutlak. Di usia 19 tahun, ia menghadirkan transformasi menyeramkan yang mengingatkan Regan MacNeil di The Exorcist— mulai dari tatapan kosong hingga ekspresi mengerikan yang bikin bulu kuduk.
Jack Reynor sebagai ayah yang hancur memberikan kedalaman emosional; ia bukan pahlawan macho, melainkan pria biasa yang berjuang antara harapan dan keputusasaan. Laia Costa sebagai ibu menyampaikan kepedihan seorang orang tua dengan meyakinkan, sementara May Calamawy dan Verónica Falcón menambah lapisan misteri dan ketegangan keluarga. Chemistry antar pemain terasa autentik, membuat horor semakin personal.
Sebagai sutradara, Lee Cronin konsisten dengan formula possession in a confined space yang ia kuasai. Film ini tidak bergantung pada jump scare murahan, melainkan ketakutan yang merayap pelan lalu meledak brutal. Skor musik minimalis tapi efektif, mendukung atmosfer mencekam. Satu-satunya kelemahan kecil adalah ritme di paruh tengah yang sedikit lambat saat membangun karakter, tapi ini justru membuat klimaks terasa lebih menghancurkan.
Bagi fans horor modern yang bosan dengan franchise besar, Lee Cronin's The Mummy adalah angin segar: orisinal, berani, dan tak kenal ampun. Overall, film ini pantas disebut salah satu horor terbaik 2026 sejauh ini. Ia bukan hiburan ringan; ia menyerang emosi dan indera secara simultan.
Menurutku, film ini memang sengaja dibuat supaya terasa super menyeramkan, penuh adegan body horror yang sangat visceral dan mengerikan. Kalau kamu menyukai Evil Dead Rise, Hereditary, atau The Babadook, maka The Mummy ini wajib kamu tonton di bioskop agar pengalamannya benar-benar maksimal.
Lee Cronin's The Mummy resmi tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai Rabu, 15 April 2026. Ini sudah masuk jadwal CGV Cinemas, XXI, Cinema 21, Cinepolis, dan jaringan lainnya dengan rating 17+ (mengandung kekerasan ekstrem, gore, dan adegan menyeramkan). Durasi 134 menit, bahasa Inggris dengan subtitle Bahasa Indonesia. Tiket sudah bisa dibeli sejak 10 April via aplikasi bioskop masing-masing. Jangan lewatkan — ini adalah horor yang akan bikin kamu sulit tidur!
Lee Cronin's The Mummy membuktikan Lee Cronin adalah salah satu sutradara horor paling menjanjikan saat ini. Film ini tidak sekadar menghidupkan kembali monster klasik; ia mengubur ulang dan membusukkannya menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Siap dibuat merinding? Beli tiketnya sekarang!
Baca Juga
-
Review Film Ghost in the Cell: Kritik Sosial Lewat Teror Supernatural!
-
Duet Oki Rengga dan Lolox! Film Tiba-tiba Setan Sajikan Horor Ringan yang Penuh Twist Lucu
-
Sekar Nawang Sari
-
Review Serial Luka, Makan, Cinta: Sebuah Konflik di Dapur yang Penuh Emosi
-
Review Film Eat Pray Bark: Saat Anjing Mengajari Manusia untuk Bersyukur
Artikel Terkait
Ulasan
-
Cerita dari Dapur Kayu Bakar: Tradisi Memotong Ayam dan Doa Opung untuk Cucu Merantau
-
Napoleon dari Tanah Rencong: Saat Sejarah Aceh Menjadi Nyata dalam Novel Akmal Nasery Basral
-
Menyelami Metafisika Jawa dan Ilmu Kanuragan dalam Novel Epik Candi Murca: Ken Dedes
-
Bandung dan Slow Living: Saat Hidup Melambat Berubah Jadi Produk Kapitalisme
-
Lelah Jadi Pejuang Cita-cita? Dengar Lagu Tulus Ini untuk Menyalakan Kembali Api Mimpimu
Terkini
-
Yoo Yeon Seok dan Lee Se Young Resmi Bintangi Princess Covet the Scholar
-
Family Matters Hadirkan Season 2: Musuh Lebih Kuat, Cerita Makin Gelap
-
Film Salmokji Tembus 1 Juta Penonton di Bawah 10 Hari, Rekor Horor Tercepat
-
Rahasia Performa Atlet Dunia: Mengulas Fitur Proaktif Samsung Galaxy Watch8
-
Gaet Anderson .Paak, Taeyong NCT Rayakan Kesuksesan di Lagu Solo Rock Solid