Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Poster serial Beef Season 2 (IMDb)
Ryan Farizzal

Serial Beef karya Lee Sung Jin yang memenangkan banyak Emmy kembali dengan musim keduanya pada 16 April 2026 di Netflix. Semua delapan episode langsung tersedia untuk ditonton sekaligus (binge-watch model khas Netflix), mulai pukul 00.00 PT (03.00 ET atau sekitar 14.00 WIB).

Bagi kamu di Indonesia, cukup buka aplikasi Netflix pada tanggal tersebut—tidak ada jadwal rilis mingguan. Season 2 ini berubah menjadi format anthology, artinya cerita baru sepenuhnya dengan karakter dan setting berbeda dari Season 1 yang dibintangi Ali Wong dan Steven Yeun.

Puncak Konflik dan Pesan Tema yang Dalam

Salah satu adegan di serial Beef Season 2 (IMDb)

Plot Season 2 berpusat di sebuah country club mewah yang elit, melibatkan dua pasangan utama yang terjebak dalam perang pemerasan (blackmail war) yang semakin kacau.

Pasangan Millennial: Josh (Oscar Isaac), manajer umum country club yang punya masalah judi dan kecanduan camgirl, serta istrinya Lindsay (Carey Mulligan), seorang desainer interior asal Inggris yang ambisius dan kejam dalam mempertahankan status sosialnya.

Konflik dimulai saat pasangan Gen Z yang baru bertunangan—Austin (Charles Melton), personal trainer, dan Ashley (Cailee Spaeny), pegawai lapangan golf—menyaksikan pertengkaran hebat antara bos mereka (Josh) dan istrinya.

Insiden kecil itu memicu rantai peristiwa penuh intrik, pemerasan, rahasia keluarga, hingga melibatkan ketidakadilan kelas, ketimpangan generasi, dan dinamika kekuasaan di kalangan orang kaya.

Ada juga elemen billionaire Korea dengan cameo kuat dari Youn Yuh-jung dan Song Kang-ho yang menambah lapisan budaya dan diaspora.

Secara naratif, Lee Sung Jin kembali menunjukkan keahliannya dalam membangun ketegangan dari hal sepele menjadi kekacauan besar. Dialog-dialognya tajam, penuh sarkasme hitam, dan sering kali sangat relatable meski settingnya super elit.

Tema utama musim ini adalah bagaimana setiap pasangan bertemu tandingannya, eksplorasi pernikahan yang stagnan, ambisi generasi muda versus kekecewaan generasi tua, serta isu kelas sosial dan ketidakadilan kesehatan.

Season ini lebih ambisius dan bigger dibanding Season 1, dengan elemen komedi gelap yang tetap absurd tapi menyentuh isu sosial seperti ketimpangan kekayaan dan ekspektasi gender.

Akan tetapi ada bagian yang overcrowded dan agak unfocused, terasa seperti White Lotus versi lebih gelap dan kurang tajam. Pacing tetap cepat, tidak ada episode yang terasa bloated—kekuatan besar dari penulisan Lee.

Review Serial Beef Season 2

Salah satu adegan di serial Beef Season 2 (IMDb)

Oscar Isaac dan Carey Mulligan tampil memukau sebagai pasangan yang semakin retak; chemistry mereka penuh ketegangan dan humor getir. Charles Melton dan Cailee Spaeny membawa energi segar Gen Z yang naif tapi ambisius, kontras sempurna dengan pasangan bos mereka.

Cameo dari aktor senior seperti Youn Yuh-jung menambah kedalaman, sementara elemen visual sangat mewah dan mendukung tema. Soundtrack dan needle drops juga cerdas, sering kali mengomentari emosi karakter.

Ending season ini penuh simbolisme—dari shot akhir yang dijelaskan creator sendiri—meninggalkan banyak pertanyaan tentang cinta, balas dendam, dan konsekuensi pilihan.

Ada banyak Easter eggs, referensi lukisan episode, dan detail kecil yang membuat rewatching sangat menyenangkan.

Kalau boleh jujur dibanding Season 1, Beef Season 2 lebih ensemble-driven dan luas skalanya, tapi aku merasa kehilangan intensitas satu-lawan-satu yang membuat musim pertama begitu meledak.

Film ini lebih ke arah unlovable White Lotus rip-off dan bigger is actually better. Kurasa tetap jadi salah satu drama komedi terbaik di TV saat ini.

Secara keseluruhan, season ini berhasil mempertahankan DNA Beef: eksplorasi amarah manusia, kegagalan komunikasi, dan bagaimana dendam kecil bisa menghancurkan segalanya.

Lee Sung Jin bahkan mengaku banyak terinspirasi dari kejadian nyata soal dinamika kelas dan hubungan. Netflix juga memperpanjang kerjasama kreatif dengan sang creator, menandakan kepercayaan tinggi meski belum ada pengumuman resmi Season 3.

Bagi penggemar Season 1, Season 2 ini seperti hidangan baru dengan rasa yang familiar tapi bahan utamanya berbeda—tetap pedas, asin, dan bikin nagih. Visualnya sinematik, humornya dark, dan emosinya kompleks.

Bisa dibilang akting dan penulisannya juga sudah baik, tapi kritikku mungkin karena terlalu rama aja sih. Kalau kamu suka cerita tentang manusia yang rusak, hubungan toxic, dan satire kelas atas, Season 2 ini wajib ditonton. Tapi kalau mengharapkan replika persis Season 1, mungkin akan sedikit kecewa.

Secara keseluruhan, Beef Season 2 adalah kelanjutan yang solid dan berani, membuktikan bahwa konsep anthology bisa berhasil di tangan Lee Sung Jin.

Dengan produksi A24 yang berkualitas tinggi, akting bintang, dan tema yang relevan, serial ini tetap menjadi salah satu yang paling ditunggu di Netflix 2026. Sudah streaming sekarang—siapkan popcorn, karena beef kali ini lebih juicy dan generational.

Catatan: Pastikan akun Netflix kamu aktif. Jika belum nonton Season 1, kusarankan tonton dulu untuk memahami vibe keseluruhan seri, meski Season 2 berdiri sendiri. Selamat menikmati—jangan sampai bikin darah tinggi ya, Sobat Yoursay!