Karya sastra yang bernilai sering kali adalah karya yang mampu meninggalkan ruang luas bagi pembacanya untuk merenung. Hal inilah yang saya rasakan saat menamatkan Orang-Orang Bloomington karya Prof. Budi Darma. Sekilas, enam cerita pendek di dalamnya tampak biasa saja; hanya potongan konflik antartetangga, dinamika cinta, atau hubungan keluarga yang remeh-temeh.
Budi Darma bahkan tidak mengeksploitasi eksotisme Amerika Serikat meskipun ia menulisnya saat bermukim di sana. Namun, di balik narasinya yang terkesan datar tanpa kegaduhan peristiwa, tersimpan ironi yang dalam tentang hubungan antarmanusia dan rapuhnya eksistensi kita di hadapan Tuhan.
Orez: Refleksi Penerimaan dan Luka yang Personal
Bagi saya, cerita berjudul Orez adalah yang paling menggetarkan. Membacanya membawa ingatan saya kembali ke musim dingin 2015 di Belanda, menciptakan ikatan emosional yang sangat personal. Orez memotret sepasang suami-istri yang menghadapi kehadiran anak dengan cacat fisik dan mental. Penolakan sang ibu yang begitu ekstrem, bahkan sejak dalam kandungan, menggambarkan betapa beratnya beban mental yang harus dipikul.
Cerita ini menggugat nurani kita: apakah manusia berpasangan hanya untuk mengikuti insting kesenangan belaka? Melalui Orez, Budi Darma mengingatkan bahwa setiap anak, betapapun usil atau tidak pintarnya mereka, berhak diterima dengan tulus. Menariknya, cerita ini juga menyentil kesadaran sosial kita; bagaimana masyarakat di lingkungan tersebut menghargai disabilitas tanpa rasa jijik. Hal ini senada dengan pengalaman pribadi saya saat orang-orang di luar negeri tetap melihat anak saya yang mengidap ichthyosis dengan senyum ramah dan tulus, sebuah penerimaan yang menghangatkan hati.
Kerentanan dan Paradoks Balas Dendam
Dalam cerita Laki-Laki Tua Tanpa Nama dan Keluarga M, penulis menunjukkan betapa rentannya manusia. Kita sering merasa hebat hanya karena pekerjaan atau kendaraan mewah, lalu tanpa sadar menyalahgunakan kelebihan tersebut. Namun, saat konflik mendera, semua kemegahan itu menguap. Tokoh utama dalam cerita ini akhirnya tersadar bahwa dendam yang terlampiaskan hanya menyisakan kekosongan. Pada akhirnya, orang-orang datang dan pergi, sementara ia tetap terjebak dalam kesendirian yang abadi.
Paradoks serupa muncul dalam Yorrick dan Charles Lebourne. Rasa iri akibat persaingan cinta atau upaya membalas dendam kepada orang tua yang meninggalkan kita ternyata tidak membawa kepuasan. Upaya James Russel untuk menghancurkan ayah kandungnya justru berbalik menjadi penderitaan bagi dirinya sendiri. Budi Darma seolah ingin menegaskan bahwa di dunia ini, sering kali kemenangan yang kita kejar adalah kesia-siaan yang baru.
Sastra sebagai Cermin Kontemplasi
Banyak kritikus menganggap buku ini sebagai salah satu mahakarya sastra Indonesia, dan saya sangat sependapat. Kualitas sejati sebuah karya memang tidak terletak pada kemeriahan plot, melainkan pada kemampuannya menjadi sarana perenungan bagi pembaca. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Maman S. Mahayana, sastra seharusnya membuat kita berkaca untuk memperbaiki diri di masa depan.
Sebagai penutup, kisah Ny. Elberhart melontarkan pertanyaan eksistensial yang krusial: apa sebenarnya tujuan hidup kita? Apakah kita hanya sibuk melakukan pekerjaan rutin tanpa tahu maknanya? Jangan sampai hidup kita berakhir seperti majalah Primo dalam cerita tersebut, yang diibaratkan sebagai representasi sang tokoh, yang berakhir di pinggir jalan atau tempat sampah tanpa memberi arti apa pun bagi dunia.
Kesimpulan
Orang-Orang Bloomington adalah sebuah karya yang dingin, tajam, namun sangat jujur dalam membedah penyakit kejiwaan manusia modern. Budi Darma berhasil membuktikan bahwa hal-hal paling biasa dalam hidup sering kali menyimpan rahasia paling mengerikan tentang siapa kita sebenarnya. Sebuah bacaan wajib bagi siapa pun yang berani menatap wajah asli kemanusiaan.
Identitas Buku:
- Judul: Orang-Orang Bloomington
- Penulis: Budi Darma
- Penerbit: Mizan / Noura Books
- Tahun Terbit: Mei 2016 (Cetakan ulang oleh Noura Books)
- ISBN: 9786023850211
- Tebal: 302 - 316 halaman (tergantung edisi cetak)
- Genre: Fiksi, Antologi Cerita Pendek (Realisme Psikologis/Surealis)
Baca Juga
-
Review Ibu Susu: Gugatan Rio Johan Atas Sejarah yang Menghapus Orang Biasa
-
Senyum Karyamin: Menelusuri Jejak Kemanusiaan di Balik Ironi Desa
-
Review Ayahku (Bukan) Pembohong: Menemukan Hakikat Kejujuran dalam Dongeng
-
Bill Gates dan Obama Mewajibkan Baca Buku Ini! Membedah Rahasia Dominasi Sapiens ala Harari
-
Leiden 2020-1920: Saat Sejarah Menjadi Misteri yang Harus Diselidiki
Artikel Terkait
Ulasan
-
Desember yang Pahit, Luka yang Manis: Jatuh Cinta Lagi di Buku Sarah Morgan
-
Jalan Panjang Satelit Palapa: Cerita Insinyur Asing di Indonesia 1976
-
Buku Karena Hidup Enggak Sebercanda Itu, Motivasi yang Menenangkan Jiwa
-
Antara Aturan Adat Bali dan Suara Kenanga yang Menulis Takdirnya Sendiri
-
Dari Rayuan ke Kematian: Drama Korea Paling Gelap Sirens Kiss
Terkini
-
Novel Isekai Populer Karya Yasukiyo Kotobuki Resmi Dapat Adaptasi Anime TV
-
Rekomendasi Parfum Brand Lokal yang Cocok Dipakai Saat Berkebaya
-
Ong Seong Wu Bergabung dengan Park Eun Bin dan Yang Se Jong di Spellbound
-
Bicara Soal Kartini di 2026: Apakah Emansipasi Perempuan Masih Relevan?
-
Gelar Juara Dunia Terbuka, Jorge Martin Tak Menolak Jika Ada Kesempatan