Suara mesin berat, besi berkarat, lumpur gelap, dan proyek jembatan raksasa di tengah perairan malam menciptakan rasa takut yang berbeda dalam film Tumbal Proyek yang rilis pada 13 Mei 2026. Bukan takut karena pocong muncul tiba-tiba atau setan berwajah rusak yang menjerit di lorong sempit. Ketakutan terbesar film ini ada pada betapa mudahnya nyawa pekerja hilang lalu dilupakan begitu saja.
Film horor terbaru produksi Dee Company yang disutradarai JeroPoint (Faisal Reza) ini memang dibungkus seperti tontonan horor komersial biasa. Lengkap dengan jumpscare, kesurupan, darah, dan rumor tumbal proyek yang sudah lama hidup di kepala masyarakat Indonesia. Namun, di balik semua teror supranatural itu, tersimpan sesuatu yang jauh lebih mengganggu.
Sekilas Kisah Film Tumbal Proyek
Yuda yang diperankan Kiesha Alvaro hidup dalam trauma setelah ayahnya, Bayu yang dimainkan Rendy Khrisna, dinyatakan meninggal akibat kecelakaan kerja di proyek pembangunan jembatan besar. Penjelasan resmi terasa janggal. Kematian demi kematian pekerja terus terjadi. Total korban bahkan disebut mencapai 21 orang. Bersama sang ibu, Martha, yang diperankan Karina Suwandi dan adiknya Laras yang dimainkan Callista Arum, Yuda akhirnya nekat masuk ke lokasi proyek demi mencari kebenaran.
Dari sinilah film mulai terasa menarik. Karena semakin lama Yuda menyelidiki, semakin terlihat para pekerja di proyek itu cuma dianggap angka. Orang datang, kerja, mati, lalu diganti lagi dengan tenaga baru. Proyek harus tetap berjalan. Beton harus tetap berdiri. Target kudu selesai tepat waktu. Rasanya dingin sekali sekaligus menyeramkan.
Kegetiran dalam Film Tumbal Proyek
Masyarakat Indonesia tumbuh bersama mitos soal tumbal pembangunan. Cerita tentang mayat yang ditanam di fondasi gedung atau pekerja yang dikorbankan demi kelancaran proyek bukan hal asing lagi. Banyak orang menganggap itu cuma urban legend. Nah, film ini bermain di area yang bikin bulu kuduk berdiri karena terasa dekat dengan realita. Sebab di dunia nyata pun, pekerja proyek memang sering berada di posisi paling rentan.
Ketika buruh meninggal, berita biasanya cuma muncul sebentar. Setelah itu hilang. Proyek tetap lanjut. Crane tetap bergerak. Investor tersenyum. Rasanya seperti nyawa manusia kalah penting dibanding semen dan baja. Tumbal Proyek berhasil menangkap rasa getir itu.
Visual industrial yang dipakai film ini juga ngasih atmosfer berbeda dibanding horor lokal kebanyakan. Biasanya film horor Indonesia terjebak di rumah tua, desa terpencil, atau hutan angker. Sementara film Tumbal Proyek di dunia konstruksi yang keras.
Namun, yang paling menarik dari film ini sebenarnya bukan hantunya. Melainkan bagaimana proyek besar digambarkan bak monster rakus yang meminta korban terus-menerus. Dan ironisnya, monster itu bukan cuma makhluk gaib.
Film ini secara nggak langsung menyinggung ambisi manusia yang rela mengorbankan apa saja demi pembangunan dan keuntungan. Ilmu hitam, korupsi, manipulasi kematian pekerja, semuanya bercampur jadi satu. Horornya terasa sosial. Penonton dipaksa melihat bagaimana orang kecil sering menjadi tumbal paling mudah dalam sistem yang besar.
Film ini juga menyindir sesuatu yang lebih besar tentang negeri ini: pembangunan selalu terlihat megah dari kejauhan, tapi sering menyisakan cerita kelam di bawah pondasinya. Orang-orang menikmati jembatan, gedung, dan jalan tol tanpa pernah tahu siapa yang hilang saat semua itu dibangun.
Mungkin itu sebabnya mitos tumbal proyek nggak mati di Indonesia. Karena masyarakat diam-diam tahu pembangunan memang sering meminta korban. Kalau bukan secara mistis, ya secara sistematis.
Dan ketika film horor berhasil membuat penonton takut sekaligus berpikir tentang kenyataan sosial, berarti film itu punya sesuatu yang lebih dari sekadar hantu bermuka seram.
Tumbal Proyek mungkin belum sempurna. Beberapa dialog masih klise, ritme tengah cerita sempat melemah, dan jumpscare-nya cukup mudah ditebak. Namun, di balik semua kekurangannya, film ini menyimpan kemarahan yang menarik tentang manusia-manusia kecil yang terlindas ambisi besar.
Semenarik itu memang film Tumbal Proyek. Sobat Yoursay mau nonton? Cus, jangan ragu karena dari segi cerita film ini masih sangat bisa dinikmati. Selamat nonton, ya.
Baca Juga
-
Review Verity: Licik Memainkan Kepercayaan Penonton lewat Banyak Kebenaran
-
Review Ibadah & Cinta: Konflik Keluarga Menarik, Eksekusinya Kurang Terarah
-
Review Hanuman Ansh: Mukjizat Lebih Mudah Dipercaya Ketimbang Manusianya
-
Review Never After Dark: Licik Memainkan Formula Horor yang Sudah Familier
-
Review Film The Scout: Karakternya Menarik Kendati Emosinya Tertahan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Saat Kekuatan Super Bertemu dengan Masalah Finansial: Dilema Kocak Lee Jun-ho di Drama Cashero
-
Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!
-
Memetik Pelajaran Kehidupan dari Buku Harapan Semu untuk Sebuah Masalah
-
Review Serial Ted Lasso Season 2: Kehangatan Komedi yang Menyentuh Jiwa
-
Review Venom: The Last Dance, Penutup Trilogi Antihero yang Sangat Kocak!
Terkini
-
The Lost Horizon
-
Self Reward dan Budaya Boros yang Diam-diam Dinormalisasi Gen Z
-
Mulai Rp50 Ribuan! Rekomendasi Serum Bebas Pewangi agar Jerawat Minggat Tanpa Bikin Kering
-
Tak Perlu Jadi Manusia Super, Tanyakan 3 Hal Ini ke Dirimu Sendiri untuk Menjaga Kewarasan
-
Seni Menghadapi Drama Teman Kantor yang Suka Ambil Hati Hal-Hal Sepele