Penipuan berbasis digital atau yang sering dikenal sebagai scam digital semakin merajalela di berbagai negara. Operasi FRONTIER+ yang melibatkan 14 negara mengungkap lebih dari 138 ribu kasus scam, menangkap 3.018 pelaku, dan menyelamatkan ratusan juta dolar AS dari jaringan kejahatan siber internasional. Selain itu, lebih dari 102 ribu rekening terkait sindikat penipuan dibekukan serta lebih dari 161 juta dolar AS hasil kejahatan berhasil diamankan.
Kejahatan tersebut berasal dari platform belanja online, penyamaran sebagai teman atau pejabat, rekayasa sosial, investasi palsu, hingga lowongan pekerjaan fiktif, seperti dilansir dari Mediaindonesia.com.
Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian serius bagi kita agar lebih berhati-hati dalam menghadapi dunia digital saat ini. Dunia digital terasa sangat memudahkan dan membantu, tetapi di balik itu, banyak jenis kejahatan yang datang menyerang kita.
Bijak dalam Menggunakan Media Digital
Pada dasarnya, dunia digital telah memanjakan kita sehingga kita pun merasakan kenikmatannya. Hingga akhirnya, kita menjadi kecanduan dalam menggunakan media digital tersebut dan lupa membatasi diri dengan pikiran yang jernih. Kecanduan itulah yang membuat kita gampang terjerembap ke dalam tipuan kejahatan.
Sebagai contoh, kita asyik bermedia sosial seperti Instagram, Threads, Facebook, X, dan sebagainya. Kita aktif menggunakannya baik untuk membuat konten, berbelanja, maupun berkomunikasi secara tidak langsung. Dari situlah, ada oknum-oknum yang mencari keuntungan dengan memanfaatkan kelemahan kita. Mereka dapat berpura-pura menawarkan barang maupun jasa yang membuat kita tergiur dan merasa perlu.
Pada akhirnya, terjadi kesepakatan dan kita mentransfer sejumlah uang untuk membeli barang maupun memakai jasa. Namun, oknum tersebut tidak memenuhi kesepakatan atau dengan kata lain menipu kita. Hal tersebut tentu akan sangat merugikan.
Oleh karena itu, kita harus bijak dalam bermedia digital. Bijak dalam artian cerdas dan berpikir lebih jernih dalam merespons setiap tawaran yang datang melalui media digital. Orang yang bijak sangat sulit untuk terpengaruh ajakan semu. Orang yang bijak akan berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Sebab itu, mulai sekarang kita diajak untuk lebih bijak bermedia digital agar kasus scam dapat diminimalisasi demi kebaikan bersama.
Tidak Terpengaruh oleh Budaya FOMO
Zaman sekarang, istilah FOMO (fear of missing out) sangat familier di telinga kita. FOMO diidentikkan dengan budaya ikut-ikutan. Tren yang terjadi saat ini diikuti agar tidak dikatakan ketinggalan zaman. Misalnya, ada tren baju, sepatu, celana, dan pernak-pernik kekinian di masyarakat, maka kita merasa harus ikut membeli tren tersebut.
Bahkan, sampai gawai seperti merek iPhone 17 Pro Max yang menjadi tren masa kini pun seolah wajib diikuti oleh generasi zaman sekarang. Paling parahnya lagi, orang yang terkena FOMO akan mencari penjual di berbagai marketplace atau aplikasi belanja online demi mendapatkan harga yang murah agar tetap bisa mengikuti tren.
Banyak orang saat ini berburu barang-barang tren melalui aplikasi Shopee, Tokopedia, Facebook Marketplace, hingga TikTok karena harganya murah dan mudah dicari. Banyaknya pengguna aplikasi belanja online tersebut memunculkan niat dari oknum tidak bertanggung jawab untuk melancarkan aksi kejahatannya.
Mereka memajang barang yang kita inginkan melalui aplikasi belanja online, padahal barangnya palsu atau oknum tersebut sebenarnya tidak menjual barang apa pun (hanya tipuan belaka). Sialnya, kita telanjur menekan tombol beli dan mengirimkan sejumlah uang. Oleh karena itu, budaya FOMO akan membuat kita terjebak dan terpengaruh tanpa menyeleksi serta memastikan kondisi, keberadaan, dan keaslian dari barang tersebut.
Praktik tersebut adalah bentuk dari kejahatan scam digital yang saat ini marak menyusup ke dalam kehidupan kita. Jadi, berdasarkan data dan realitas di atas, hal ini harus menjadi refleksi bagi kita agar mampu bersikap lebih bijak dan tidak terseret dalam budaya FOMO, sehingga kita tidak terjerembap dalam kejahatan scam digital yang makin mengkhawatirkan.
Tag
Baca Juga
-
Merenungkan Kembali 1 Juni: Sudahkah Kita Menjadi Pancasilais yang Sebenarnya?
-
Jebakan Asmara Digital: Mengapa Love Scamming Harus Membuka Mata Hati Kita
-
Bijak Menggunakan Paylater: Kunci Kemudahan Hidup atau Jebakan Konsumtif?
-
Pentingnya Sebuah Kesadaran: Menilik Teguran Kepada Konten Kreator di IKEA
-
Sisi Gelap Internet: Ketika Privasi Menjadi Ruang Nyaman bagi Para Predator
Artikel Terkait
-
Beli Barang karena Butuh atau Cuma Karena FOMO? Refleksi Sebelum Klik Checkout 6.6
-
OJK Panggil Petinggi Bank Mandiri Taspen, Apa Kasusnya?
-
Hidden Waste Mengintai, Kenapa Mentalitas FOMO Perlu Ditinggalkan?
-
Google Luncurkan 'Fake Call Detection' untuk Deteksi Scam Kloning Suara AI
-
Teman Lama Tipu Suami Bunga Zainal Rp2,3 Miliar, Modus Bisnis Batu Bara Beri Janji Manis
Kolom
-
Kiamat Kecil Bernama Baterai Sisa Satu Persen dan Ponsel Ketinggalan
-
Kenapa Gen Z Makin Jarang Memasak? Ini Dampak Tersembunyi di Baliknya
-
Pakai AI untuk Lambang Negara, BRIN Terjebak Kesalahan Fatal yang Tak Termaafkan?
-
Masakan Sering Terbuang, Meal Planning Jadi Solusi Tepat?
-
Bawa Tas Belanja Sendiri: Langkah Sederhana untuk Memulai Gaya Hidup Less Waste
Terkini
-
Menyusuri Jejak Peradaban Islam di Baghdad Lewat Catatan Hamka
-
Siap-siap Tertawa! Ge Pamungkas Bakal Rilis Stand-up Spesial GOAT di Netflix
-
Tak Hanya iPhone, OPPO Find X9 Ultra Bisa Upload Story Instagram Lebih HD!
-
MEOVV Tampilkan Pesona Elegan Tapi Garang di Lagu Terbaru, Ddi Ro Ri
-
Mikroplastik Ada pada Plasenta Manusia, Gaya Hidup Less Waste Kian Penting?