Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Poster film Para Perasuk (IMDb)
Ryan Farizzal

Setelah sukses besar dengan Penyalin Cahaya (2021) dan Budi Pekerti (2023), Wregas Bhanuteja kembali menggebrak sinema Indonesia melalui Para Perasuk. Film ini bukan sekadar tambahan dalam daftar panjang film mistis Indonesia, melainkan sebuah dekonstruksi radikal terhadap fenomena supranatural.

Di bawah bendera Rekata Studio, Wregas mengajakku menyelami Desa Latas, sebuah tempat di mana kerasukan bukan dianggap sebagai musibah, melainkan sebuah katarsis kolektif—sebuah pesta.

Desa Latas: Di Mana Kerasukan Menjadi Pesta Rakyat

Salah satu adegan di film Para Perasuk (IMDb)

Cerita berfokus pada Bayu (Angga Yunanda), seorang pemuda berusia 20 tahun yang hidup di tengah masyarakat Desa Latas yang memiliki tradisi unik. Bagi warga desa ini, kerasukan adalah cara untuk melupakan kepenatan hidup dan mencari kesenangan.

Bayu memiliki ambisi besar: ia ingin menjadi seorang Perasuk Utama. Akan tetapi, motivasinya bukan sekadar pengakuan sosial.

Desa mereka sedang terancam kehilangan mata air keramat akibat privatisasi atau krisis ekonomi lokal, dan Bayu percaya bahwa dengan memimpin pesta kerasukan besar-besaran, ia dapat mengumpulkan dana untuk menebus kembali sumber kehidupan desa tersebut.

Dalam perjalanannya, Bayu harus bersaing dengan Ananto (Bryan Domani) dan dibantu oleh sahabatnya, Pawit (Chicco Kurniawan).

Di sisi lain, ada Laksmi (Maudy Ayunda), seorang wanita pelamun yang memiliki ketergantungan emosional pada kondisi kerasukan untuk lari dari trauma masa lalunya.

Kehadiran Guru Asri (Anggun C. Sasmi) menambah dimensi spiritual dan edukatif dalam narasi, bertindak sebagai penjaga tradisi yang memahami bahwa setiap ruh binatang yang merasuk membawa pesan tersendiri.

Ulasan Film Para Perasuk

Salah satu adegan di film Para Perasuk (IMDb)

Akting para pemain menjadi tulang punggung kekuatan film ini. Maudy Ayunda tampil sangat berbeda dari peran-peran sebelumnya. Sebagai Laksmi, ia memancarkan aura melankolis yang kuat. Gerakan tubuhnya saat adegan kerasukan benar-benar tak menggunakan teknik horor konvensional (seperti tulang retak atau mata putih), melainkan gerakan koreografis yang puitis dan penuh emosi.

Angga Yunanda memberikan performa fisik yang luar biasa. Ia bertransformasi dari pemuda ambisius menjadi sosok yang rentan, bahkan melakukan adegan ekstrem yang menyerupai gerakan lintah dan manusia silver demi totalitas peran. Karakter Bayu adalah representasi dari generasi muda yang terjebak di antara idealisme menyelamatkan lingkungan dan obsesi pribadi yang destruktif.

Debut layar lebar sang diva internasional, Anggun C. Sasmi, menjadi kejutan manis. Sebagai Guru Asri, ia memberikan wibawa pada film ini. Suaranya yang khas digunakan untuk merapal mantra-mantra yang dibuat secara improvisasi (impromptu), menciptakan atmosfer yang megis sekaligus elegan.

Wregas Bhanuteja dikenal dengan penggunaan warna dan simbolisme yang kuat. Dalam Para Perasuk, ia memperkenalkan konsep ruh binatang (seperti Roh Kancil, Roh Macan, dan Roh Lintah) sebagai metafora emosi manusia.

Kerasukan di sini adalah simbol dari pelepasan topeng sosial. Saat seseorang kerasukan ruh lintah, misalnya, itu mencerminkan sifat rakus atau ketergantungan yang selama ini dipendam dalam kehidupan sehari-hari.

Sinematografinya menangkap lanskap pedesaan dengan sudut pandang yang terasa luas tetapi menyesakkan. Penggunaan cahaya matahari yang terik di tanah lapang saat pesta kerasukan menciptakan kontras dengan tema gelap yang biasanya diidentikkan dengan film supranatural. Ini adalah daylight horror yang tidak mengandalkan jumpscare, melainkan ketidaknyamanan psikologis.

Film ini secara tajam menyoroti bagaimana tradisi sering kali dikomodifikasi demi kepentingan materi. Ambisi Bayu untuk menyelamatkan desa melalui pesta kerasukan memunculkan pertanyaan etis: Apakah tujuan yang mulia menghalalkan segala cara? Wregas menunjukkan bahwa ketika ambisi berubah menjadi obsesi, seseorang justru bisa kehilangan jati dirinya dan menyakiti orang-orang yang ingin ia lindungi.

Selain itu, isu lingkungan tentang perebutan mata air memberikan relevansi sosial yang kuat. Mengingatkan kita bahwa ancaman nyata bagi manusia sering kali bukan datang dari ruh halus, melainkan dari keserakahan manusia itu sendiri dan hilangnya koneksi dengan alam.

Para Perasuk adalah sebuah mahakarya drama-supranatural yang cerdas. Ia berhasil keluar dari pakem film horor Indonesia yang membosankan.

Wregas Bhanuteja membuktikan bahwa ia adalah sutradara yang mampu membawa narasi lokal ke level global tanpa kehilangan identitas budayanya. Film ini sangat aku rekomendasikan buat kamu yang mencari pengalaman sinematik yang mendalam, penuh simbolisme, dan menggugah pikiran.

Buat kamu yang sudah tidak sabar menyaksikan kolaborasi akting Angga Yunanda, Maudy Ayunda, dan Anggun C. Sasmi, film ini sudah dapat disaksikan di layar lebar mulai tanggal 23 April 2026.

Pastikan untuk menontonnya di bioskop ya, guna mendapatkan pengalaman audiovisual yang maksimal, terutama untuk mendengar raungan mantra dari Guru Asri dan musik latar yang mencekam.