Awalnya, latar belakang zaman Firaun ratusan tahun silam mungkin terdengar berat dan berpotensi menjemukan. Namun, Rio Johan berhasil mematahkan prasangka tersebut lewat Ibu Susu. Sejak halaman-halaman awal, pembaca akan langsung terhisap ke dalam atmosfer Mesir klasik yang menawan. Tak ada ruang untuk bosan; narasi yang kuat membuat kita seolah terbenam dalam gulungan papirus kuno yang menceritakan sebuah misteri besar di istana Thebes.
Kisah bermula dari kegelisahan Firaun Theb yang dihantui mimpi tentang susu yang tumpah meluap memenuhi negeri. Mimpi ini seolah menjadi pertanda buruk bagi Pangeran Sem, calon penerus takhta yang masih merah, yang tiba-tiba jatuh sakit. Di tengah keputusasaan para dokter istana, sebuah kambing hitam pun dikorbankan: ibu susu pertama sang pangeran dihukum demi meredam spekulasi publik.
Pencarian Perempuan Iksa: Antara Luka dan Cahaya
Pangeran Sem menolak menyusu, sementara ramuan kedokteran dan doa-doa para pendeta tak membuahkan hasil. Firaun pun kembali bermimpi, dan para bijak menafsirkan bahwa kesembuhan pangeran hanya bisa didapat dari seorang ibu susu dengan tanda-tanda khusus. Pencarian besar-besaran dilakukan di seluruh penjuru negeri hingga ditemukanlah sosok yang paradoksal: Perempuan Iksa.
Perempuan ini adalah sebuah anomali. Seluruh tubuhnya dipenuhi borok bernanah yang berbau busuk, namun ajaibnya, ia memiliki sepasang payudara yang bersih, montok, dan seolah memancarkan cahaya. Kehadirannya ke istana bukan sebagai pelayan yang tunduk, melainkan sebagai negosiator yang cerdik. Sebagai keturunan bangsa Kheta yang diperbudak, ia mengajukan syarat-syarat berat: mulai dari pasokan makanan dan permata yang melimpah bagi kaumnya, hingga permintaan untuk mengandung anak dari Firaun sendiri.
Kontrak Kekuasaan dan Pengkhianatan Abadi
Syarat terakhir Perempuan Iksa adalah yang paling berisiko: ia menuntut hak kekuasaan yang sama bagi anaknya dengan sang pangeran. Demi kesembuhan ahli warisnya, Firaun Theb menyetujui segalanya. Keajaiban terjadi; Pangeran Sem pulih seketika setelah meminum air susu Perempuan Iksa. Namun, seperti banyak kisah penguasa di sepanjang sejarah, janji adalah hal pertama yang dilupakan begitu kepentingan tercapai.
Merasa martabat dan takhtanya terancam oleh keberadaan Perempuan Iksa, Firaun melakukan segala cara untuk melenyapkannya dari sejarah. Ia memerintahkan penulis kerajaan untuk menyusun narasi baru, sebuah versi sejarah yang hanya menampilkan keagungan penguasa dan menghapus keberadaan orang-orang biasa yang berjasa.
Fiksi yang Terasa Nyata
Rio Johan menegaskan bahwa karya ini sepenuhnya fiktif, namun detail imajinatif yang ia bangun membuat pembaca merasa seolah sedang menyaksikan peristiwa nyata yang terjadi ribuan tahun lalu. Novel ini menjadi cermin bagi realitas politik modern; bahwa pengkhianatan penguasa terhadap janji-janjinya adalah pola lama yang terus berulang. Ibu Susu adalah sebuah pengingat bahwa banyak pahlawan sejati yang namanya tenggelam dan tak pernah tercatat dalam buku sejarah resmi karena mereka hanya dianggap sebagai "orang biasa".
Kesimpulan
Ibu Susu adalah pencapaian luar biasa dalam sastra kontemporer kita. Dengan bahasa yang elegan dan alur yang memikat, Rio Johan mengajak kita merenungkan kembali tentang tubuh, pengabdian, dan bagaimana sejarah sering kali ditulis oleh tangan-tangan yang memegang pedang, bukan oleh mereka yang memberikan kehidupan. Sebuah bacaan yang wajib dimiliki oleh setiap pecinta sastra yang mencari kedalaman makna.
Identitas Buku:
- Judul: Ibu Susu
- Penulis: Rio Johan
- Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
- Tahun Terbit: Oktober 2017 (Cetakan pertama)
- Jumlah Halaman: vi + 202 halaman
- ISBN: 978-602-424-692-1
- Genre: Fiksi / Novel Sastra
Baca Juga
-
Jeritan dari Balik Kabut: Menagih Kehadiran Nurani saat Tanah Air Terbakar
-
Proposal Cinta di Bawah Proyek Mangkrak dan Halusinasi Negara
-
Jari ke Janji, saat Pena Menjadi Pedang dan Kata Kehilangan Makna
-
Teori Konspirasi di Warkop: Antara Hutan Terbakar dan BBM yang Langka
-
Di Bawah Lampu Loteng: KKN, Kenangan, dan Perpisahan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Merayakan Rindu dan Kegelisahan lewat Puisi di Buku Kidung Para Pencari
-
Mary and The Witch's Flower: Kita Tak Butuh Sihir untuk Menjadi Istimewa
-
Potret Diskriminasi Perempuan Korea Selatan di Novel Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982
-
Ulasan Stock Struck: Saat Pemula Nekat Main Saham dan Berujung Kena Mental
-
Review The Longest Wait: Melihat Perjuangan Timnas Garuda dari Balik Layar
Terkini
-
Proteksi Double! 4 Sunscreen Lokal PDRN Ini Bikin Wajah Awet Muda dan Sehat
-
Sukses Gelar Konser Solo di Seoul, Onew SHINee Umumkan Comeback Album Baru
-
Ramai saat Demo, Sunyi setelahnya: Mengapa Gerakan Rakyat Terjebak Musiman?
-
Aksi Boikot Raffi Ahmad: Menyoal Efektivitas Cancel Culture di Media Sosial
-
Awas Bahaya Logistik Gratisan: Kasus Teh Berbusa Demo HI Jadi Pelajaran