Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Bajak Laut Purnama Terakhir (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Berlatar 1667, Indonesia belum diduduki Belanda saat itu. Novel Bajak Laut & Purnama Terakhir karya Adhitya Mulya menawarkan sesuatu yang segar dalam dunia literasi Indonesia.

Perpaduan unik antara komedi, sejarah, dan sentuhan fantasi lokal. Buku ini bukan sekadar hiburan ringan, melainkan juga pengalaman membaca yang cerdas, penuh ironi, dan secara tak langsung mengajak pembaca mempertanyakan makna sejarah itu sendiri.

Sinopsis Novel

Kisahnya tentang Jaka Kelana, seorang “bajak laut” yang jauh dari stereotip kejam dan menakutkan. Alih-alih garang, ia justru dikenal ramah, santun, dan terlalu baik hati. Sifat-sifat yang jelas tidak cocok untuk profesi perompak.

Sepanjang cerita, Jaka Kelana berkali-kali gagal dalam aksinya. Bukannya berhasil merampok, ia malah sering menjadi korban: dipalak balik, kapalnya rusak, atau rencananya berujung kacau. Karakter ini menjadi sumber humor utama, dengan tingkah laku dan dialog yang absurd namun terasa manusiawi.

Konflik mulai berkembang ketika seorang rekannya menyarankan agar Jaka Kelana merampok di darat terlebih dahulu untuk membangun reputasi. Saran ini membawanya ke Batavia, di mana ia merampok rumah seorang meneer Belanda.

Namun, aksinya yang tampak sederhana berubah menjadi petaka besar ketika barang yang ia curi ternyata memiliki nilai penting bagi VOC dan juga berkaitan dengan sejarah kerajaan besar di Nusantara. Dari sinilah petualangan Jaka Kelana berubah menjadi lebih kompleks: ia bukan hanya buronan, tetapi juga bagian dari misteri besar yang melibatkan masa lalu.

Salah satu kekuatan utama novel ini adalah struktur ceritanya yang berlapis. Terdapat beberapa alur yang berjalan paralel, seperti kisah VOC yang memburu keris pusaka, perjalanan Jaka Kelana dan krunya, serta misi para ksatria yang berusaha mengembalikan keris tersebut sebelum purnama terakhir.

Meski tampak rumit, semua alur ini dirangkai dengan rapi dan saling terhubung secara logis di akhir cerita. Tidak ada bagian yang terasa sia-sia; semuanya memiliki peran dalam membangun klimaks.

Dari sisi sejarah, novel ini mengangkat latar berbagai kerajaan besar seperti Kediri, Singhasari, dan Majapahit, serta masa kolonial VOC. Namun, Adhitya Mulya tidak menyajikannya secara kaku. Ia memadukan fakta dengan fiksi secara kreatif, bahkan menyediakan penjelasan tambahan agar pembaca bisa memahami mana yang historis dan mana yang hasil imajinasi.

Pendekatan ini membuat sejarah terasa hidup dan menyenangkan, jauh dari kesan membosankan seperti yang sering dialami di bangku sekolah.

Kelebihan dan Kekurangan

Yang menarik, novel ini juga menyisipkan kritik halus terhadap sejarah itu sendiri. Melalui penggambaran tokoh penguasa yang memanipulasi catatan sejarah demi menjaga citra, pembaca diajak merenung: seberapa besar kebenaran dalam sejarah yang kita kenal?

Apakah mungkin sejarah hanyalah versi cerita yang dipilih untuk diwariskan? Pertanyaan-pertanyaan ini dibalut dalam humor, sehingga tetap ringan namun membekas.

Unsur fantasi dalam novel ini juga terasa khas Indonesia, terutama melalui keberadaan keris pusaka dan mitologi yang menyertainya. Ini menjadi nilai tambah, terutama bagi pembaca yang ingin menikmati cerita fantasi tanpa harus bergantung pada latar Barat atau Jepang.

Ditambah lagi, gaya humor khas Adhitya Mulya termasuk footnote jenaka dan dialog spontan membuat pengalaman membaca semakin menghibur.

Secara keseluruhan, Bajak Laut & Purnama Terakhir adalah novel yang berhasil menggabungkan hiburan dan intelektualitas. Ia lucu tanpa terasa dipaksakan, kompleks tanpa membingungkan, dan sarat makna tanpa kehilangan daya tariknya.

Bagi pembaca yang menyukai cerita petualangan, komedi cerdas, dan sentuhan sejarah lokal, novel ini layak menjadi pilihan utama.

Identitas Buku

  • Judul: Bajak Laut & Purnama Terakhir: Sebuah Komedi Sejarah
  • Penulis: Adhitya Mulya
  • Penerbit: GagasMedia
  • Tahun Terbit: 2016 
  • ISBN: 978-979-780-875-4
  • Tebal: viii + 332 halaman
  • Genre: Fiksi, Komedi Sejarah