M. Reza Sulaiman | Oktavia Ningrum
Masjid Al Ghamamah (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Pagi itu matahari Madinah bersinar begitu terik. Langit tampak putih kebiruan tanpa banyak awan, sementara halaman sekitar Masjid Nabawi dipenuhi peziarah dari berbagai negara. Dari kejauhan, saya berjalan menuju sebuah masjid kecil yang letaknya tak begitu jauh di sisi barat daya Nabawi. Orang-orang menyebutnya Masjid Al Ghamamah. Ini pertama kalinya saya berkunjung ke sana.

Awalnya saya mengira masjid ini hanyalah bangunan tua biasa di tengah kawasan bersejarah Madinah. Namun begitu mendekat, ada suasana berbeda yang langsung terasa. Masjid itu memang tidak terlalu besar, tetapi justru di situlah letak kehangatannya. Bangunannya sederhana, tenang, dan terasa sangat “homie”—seperti tempat singgah yang membuat hati otomatis melambat.

Interior dan Bagian Dalam Masjid Al-Ghamamah

Masjid Al Ghamamah (Dok.Pribadi/Oktavia)

Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah burung-burung yang bertengger di bagian atap dan lengkungan bangunannya. Jumlahnya begitu banyak. Sebagian terbang berputar di udara, sebagian lagi diam menikmati panas pagi Madinah. Anehnya, suasana ramai di sekitar masjid tidak membuat mereka pergi. Hari itu adalah hari Jumat, kawasan sekitar penuh oleh jemaah dan peziarah, tetapi Masjid Al Ghamamah tetap memancarkan keteduhan yang sulit dijelaskan.

Saya lalu duduk sejenak di salah satu sisi halaman sambil memperhatikan detail interiornya. Tidak mewah berlebihan, tetapi unik dan menenangkan. Lengkungan khas arsitektur Islam klasik masih terasa kuat. Warna-warna bangunannya cenderung netral, menghadirkan nuansa damai yang berbeda dari hiruk-pikuk kota modern di sekitarnya. Di tempat itulah saya mulai mengingat sejarah panjang masjid ini.

Asal-Usul Nama "Ghamamah"

Masjid Al Ghamamah (Dok.Pribadi/Oktavia)

Nama “Ghamamah” sendiri berarti awan atau mendung. Nama itu berasal dari kisah yang sangat terkenal dalam sejarah Islam. Dahulu, Madinah pernah mengalami musim kering yang berat. Rasulullah SAW kemudian memimpin salat Istisqa’—yakni salat meminta hujan—di sebuah tanah lapang di lokasi ini. Setelah beliau berdoa, datanglah awan yang menaungi beliau dan hujan pun turun. Dari peristiwa itulah tempat ini dikenal sebagai Masjid Al Ghamamah, atau Masjid Awan.

Membayangkan peristiwa itu membuat saya merinding. Sulit rasanya tidak tersentuh ketika berdiri di lokasi yang pernah menjadi tempat Rasulullah SAW memohon hujan untuk umatnya. Tempat ini juga diyakini sebagai lokasi Rasulullah melaksanakan salat Id berjamaah untuk pertama kalinya di Madinah. Jadi, bukan hanya sekadar bangunan tua, melainkan saksi hidup perjalanan dakwah Nabi.

Secara sejarah, masjid ini dibangun pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz sekitar tahun 86 hingga 93 Hijriah. Kemudian bangunannya mengalami renovasi pada masa Sultan Hasan bin Muhammad bin Qalawan Ash-Shalihi sebelum tahun 761 Hijriah. Pada era Kesultanan Utsmani, Sultan Abdul Majid I juga melakukan pembaruan terhadap masjid ini. Bahkan hingga masa pemerintahan Raja Fahd, kawasan ini tetap dirawat sebagai situs sejarah penting di Madinah.

Dilestarikan Sebagai Warisan Sejarah

Masjid Al Ghamamah (Dok.Pribadi/Oktavia)

Letaknya pun sangat dekat dengan beberapa masjid bersejarah lain seperti Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Masjid Ali bin Abi Thalib. Seluruh kawasan itu seperti menyimpan jejak langkah generasi awal Islam.

Meski memiliki nilai sejarah tinggi, para ulama menjelaskan bahwa tidak ada sunah khusus untuk melaksanakan salat di Masjid Al Ghamamah. Namun banyak jemaah tetap datang karena ingin mengenang perjalanan Rasulullah dan merasakan kedekatan emosional dengan sejarah Islam.

Dan mungkin memang itu yang paling membekas bagi saya. Di tengah panas Madinah yang menyengat, masjid kecil itu justru menghadirkan rasa teduh. Bukan hanya karena kisah awan yang menaungi Nabi Muhammad berabad-abad lalu, tetapi karena tempat itu mengingatkan saya bahwa sejarah Islam tidak selalu hadir dalam bangunan megah.