Bhooth Bangla, atau yang sering disebut Booth Bangla di Indonesia, adalah film komedi horor berbahasa Hindi yang dirilis pada tahun 2026. Disutradarai oleh Priyadarshan, film ini menandai reuni akbar antara sutradara tersebut dengan Akshay Kumar setelah 14-16 tahun sejak kolaborasi terakhir mereka.
Diproduksi oleh Akshay Kumar sendiri bersama Ekta Kapoor dan Shobha Kapoor di bawah naungan Balaji Motion Pictures dan Cape of Good Films, film ini mengusung genre comedy-horror dengan sentuhan nostalgia ala film-film Priyadarshan klasik seperti Bhool Bhulaiyaa.
Durasi film sekitar 173 menit, dengan rating UA 16+ yang menunjukkan ada elemen horor ringan dan komedi dewasa.
Misteri Istana Acharya Niwas dan Hantu Vadhusur
Cerita berfokus pada Arjun Acharya (Akshay Kumar), seorang pria berusia akhir 30-an yang tinggal di London dan sedang kesulitan finansial. Ia tiba-tiba mewarisi istana megah milik kakeknya, Acharya Niwas, di sebuah desa terpencil bernama Mangalpur di India Utara.
Arjun memutuskan untuk menggelar pernikahan adik perempuannya, Meera (Mithila Palkar), di istana tersebut demi menghemat biaya sekaligus memanfaatkan properti warisan. Namun, rencana itu terganggu oleh kejadian-kejadian supranatural aneh yang membuat warga lokal panik. Istana ini konon dihantui oleh entitas jahat bernama Vadhusur, seorang hantu yang suka menculik pengantin wanita baru.
Arjun pun terpaksa menyelidiki masa lalu misterius istana itu, sambil menghadapi kekacauan keluarga, teman-teman eksentrik, dan rahasia gelap yang terungkap secara bertahap. Plotnya menggabungkan elemen misteri, komedi situasional, dan horor ringan dengan twist tentang masa lalu keluarga serta makhluk supranatural.
Ulasan Film Booth Bangla
Akshay Kumar tampil sebagai pemeran utama yang lincah, mengandalkan timing komedi dan ekspresi wajahnya yang khas untuk membawa nuansa lucu di tengah ketegangan horor. Ia berhasil menyeimbangkan antara momen ketakutan dan lelucon, meski beberapa kritikus mencatat bahwa usianya yang kini lebih matang membuat chemistry dengan pemeran muda agak kurang pas.
Paresh Rawal dan Rajpal Yadav, duo komedi andalan Priyadarshan, hadir dengan peran pendukung yang penuh kegilaan—mereka menyumbang banyak tawa melalui dialog kocak dan aksi slapstick. Tabu membawa kedalaman emosional dengan peran yang lebih serius, sementara Wamiqa Gabbi menangani track romantis yang kadang disebut agak dipaksakan.
Jisshu Sengupta berperan sebagai ayah Arjun, dan ada pula Mithila Palkar serta cameo dari aktor seperti Asrani dan Manoj Joshi yang menambah nuansa nostalgia. Ensemble cast ini menjadi kekuatan utama, terutama bagi penggemar film-film Priyadarshan era 2000-an.
Secara teknis, sinematografi berhasil menciptakan suasana eerie di istana tua dengan pencahayaan redup, bayangan misterius, dan efek suara yang mendukung jump scare ringan.
Musik latar karya Hesham Abdul Wahab atau tim lain (tergantung sumber) turut memperkuat transisi antara komedi dan horor.
Sutradara Priyadarshan dikenal mahir mengatur pacing komedi, dan di film ini ia mencoba mengulang formula sukses Bhool Bhulaiyaa: humor berbasis karakter, situasi absurd, plus elemen mistis India.
Babak pertama lebih dominan komedi dengan sedikit horor untuk membangun suasana, sementara babak kedua semakin gelap dengan pengungkapan backstory dan klimaks yang intens.
Akan tetapi, durasi yang panjang membuat beberapa bagian terasa bertele-tele, dan twist-nya kadang terprediksi bagi penonton yang familiar dengan genre serupa.
Kalau menurutku sih, film ini sebagai entertainer yang menyenangkan, dengan Akshay Kumar dalam performa komedi terbaiknya dan keseimbangan antara tawa serta ketegangan yang genuinely funny yet eerie.
Penggemar nostalgia senang melihat reuni Priyadarshan-Akshay bersama Paresh Rawal dan Rajpal Yadav, yang menghadirkan vibe klasik Bollywood masala.
Film ini memang lemah dari segi struktur narasi, banyak dialog yang kedengarannya sudah basi, serta perbedaan usia antar aktor yang mengganggu imersiku sebagai penonton.
Selain itu, ia terlalu mengandalkan nostalgia tanpa membawa angin segar, sehingga terasa seperti remake biasa dari pola cerita lama. Meski demikian, kurasa tetap pas untuk ditonton sebagai hiburan santai bersama keluarga atau teman di bioskop.
Tapi, sangat tidak kusarankan kalau kamu mencari horor serius atau plot yang mendalam. Di awal rilis, box office di India cukup bagus meskipun bersaing dengan judul-judul lain.
Secara keseluruhan, Bhooth Bangla adalah film yang solid sebagai hiburan akhir pekan. Ia tidak berusaha menjadi horor murni yang menyeramkan, melainkan komedi horor ringan yang mengandalkan chemistry cast dan situasi kocak di tengah istana berhantu.
Kelebihannya terletak pada faktor nostalgia, penampilan Akshay Kumar yang energik, serta momen-momen lucu yang berhasil memicu tawa penonton yang ada di bioskop. Kekurangannya adalah skrip yang kurang tajam, pacing yang kadang lambat di paruh kedua, dan elemen romantis yang kurang meyakinkan.
Kalau kamu penggemar film seperti Bhool Bhulaiyaa, Hera Pheri, atau komedi Bollywood klasik Priyadarshan, film ini patut ditonton di bioskop untuk merasakan pengalaman kolektif dengan suara tawa dan jeritan penonton. Namun, bagi yang mencari cerita orisinal atau horor berkualitas tinggi, mungkin lebih baik menunggu rilis OTT.
Film Bhooth Bangla (Booth Bangla) resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 17 April 2026, dengan paid previews pada 16 April malam di beberapa lokasi. Jadwal tersedia di jaringan besar seperti Cinema 21, XXI, CGV, Cinepolis, Platinum Cineplex, dan lainnya.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan, film ini diputar dalam format 2D dengan subtitle Indonesia. Tiket bisa dipesan melalui aplikasi bioskop masing-masing.
Karena dirilis berdekatan dengan film lain, disarankan cek jadwal harian karena bisa berubah. Di Surabaya sendiri, film ini tersedia di bioskop-bioskop utama sejak hari pertama rilis.
Dengan kekuatan komedi ensemble dan sentuhan horor yang menghibur, Bhooth Bangla berhasil menjadi tontonan yang pas untuk melepas penat. Meski bukan masterpiece, ia menyediakan 2,5 jam lebih hiburan yang ringan dan penuh tawa. Rating pribadiku: 7/10—layak ditonton sekali di bioskop jika suka genre ini.
Baca Juga
-
Review Evil Dead Burn: Teror Iblis Necronomicon di Rumah Danau Berdarah!
-
Review Golden Kamuy: Konflik Berdarah Para Narapidana Kelas Kakap di Jepang
-
Ikka: Thriller Netflix yang Menyoroti Keadilan dan Pengorbanan Keluarga!
-
Bukan Sekadar Rapuh: Membedah Stigma "Generasi Strawberry" pada Gen Z
-
Kerja Secukupnya, Waras Seutuhnya: Membedah Tren Quiet Quitting ala Gen Z
Artikel Terkait
-
NGORBIT: Keysha Alvaro, Adi Sudirja, dan Callista Arum Ungkap Misteri Film Tumbal Proyek
-
Shoplifters: Kisah Keluarga yang Dibangun dari Pencurian dan Kasih Sayang
-
Film Salmokji Tembus 1 Juta Penonton di Bawah 10 Hari, Rekor Horor Tercepat
-
Sinopsis Erica, Film Horor Jepang Terbaru Mochizuki Ayumu dan Hayashi Meari
-
Siap-siap! Pengabdi Setan 3: Origin Tayang 2027 di Bioskop
Ulasan
-
Review Every Monday Mabel: Ketika Truk Sampah Jadi Hal Terbaik di Dunia
-
Teach You a Lesson: Drama Aksi Sekolah dengan Kritik Pedas Sistem Pendidikan
-
Membaca Ways to Live Forever: Bagaimana Anak Kecil Melihat Sebuah Kematian?
-
Review Evil Dead Burn: Teror Iblis Necronomicon di Rumah Danau Berdarah!
-
Ulasan Kronik Burung Pegas: Kisah Kehilangan, Trauma, dan Dunia Surealis
Terkini
-
Tangki Cinta yang Kosong: Sulitnya Anak Broken Home Mengenal Hubungan Sehat
-
Ghosting, Breadcrumbing, dan Situationship: Bahasa Baru dalam Dunia Asmara
-
Fenomena Gaji Numpang Lewat: Gaya Hidup dan Tekanan Sosial yang Bikin Boros
-
Prabowo dan Obsesi MBG: Mengapa Kemajuan Negara Diukur dari Perut Rakyat?
-
4 Hybrid Sunscreen Cegah Jerawat Meradang Akibat Paparan Sinar Matahari