Sobat Yoursay, baru-baru ini kita mendengar kabar buruk dari dunia travel. Kasus dugaan penipuan travel umrah oleh Hanania Group mencuat dan jadi perbincangan di berbagai pemberitaan. Di tengah berita yang beredar, muncul informasi bahwa sebagian dana jemaah diduga digunakan untuk kebutuhan perusahaan di luar operasional umrah, termasuk biaya promosi dan pembayaran influencer.
Jika dugaan itu benar, maka muncul sebuah pertanyaan yang saya rasa perlu dibahas lebih jauh. Menurut Sobat Yoursay, ketika suatu saat bisnis yang dipromosikan oleh influencer tersandung masalah semacam ini, apakah influencer bisa lepas dari tanggung jawab? Atau setidaknya, apakah ada tanggung jawab moral yang perlu dipertanyakan?
Hari ini kita melihat banyak orang yang memandang endorsement bukan sekadar iklan, melainkan sebuah rekomendasi. Para influencer sekarang sudah memiliki personal branding yang jauh lebih kuat dan berhasil membangun kedekatan dengan audiensnya selama bertahun-tahun. Hal itu akhirnya membuat pengikut merasa lebih mengenal sosoknya, sehingga ketika mereka merekomendasikan sesuatu, ada orang-orang yang menganggapnya sebagai bentuk jaminan kualitas.
Fenomena inilah yang membuat endorsement terasa jauh lebih kuat dibandingkan dengan iklan yang dulu sering kita lihat di televisi. Sebab dengan adanya endorsement dari influencer terkenal, maka pembelian yang dilakukan oleh audiens bukan lagi sekadar karena kualitas produknya, melainkan juga sebab kepercayaan besar yang mereka miliki terhadap orang yang mempromosikan produk tersebut.
Sobat Yoursay, sekarang kita akan kembali ke kasus yang sempat saya singgung sebelumnya. Jika benar dana jemaah digunakan untuk membayar promosi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya uang, tetapi juga amanah yang dititipkan oleh calon jemaah.
Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa kerugian yang terjadi mencapai miliaran rupiah. Namun, yang paling menyakitkan di sini bukan hanya soal kerugiannya. Sobat Yoursay, bayangkan saja jika di antara korbannya adalah jemaah yang menabung bertahun-tahun demi beribadah, menyisihkan gaji sedikit demi sedikit, bahkan mengetatkan anggaran kebutuhan lainnya demi mewujudkan impian untuk berangkat ke Tanah Suci. Betapa sakit dan hancurnya hati mereka ketika mengetahui uang yang mereka titipkan, yang seharusnya dikelola dengan penuh amanah, justru dimanfaatkan untuk biaya marketing perusahaan.
Karena itu, saya rasa wajar jika kini publik merasa kecewa dan marah ketika dugaan tersebut mencuat dan diberitakan di berbagai media. Ironis sekali, uang yang semestinya digunakan untuk memberangkatkan jemaah malah diduga dipakai untuk membangun citra perusahaan demi menarik lebih banyak pelanggan.
Yang jadi pertanyaan: jika citra perusahaan ikut dibangun melalui endorsement para influencer, apakah mereka benar-benar bisa dianggap tidak memiliki keterkaitan apa pun ketika masalah itu akhirnya terungkap?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu memahami kembali bahwa peran influencer dalam bisnis ini hanya sebagai “tukang promosi”, bukan auditor. Artinya, mereka pun tidak memiliki akses terhadap laporan keuangan perusahaan dan bisa jadi mereka juga menjadi pihak yang sama-sama tidak mengetahui adanya masalah di internal perusahaan yang produk atau jasanya mereka promosikan. Dengan begitu, kita tidak bisa membebankan semua kesalahan pada mereka.
Meskipun demikian, para influencer ini tetap dibayar untuk memberikan pengaruh terhadap keputusan publik. Semakin kuat personal branding yang mereka miliki di media sosial, semakin besar pula pengaruh dan dampak dari promosi yang mereka lakukan. Oleh sebab itu, saya rasa di sini influencer juga memiliki tanggung jawab yang cukup besar sebelum menerima kerja sama. Misalnya: melakukan pengecekan dasar terhadap legalitas perusahaan, rekam jejak usaha, status izin usaha, hingga ulasan riil dari pelanggan sebelumnya. Sebab yang mereka promosikan bukan sekadar produk konsumsi biasa, melainkan layanan yang menyangkut impian, tabungan, bahkan ibadah banyak orang.
Bagaimanapun, influencer kini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keputusan audiensnya. Yang mereka promosikan bukan lagi hanya makanan, pakaian, atau kosmetik, melainkan juga layanan investasi, hingga perjalanan ibadah. Dengan adanya kasus ini, yang perlu kita jadikan perhatian mungkin bukan soal influencer sebagai pihak yang harus menanggung kerugian konsumen, tetapi mendorong mereka untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan pengaruh yang mereka miliki.
Jika ditarik ke kasus yang saya sebutkan di awal, perusahaan travel tetap menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dalam pengelolaan dana jemaah. Namun, kita tak bisa menampik jika persoalan ini nantinya akan menjadi pintu yang membuka ruang diskusi tentang peran influencer dalam membentuk kepercayaan publik. Dan sebagai masyarakat pun, kita perlu lebih kritis dan tidak menjadikan endorsement sebagai satu-satunya dasar keputusan.
Bagi para influencer, kasus seperti ini seharusnya menjadi pengingat bahwa pengaruh yang mereka miliki bukan sekadar aset untuk menghasilkan pendapatan, tetapi juga kepercayaan yang dapat memengaruhi keputusan banyak orang. Dan ketika kepercayaan itu berujung pada kerugian, pertanyaan tentang tanggung jawab tidak bisa dijawab dengan semudah mengatakan, "Saya hanya dibayar untuk promosi."
Baca Juga
-
Sila Kelima Pancasila: Mengapa Keadilan Masih Terasa Begitu Jauh dari Jangkauan?
-
Drama The Scarecrow dan Potret Kegagalan Sistem Hukum dalam Kasus Hwaseong
-
Saat Semua Orang Ingin Didengar, Pancasila Mengajarkan Kita untuk Mendengar
-
Kemasan Makanan Sekali Pakai: Bukan Sekadar Sampah yang Bisa Disepelekan
-
Kejar Pembunuh di Dua Masa, Tunnel Jadi Drama Misteri yang Sulit Dilupakan
Artikel Terkait
-
Fatal Akibat Kurang Tidur: Belajar dari Kisah Influencer yang Meninggal Saat Live Streaming
-
Bakal Diperiksa Polisi, Siapa Influencer yang Pernah Promosikan Hanania Travel?
-
Dana Umrah Hanania Group Diduga Buat Bayar Influencer, Polisi akan Periksa Keanu hingga Awkarin
-
Jemaah Haji dari Tuban Ini Berbagi: Pentingnya JKN untuk Perjalanan Ibadah yang Tenang
-
Ribuan Jamaah Haji Mulai Pulang ke Indonesia
Kolom
-
Mindful Consumption: Prinsip Mahal di Era Digital, Kamu Bisa Terapkan?
-
Sulitnya Cari Parkir di Malang, Siapa yang Harus Berbenah?
-
Belajar Less Waste dari Selembar Tisu, Kenapa Perlu Stop Ambil Berlebihan?
-
Sidang Nadiem Mati Lampu Pas Buka Bukti Kunci, Netizen Cium Sabotase
-
Dipakai 5 Menit, Dibuang Selamanya: Mengapa Kamu Harus Mulai Bawa Alat Makan Sendiri
Terkini
-
Karier Tak Jelas, Elkan Baggott Berpeluang Kembali Dipinjamkan Musim Depan?
-
Manusia Juga Bisa Rapuh: Belajar Menerima Diri dari Drama No Tail to Tell
-
Monster Sesungguhnya Adalah Trauma: Mengulas Sisi Gelap Film 'Badut Gendong'
-
Jelang Perilisan, Tom Holland Ngaku Nunggu Hadirnya Spiderman Generasi Baru
-
Writing with Fire Bukan Film, Mengulik Orang-Orang yang Menolak Dibungkam