Ada alasan mengapa saya harus berhenti beberapa kali saat membaca No Longer Human (Gagal Menjadi Manusia). Menurut saya, buku ini bukan jenis bacaan yang bisa diselesaikan dalam satu dudukan sambil menyeruput kopi sore.
Bagi saya, karya legendaris Osamu Dazai ini seperti sebuah cermin retak yang dipaksa menghadap ke bagian paling sunyi dan kelam dalam jiwa manusia. Membaca kisah hidup tokoh utamanya, Yozo Oba, rasanya seperti melongok langsung ke dalam jurang depresi yang pekat, sebuah tempat di mana cahaya harapan seolah enggan untuk mampir.
Sebagai pembaca, saya merasa Dazai tidak hanya bercerita, melainkan sedang menelanjangi dirinya sendiri. Melalui Yozo, yang merupakan alter ego dari Dazai, saya diajak memahami bagaimana rasanya hidup dengan perasaan asing terhadap dunia. Sejak kecil, Yozo merasa tidak memahami manusia lain. Baginya, masyarakat adalah sebuah labirin penuh kepura-puraan yang menakutkan.
Badut di Balik Topeng Kesedihan
Salah satu bagian yang paling memukul hati saya adalah ketika Yozo memutuskan untuk menjadi seorang badut. Demi menyembunyikan ketakutannya yang luar biasa terhadap penolakan dan dunia luar, ia sengaja bertingkah konyol agar orang-orang tertawa.
Saya termenung lama di lembar-lembar awal ini. Bukankah ini adalah potret paling akurat dari smiling depression? Banyak dari kita, termasuk saya di beberapa fase hidup, sering kali memakai topeng keceriaan hanya agar orang lain tidak perlu bertanya-tanya.
Melihat Yozo tertawa di luar sementara jiwanya menjerit di dalam membuat saya merasa sesak. Dazai dengan sangat brilian menggambarkan bahwa depresi tidak selalu berwujud air mata yang mengalir, melainkan tawa palsu yang melelahkan.
Kehilangan Hak untuk Menjadi Manusia
Seiring berjalannya narasi, saya menyaksikan kejatuhan Yozo. Ia melarikan diri ke dalam alkohol, hubungan yang merusak, dan obat-obatan terlarang. Namun, saya tidak bisa menghakiminya. Lewat POV saya sebagai pengamat jalannya cerita, saya melihat bahwa semua pelarian itu adalah usaha putus asa seorang manusia yang sedang tenggelam untuk mencari udara.
Puncak kepedihan saya sebagai pembaca terjadi ketika Yozo sampai pada kesimpulan bahwa dirinya telah gagal menjadi manusia. Kalimat tersebut bukan sekadar metafora fiksi, melainkan adalah puncak dari rasa hampa (emptiness) yang akut. Depresi, dalam bentuknya yang paling kejam, membuat seseorang merasa tidak lagi berharga, tidak lagi memiliki hak untuk hidup di antara manusia normal lainnya.
Sebuah Monumen Kesepian yang Jujur
Bagi saya, novel ini berhasil membawa kejujuran yang besar. Dazai tidak menawarkan bumbu-bumbu romantisasi tentang kesehatan mental. Tidak ada pahlawan yang datang menyelamatkan Yozo, tidak ada keajaiban yang menyembuhkannya di akhir halaman. Hubungan antara kenyataan bahwa novel ini diselesaikan sesaat sebelum Dazai mengakhiri hidupnya sendiri di dunia nyata juga menambah lapisan atmosfer kelam yang nyata saat saya membacanya.
Buku ini terasa seperti sebuah monumen kesepian. Saat membaca halaman terakhirnya, saya tidak merasakan kepuasan dari sebuah resolusi cerita. Sebaliknya, saya ditinggalkan dengan rasa hampa yang dingin dan empati yang mendalam.
Mengapa Kita Perlu Melongok ke Dalam Gelap?
Novel No Longer Human bagi saya bukan sekadar buku fiksi klasik Jepang. Buku ini adalah dokumen kemanusiaan yang penting. Membaca novel ini membuat saya tersadar bahwa depresi adalah monster nyata yang mengisolasi seseorang dari realitas.
Meskipun perjalanannya melelahkan, melongok ke dalam kegelapan Yozo justru membuat saya ingin lebih peduli pada sekitar. Buku ini mengingatkan saya untuk mendengarkan, melihat lebih jeli, karena di luar sana, mungkin ada seseorang yang sedang memakai topeng badutnya, berjuang setengah mati agar tidak merasa gagal menjadi manusia.
Baca Juga
-
Novel The Devotion of Suspect X: Sebuah Upeti untuk Logika yang Salah Jalan
-
Pink Tax Adalah Bentuk Diskriminasi yang Dijual Lewat Produk Perempuan
-
Toko Kenangan yang Tertukar
-
Kedaulatan di Ujung Algoritma: Alasan Saya Stop Mengikuti Rekomendasi FYP
-
Diary Seorang Digital Slaves: Saat Notifikasi Lebih Mengatur Saya daripada Alarm
Artikel Terkait
Ulasan
-
Avatar: Live Action yang Hadir dengan Tema Perang dan Perdamaian yang Kuat!
-
Film Semua Akan Baik-Baik Saja dan Lelahnya Jadi Dewasa yang Harus Kuat
-
Winnetou: Persahabatan Old Shatterhand dan Kepala Suku Apache yang Heroik
-
Ketika Demokrasi Dipimpin Satu Komando: Nasib Politik Islam Tahun 1959-1965
-
Merajut Harkat: Menyingkap Sisi Gelap Penjara dan Martabat yang Hilang
Terkini
-
4 Pilihan Serum NAD Solusi Efektif Atasi Pori-Pori Besar dan Dark Spot
-
Ada Kim Ji Yeon, Drakor Dive Into You Rilis Jajaran Pemain Utama
-
Dibalik Tuntutan Rp5,6 T Nadiem Makarim: Saat Inovasi Digital Berujung di Kursi Pesakitan
-
Tayang 22 Juni, Seo In Guk Jadi Bos Kaku di Drama See You at Work Tomorrow
-
Saatnya Kembali ke Akar: Membangun Imunitas dengan Kekayaan Pangan Lokal