M. Reza Sulaiman | Juandi Manullang
Ilustrasi gambar scam digital (Pexels)
Juandi Manullang

Penipuan berbasis digital atau yang sering dikenal sebagai scam digital semakin merajalela di berbagai negara. Operasi FRONTIER+ yang melibatkan 14 negara mengungkap lebih dari 138 ribu kasus scam, menangkap 3.018 pelaku, dan menyelamatkan ratusan juta dolar AS dari jaringan kejahatan siber internasional. Selain itu, lebih dari 102 ribu rekening terkait sindikat penipuan dibekukan serta lebih dari 161 juta dolar AS hasil kejahatan berhasil diamankan.

Kejahatan tersebut berasal dari platform belanja online, penyamaran sebagai teman atau pejabat, rekayasa sosial, investasi palsu, hingga lowongan pekerjaan fiktif, seperti dilansir dari Mediaindonesia.com.

Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian serius bagi kita agar lebih berhati-hati dalam menghadapi dunia digital saat ini. Dunia digital terasa sangat memudahkan dan membantu, tetapi di balik itu, banyak jenis kejahatan yang datang menyerang kita.

Bijak dalam Menggunakan Media Digital

Pada dasarnya, dunia digital telah memanjakan kita sehingga kita pun merasakan kenikmatannya. Hingga akhirnya, kita menjadi kecanduan dalam menggunakan media digital tersebut dan lupa membatasi diri dengan pikiran yang jernih. Kecanduan itulah yang membuat kita gampang terjerembap ke dalam tipuan kejahatan.

Sebagai contoh, kita asyik bermedia sosial seperti Instagram, Threads, Facebook, X, dan sebagainya. Kita aktif menggunakannya baik untuk membuat konten, berbelanja, maupun berkomunikasi secara tidak langsung. Dari situlah, ada oknum-oknum yang mencari keuntungan dengan memanfaatkan kelemahan kita. Mereka dapat berpura-pura menawarkan barang maupun jasa yang membuat kita tergiur dan merasa perlu.

Pada akhirnya, terjadi kesepakatan dan kita mentransfer sejumlah uang untuk membeli barang maupun memakai jasa. Namun, oknum tersebut tidak memenuhi kesepakatan atau dengan kata lain menipu kita. Hal tersebut tentu akan sangat merugikan.

Oleh karena itu, kita harus bijak dalam bermedia digital. Bijak dalam artian cerdas dan berpikir lebih jernih dalam merespons setiap tawaran yang datang melalui media digital. Orang yang bijak sangat sulit untuk terpengaruh ajakan semu. Orang yang bijak akan berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Sebab itu, mulai sekarang kita diajak untuk lebih bijak bermedia digital agar kasus scam dapat diminimalisasi demi kebaikan bersama.

Tidak Terpengaruh oleh Budaya FOMO

Zaman sekarang, istilah FOMO (fear of missing out) sangat familier di telinga kita. FOMO diidentikkan dengan budaya ikut-ikutan. Tren yang terjadi saat ini diikuti agar tidak dikatakan ketinggalan zaman. Misalnya, ada tren baju, sepatu, celana, dan pernak-pernik kekinian di masyarakat, maka kita merasa harus ikut membeli tren tersebut.

Bahkan, sampai gawai seperti merek iPhone 17 Pro Max yang menjadi tren masa kini pun seolah wajib diikuti oleh generasi zaman sekarang. Paling parahnya lagi, orang yang terkena FOMO akan mencari penjual di berbagai marketplace atau aplikasi belanja online demi mendapatkan harga yang murah agar tetap bisa mengikuti tren.

Banyak orang saat ini berburu barang-barang tren melalui aplikasi Shopee, Tokopedia, Facebook Marketplace, hingga TikTok karena harganya murah dan mudah dicari. Banyaknya pengguna aplikasi belanja online tersebut memunculkan niat dari oknum tidak bertanggung jawab untuk melancarkan aksi kejahatannya.

Mereka memajang barang yang kita inginkan melalui aplikasi belanja online, padahal barangnya palsu atau oknum tersebut sebenarnya tidak menjual barang apa pun (hanya tipuan belaka). Sialnya, kita telanjur menekan tombol beli dan mengirimkan sejumlah uang. Oleh karena itu, budaya FOMO akan membuat kita terjebak dan terpengaruh tanpa menyeleksi serta memastikan kondisi, keberadaan, dan keaslian dari barang tersebut.

Praktik tersebut adalah bentuk dari kejahatan scam digital yang saat ini marak menyusup ke dalam kehidupan kita. Jadi, berdasarkan data dan realitas di atas, hal ini harus menjadi refleksi bagi kita agar mampu bersikap lebih bijak dan tidak terseret dalam budaya FOMO, sehingga kita tidak terjerembap dalam kejahatan scam digital yang makin mengkhawatirkan.