Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Alien: Romulus (IMDb)
Ryan Farizzal

Alien: Romulus, disutradarai oleh Fede Álvarez dan dirilis pada 16 Agustus 2024 oleh 20th Century Studios, merupakan film ketujuh dalam franchise Alien. Berlatar waktu antara peristiwa Alien (1979) dan Aliens (1986), film ini menghadirkan pendekatan horor sci-fi yang kembali ke akar klasik dengan penekanan pada ketegangan atmosferik, desain makhluk xenomorph yang ikonik, dan elemen korporasi jahat Weyland-Yutani. Dengan durasi 119 menit, film ini berhasil meraih kesuksesan komersial dengan pendapatan global mencapai lebih dari 350 juta dolar AS.

Perjuangan Pemuda Koloni Melawan Ancaman Mematikan

Salah satu adegan di film Alien: Romulus (IMDb)

Cerita berfokus pada sekelompok pemuda koloni penambang yang tertindas di planet yang suram. Rain Carradine (Cailee Spaeny), seorang pekerja muda yang penuh tekad, bersama saudara androidnya, Andy (David Jonsson), bergabung dengan teman-temannya—Tyler (Archie Renaux), Kay (Isabela Merced), Bjorn (Spike Fearn), dan Navarro (Aileen Wu)—untuk mencari peluang hidup baru.

Mereka menemukan stasiun ruang angkasa Romulus yang terbengkalai, yang sebenarnya merupakan fasilitas penelitian milik perusahaan. Harapan mereka untuk mendapatkan pod kriogenik berubah menjadi mimpi buruk ketika mereka berhadapan dengan bentuk kehidupan paling mematikan di alam semesta: xenomorph.

Álvarez berhasil menangkap esensi franchise ini dengan sempurna. Visual film ini gelap, claustrophobic, dan penuh detail industri retro-futuristik yang mengingatkan pada karya H.R. Giger. Sinematografi oleh Galo Olivares menciptakan suasana mencekam melalui pencahayaan rendah dan ruang sempit yang membatasi gerak karakter. Efek visual, khususnya desain xenomorph dan varian hybrid-nya, sangat impresif, sehingga film ini mendapat nominasi Academy Award untuk Best Visual Effects. Skor musik oleh Benjamin Wallfisch mendukung ketegangan dengan elemen elektronik yang menggugah.

Ulasan Film Alien: Romulus

Salah satu adegan di film Alien: Romulus (IMDb)

Dari segi akting, Cailee Spaeny memberikan penampilan kuat sebagai Rain, seorang protagonis yang tangguh tapi rentan, mirip dengan Ellen Ripley namun dengan latar belakang generasi muda yang lebih kontemporer. David Jonsson sebagai Andy memberikan lapisan emosional yang menarik, mengeksplorasi tema kemanusiaan pada makhluk sintetis. Para pemeran pendukung juga solid, meskipun beberapa karakter cenderung stereotip dalam horor kelompok. Narasi film ini menekankan tema eksploitasi korporasi, harapan putus asa, dan horor eksistensial terhadap yang tidak diketahui.

Salah satu kekuatan utama Alien: Romulus adalah kemampuannya membangun ketegangan secara bertahap. Berbeda dengan beberapa sekuel sebelumnya yang lebih berorientasi aksi, film ini kembali pada horor lambat yang penuh suspense. Adegan-adegan menegangkan dimulai sejak kelompok tersebut memasuki stasiun Romulus.

Salah satu momen paling intens adalah ketika facehugger pertama kali muncul di area berair. Xenomorph muda yang muncul dari air menciptakan rasa panik yang autentik, dengan gerakan cepat dan desain yang mengancam. Adegan ini mengingatkan pada ketegangan klasik Alien sambil menambahkan elemen visual baru.

Adegan yang paling kuingat dan mencekam adalah proses chestburster pada karakter Navarro. Adegan ini dilakukan dengan cara unik menggunakan perangkat X-ray, memungkinkanku melihat secara langsung bagaimana makhluk tersebut memecah tulang rusuk dari dalam tubuh. Visual grafis ini sangat mengganggu dan efektif, meninggalkan kesan mendalam tentang kerentanan tubuh manusia. Ini bukan sekadar jump scare, melainkan horor biologis yang mendalam.

Momen klimaks melibatkan The Offspring, hybrid xenomorph-manusia yang lahir dari Kay setelah paparan serum eksperimental. Desain makhluk ini sangat mengganggu, menggabungkan fitur manusiawi dengan elemen alien yang grotesk. Adegan pertarungan akhir Rain melawan Offspring di pesawat Corbelan penuh adrenalin, dengan gravitasi nol yang menambah kompleksitas. Jump scare terakhir melibatkan kembalinya makhluk tersebut dari ruang angkasa sunyi menciptakan kejutan yang luar biasa, meskipun agak berlebihan, sih. Adegan ini menjadi puncak ketegangan yang sulit kulupakan.

Secara keseluruhan, Alien: Romulus adalah tambahan yang solid bagi franchise ini. Film ini menghormati warisan asli sambil memperkenalkan elemen segar bagi generasi baru. Meski bukan tanpa kekurangan—seperti beberapa dialog klise dan pacing yang sedikit lambat di bagian tengah—film ini berhasil menyampaikan horor murni dan ketegangan psikologis yang jarang ditemui di era modern. Untuk kamu penggemar Alien, ini adalah pengalaman yang memuaskan; untuk penonton baru, ini adalah pintu masuk yang mengerikan ke salah satu universe horor terbaik.

Mengenai ketersediaan streaming, Alien: Romulus telah tersedia di Disney+ sejak awal 2025 di berbagai wilayah, termasuk rilis di platform tersebut pada 15 Januari 2025 untuk pasar seperti Inggris dan wilayah terkait, serta November 2024 di beberapa area lain. Di Indonesia, sebagai bagian dari layanan Disney+, film ini dapat disaksikan sekarang melalui langganan aktif.

Dengan demikian, Alien: Romulus membuktikan bahwa franchise ini masih memiliki daya tarik kuat. Sangat aku rekomendasikan untuk para pencinta horor sci-fi yang mencari pengalaman intens dan visual memukau. Rating dariku: 8/10.