M. Reza Sulaiman | Davina Aulia
Ilustrasi sebuah otak (Unsplash.com/Milad Fakurian)
Davina Aulia

Kota Neo-Jakarta di tahun 2085 adalah sebuah tempat yang sangat tenang. Bahkan terlalu tenang. Di sini, tidak ada orang yang menangis di trotoar. Tidak ada amarah yang meledak di tengah kemacetan. Perusahaan raksasa bernama Mnemosyne Corp telah berhasil mengomersialkan kedamaian jiwa setiap orang.

Melalui layanan "Tabula Rasa", siapapun bisa menjual ingatan buruk mereka. Mulai dari ingatan patah hati, trauma masa kecil, hingga rasa bersalah karena kecelakaan. Semuanya bisa diekstraksi, dikemas dalam bio-drive, dan dihapus selamanya dari otak pemiliknya.

Elias adalah seorang Scrubber atau Pembersih. Tugasnya sederhana, yaitu membawa bio-drive berisi limbah memori mentah dari klinik-klinik satelit menuju Pusat Pemrosesan untuk dimusnahkan. Elias menyukai pekerjaannya karena ia tidak perlu banyak bicara. Sebagian besar otaknya sendiri sudah terasa kosong, setelah ia menjual hampir seluruh kenangan masa remajanya demi melunasi biaya pengobatan ayahnya yang gagal.

Sore itu, hujan asam turun tipis, menyamarkan lampu neon ungu yang berkedip di luar Klinik Sektor 4. Elias menerima sebuah bio-drive kelas berat. Tipe yang biasanya berisi memori tingkat trauma tinggi.

"Hati-hati, Elias," bisik Dr. Aris, kepala klinik. "Enkripsinya agak tidak stabil. Pemiliknya seorang pria tua yang baru saja meninggal. Prosedur pembersihan terlambat dilakukan."

Elias hanya mengangguk. Ia memasukkan drive perak itu ke dalam koper pelindung yang terikat di pergelangan tangannya. Namun, saat ia menuruni tangga menuju stasiun kereta bawah tanah, sebuah malfungsi pada eskalator menyentak tubuhnya. Elias jatuh terguling. Koper pelindungnya menghantam tepian besi dengan sangat keras.

Bunyi krak yang halus terdengar. Cairan bioluminesens biru merembes keluar dari koper.

"Sial," umpat Elias. Jika cairan itu habis, data akan korup dan ia akan dipecat. Sesuai protokol darurat kelas satu, ia harus melakukan Neural Bridging, yakni menggunakan otaknya sendiri sebagai wadah sementara agar data tidak menguap ke udara.

Tanpa pikir panjang, Elias menarik kabel saraf dari koper dan menancapkannya ke port di belakang telinganya.

Detik itu juga, dunia Elias meledak.

---

Awalnya hanya rasa dingin yang menusuk, namun kemudian, realitas di sekitarnya melumer. Dinding stasiun yang kusam berubah menjadi sebuah taman bunga mawar yang rimbun. Elias tidak lagi mencium bau besi dan polusi; ia mencium bau roti panggang dan parfum melati.

Ia melihat melalui mata orang lain. Seorang pria tua.

Dalam memori itu, pria tua itu sedang duduk di sebuah meja kayu jati. Di depannya, seorang wanita dengan rambut sebahu sedang tertawa. Wanita itu memiliki tahi lalat kecil di bawah mata kirinya. Jantung Elias berdegup kencang. Bukan karena memori itu, tapi karena reaksi tubuhnya sendiri.

Ibu? batin Elias.

Tidak mungkin. Ibunya telah meninggal dalam kebakaran hebat dua puluh tahun lalu. Begitulah yang tertulis dalam arsip sipil yang ia miliki. Namun dalam memori ini, wanita itu, ibunya, sedang menyerahkan sebuah amplop cokelat kepada si pria tua.

"Simpan ini, Johan," suara wanita itu lembut namun penuh kecemasan. "Jika Mnemosyne mencariku, jangan biarkan Elias tahu. Mereka tidak menghapus ingatan untuk membantu manusia. Mereka mengumpulkannya. Mereka membangun database emosi untuk memprediksi pemberontakan sebelum itu terjadi."

Adegan berubah cepat. Cahaya neon menyambar. Kini ia berada di sebuah lorong steril. Putih. Terlalu putih. Ia melihat para ilmuwan Mnemosyne sedang memilah-milah ingatan manusia seperti memilah sampah. Mereka tidak membuang trauma; mereka memanennya. Mereka menggunakan rasa takut manusia untuk menciptakan algoritma kontrol sosial yang sempurna.

"Elias!" sebuah suara berteriak di kepalanya.

Elias tersentak kembali ke dunia nyata. Ia masih di lantai stasiun, namun napasnya tersengal-sengal. Air mata mengalir deras di pipinya. Memori itu bukan milik si pria tua sepenuhnya; itu adalah memori tentang konspirasi yang melibatkan ibunya sendiri.

Ibunya tidak meninggal karena kecelakaan. Ibunya adalah seorang arsitek sistem di Mnemosyne yang mencoba membocorkan kebenaran, dan kemudian dihapus dari sejarah.

Lampu merah berkedip di pergelangan tangannya. Sync Error. Security Alert Sent.

Elias tahu apa artinya itu. Kantor pusat sudah tahu bahwa ada kebocoran data ke dalam otaknya. Dalam hitungan menit, tim Eraser akan datang untuk menjemputnya. Mereka tidak akan hanya menghapus drive itu. Mereka akan menghapus seluruh kesadarannya untuk memastikan rahasia itu tetap terkubur.

---

Elias berlari. Ia tidak menuju kantor pusat, melainkan ke arah Sektor Bawah, pemukiman kumuh yang tidak terjangkau oleh sensor pemindai emosi. Sepanjang jalan, potongan memori itu terus menyerangnya.

Ia melihat ibunya sedang menyanyikan lagu pengantar tidur. Cemerlang, cemerlang, bintang di langit... Lalu berganti menjadi kilatan gambar ibunya dipaksa masuk ke dalam ruang ekstraksi.

Elias berhenti di depan sebuah toko barang antik yang sudah tutup. Di sana, di dalam memorinya, si pria tua Johan telah menyembunyikan sesuatu di balik sebuah ubin longgar di bawah rak buku tua.

Dengan jemari yang gemetar, Elias membongkar pintu toko itu. Ia merangkak di dalam kegelapan, debu menyesakkan dadanya. Ia menemukan ubin yang dimaksud. Di bawahnya, terdapat sebuah buku catatan dan sebuah alat pemancar kecil.

Di halaman pertama buku itu, tertulis tangan ibunya. "Untuk Elias. Jika kau membaca ini, berarti kau telah menemukan kembali dirimu. Ingatlah, manusia ditentukan oleh apa yang ia ingat, bukan oleh apa yang ia lupakan."

Tiba-tiba, suara langkah sepatu bot berat terdengar di luar. Cahaya senter menyapu ruangan.

"Elias 4412, menyerahlah. Anda membawa aset perusahaan yang tidak sah," suara dingin dari megafon bergema.

Elias memeluk buku itu. Di dalam otaknya, memori ibunya dan memorinya sendiri mulai menyatu, menciptakan sebuah keberanian yang selama ini tidak pernah ia miliki. Ia menyadari bahwa Mnemosyne telah mencuri identitasnya, mengubahnya menjadi robot pembersih yang patuh.

Ia melihat ke arah alat pemancar di tangannya. Itu adalah Pulse-Emitter, sebuah alat yang jika diaktifkan di dekat menara pusat, akan mengirimkan gelombang elektromagnetik yang membatalkan semua enkripsi memori. Semua orang di kota ini akan mendapatkan kembali ingatan yang pernah mereka jual. Semua rasa sakit, semua duka, tapi juga semua cinta dan kebenaran akan kembali dalam sekejap.

"Elias, keluar dengan tangan di atas!"

Elias berdiri. Ia menatap bayangannya di cermin toko yang retak. Ia melihat seorang pria. Ia adalah penyimpan rahasia. Ia adalah saksi dari sebuah kejahatan besar.

"Aku ingat," bisik Elias pada kegelapan. "Aku ingat semuanya."

Ia memecahkan kaca jendela belakang dan melompat keluar, berlari menuju menara pusat yang menjulang di cakrawala seperti jarum raksasa. Para Eraser melepaskan tembakan peringatan, namun Elias tidak peduli.

Dunia ini sudah terlalu lama hidup dalam kedamaian palsu yang mati rasa. Sudah saatnya Neo-Jakarta belajar untuk menangis lagi. Karena di balik air mata itu, terdapat kebenaran yang akan membebaskan mereka.

Elias terus berlari, sementara di dalam kepalanya, suara ibunya terus bernyanyi, memandu setiap langkahnya menuju pusat badai yang akan mengubah dunia selamanya.

Elias akhirnya mencapai gerbang menara, siap untuk menekan tombol pemancar. Ia tahu ia mungkin tidak akan selamat, tapi baginya, satu menit hidup sebagai manusia yang utuh dengan segala ingatannya lebih berharga daripada seribu tahun hidup sebagai budak yang lupa akan jati dirinya.

Jari Elias gemetar di atas tombol aktivasi. Di belakangnya, pintu baja aula kendali mulai dijebol oleh tim Eraser. Suara hantaman logam bertemu logam terdengar seperti lonceng kematian.

"Elias! Hentikan!" teriak sebuah suara melalui interkom. Itu suara CEO Mnemosyne. "Kau akan menghancurkan kewarasan mereka! Manusia tidak diciptakan untuk menanggung semua duka sekaligus!"

Elias tersenyum getir. Air mata yang tadi mengalir kini mengering, meninggalkan jejak perak di pipinya. "Kita juga tidak diciptakan untuk hidup sebagai mayat yang bernapas," bisiknya.

Klik.

Tidak ada ledakan besar. Hanya sebuah gelombang frekuensi rendah yang membuat udara seolah bergetar hebat. Lampu-lampu di menara pusat berubah dari biru korporat menjadi merah menyala, lalu padam total.

Dalam kegelapan itu, transmisi dimulai.

Elias jatuh berlutut. Kepalanya terasa seperti dibelah saat jutaan data yang tersimpan di server Mnemosyne mengalir kembali ke pemilik aslinya melalui jaringan neural link kota.

Di luar sana, di jalanan Neo-Jakarta, dunia mendadak berhenti. Seorang pria yang sedang tertawa tiba-tiba jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu saat ingatan tentang kehilangan anaknya kembali padanya. Seorang wanita yang sedang berbelanja mendadak teringat akan pengkhianatan yang membuatnya hancur, namun di detik berikutnya, ia teringat cara mencintai lagi.

Kota itu tidak lagi sunyi. Kota itu mulai bising oleh isak tangis, teriakan amarah, dan tawa yang tulus.

Di dalam menara, pintu akhirnya jebol. Tim Eraser menyerbu masuk dengan senjata penumpas memori yang siap ditembakkan. Namun, saat moncong senjata itu diarahkan ke kepala Elias, sang pemimpin pasukan mendadak menjatuhkan senjatanya. Ia memegang kepalanya, matanya terbelalak.

"Istriku..." gumam sang prajurit. Ia baru saja mendapatkan kembali ingatan bahwa istrinya bukan meninggal karena sakit, melainkan dikirim ke kamp kerja paksa oleh perusahaan yang ia bela.

Elias menatap sang prajurit dengan sisa tenaganya. Penglihatannya mulai kabur. Proses transmisi ini telah membakar saraf otaknya. Namun, di detik-detik terakhirnya, Elias melihat bayangan ibunya berdiri di sudut ruangan. Bukan lagi sebagai potongan memori yang retak, melainkan sebagai sosok yang utuh dan tersenyum bangga.

Elias menutup matanya. Dia mungkin akan mati, atau mungkin otaknya akan menjadi kosong selamanya akibat overload data. Tapi saat kegelapan menjemput, ia tidak merasa takut.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Elias tahu siapa dirinya.

Di luar, matahari mulai terbit, menyinari sebuah kota yang kini penuh luka, namun akhirnya menjadi lebih terjaga.