Buku Sejarah Nama Bahasa Indonesia karya Holy Adib layak mendapat perhatian sejak halaman pertama. Bahkan sebelum pembaca memasuki isi buku, dua tokoh besar di bidang bahasa telah memberikan penilaian yang membuat rasa penasaran saya semakin besar.
Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum., Guru Besar Linguistik Universitas Andalas, menyebut buku ini sebagai bacaan yang mampu menambah wawasan tentang bahasa Indonesia. Menurut beliau, Holy Adib berhasil menyajikan berbagai topik kebahasaan dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami oleh siapa saja. Pujian itu terasa wajar setelah saya benar-benar menyelesaikan buku ini.
Sementara itu, Prof. Dr. Uli Kozok, pemerhati bahasa dan budaya sekaligus pengajar di University of Hawai'i at Manoa, melihat buku ini lebih dari sekadar kumpulan pembahasan bahasa. Ia menilai Holy Adib memiliki kejelian dalam menangkap berbagai persoalan berbahasa yang sering luput dari perhatian banyak orang. Yang paling menarik bagi saya adalah pengingat bahwa bahasa bukan sekadar alat agar orang lain memahami apa yang kita maksud. Bahasa adalah cermin cara berpikir. Ketika pikiran kita berantakan, bahasa yang keluar pun ikut berantakan.
Setelah membaca komentar kedua ahli tersebut, saya semakin yakin bahwa buku ini bukan buku linguistik yang hanya cocok dibaca mahasiswa bahasa. Justru sebaliknya, buku ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Judulnya memang Sejarah Nama Bahasa Indonesia, tetapi isinya jauh lebih kaya daripada yang saya bayangkan. Saya sempat mengira buku ini hanya membahas asal-usul nama "Bahasa Indonesia". Ternyata Holy Adib mengajak pembaca menjelajahi begitu banyak persoalan bahasa yang sering kita temui, tetapi jarang kita renungkan.
Salah satu bagian yang paling membekas bagi saya adalah pembahasan mengenai istilah saksi ahli. Awalnya saya mengira topik tersebut akan terasa berat karena bersinggungan dengan hukum. Namun Holy Adib menyajikannya secara runtut dan mudah diikuti.
Ia memulai pembahasan dari pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemudian membandingkannya dengan definisi dalam KUHAP, pendapat para ahli, hingga keberadaan istilah tersebut dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Pasal 43 ayat (2) huruf a. Saya baru menyadari bahwa satu istilah yang tampak sederhana ternyata dapat menimbulkan persoalan ketika digunakan dalam aturan hukum.
Di akhir pembahasan, Holy Adib mengusulkan agar istilah "ahli" dan "saksi ahli" diperjelas apabila memang memiliki makna berbeda. Jika ternyata memiliki makna yang sama, sebaiknya diseragamkan agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda.
Dari sini saya melihat bagaimana bahasa memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kepastian hukum. Inilah salah satu sisi menarik linguistik forensik yang jarang dibahas dalam buku-buku populer.
Bagian lain yang membuat saya beberapa kali mengangguk setuju adalah ketika Holy Adib mengkritisi cara sebagian media daring menyusun paragraf berita.
Sebagai orang yang cukup sering membaca sekaligus menulis artikel, saya merasa pembahasan ini sangat relevan. Holy Adib menyoroti kebiasaan media daring yang memecah satu paragraf menjadi beberapa paragraf pendek hanya agar tampil lebih ringkas di layar gawai.
Padahal, menurut kaidah bahasa Indonesia, sebuah paragraf seharusnya terdiri atas satu gagasan utama yang didukung oleh beberapa kalimat penjelas. Ketika setiap kalimat dipisahkan menjadi paragraf baru, hubungan antargagasan menjadi kabur dan pembaca kehilangan alur berpikir yang utuh.
Holy Adib bahkan memberikan contoh nyata dari sebuah berita daring yang memecah enam kalimat menjadi enam paragraf berbeda, padahal seluruh kalimat tersebut masih menjelaskan satu gagasan utama yang sama.
Saya menyukai cara beliau menyampaikan kritik. Alih-alih langsung menyalahkan para wartawan, ia memilih berprasangka baik bahwa mereka memahami teori paragraf, tetapi sengaja melanggarnya karena pertimbangan tertentu. Sikap seperti ini membuat kritik terasa lebih dewasa dan elegan.
Semakin jauh membaca buku ini, saya semakin sadar bahwa banyak kesalahan berbahasa yang selama ini dianggap sepele ternyata dapat memengaruhi cara orang memahami informasi. Bahasa bukan hanya persoalan benar atau salah, melainkan juga soal ketelitian berpikir.
Yang saya sukai dari Holy Adib adalah gaya menulisnya yang tidak menggurui. Meskipun banyak membahas teori, ia mampu menyajikannya dalam bahasa yang ringan dan mengalir. Saya tidak merasa sedang membaca buku kuliah, melainkan seperti diajak berbincang oleh seorang teman yang sangat mencintai bahasa Indonesia.
Buku ini juga membuat saya semakin menghargai bahasa Indonesia sebagai warisan budaya bangsa. Selama ini kita sering menggunakan bahasa setiap hari tanpa pernah bertanya mengapa suatu istilah dipakai, bagaimana sejarahnya, atau apa dampaknya jika digunakan secara kurang tepat. Holy Adib berhasil membangunkan rasa ingin tahu itu.
Menurut saya, buku ini layak dibaca oleh mahasiswa, guru, wartawan, penulis, aparatur pemerintah, bahkan masyarakat umum yang ingin memahami bahasa Indonesia secara lebih mendalam.
Saya juga sependapat dengan harapan Prof. Uli Kozok agar buku ini digunakan di berbagai perguruan tinggi, bukan hanya di jurusan bahasa. Kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas merupakan bekal penting di semua bidang ilmu.
Tentu saja buku ini bukan tanpa tantangan. Beberapa pembahasan yang berkaitan dengan linguistik dan hukum memerlukan konsentrasi lebih agar benar-benar dipahami. Namun, Holy Adib berhasil mengimbanginya dengan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga pembaca tidak mudah merasa jenuh.
Saya membawa satu kesan yang sulit dilupakan. Saya menjadi lebih berhati-hati dalam memilih kata, menyusun kalimat, dan membangun paragraf. Buku ini menyadarkan saya bahwa kualitas bahasa sering kali mencerminkan kualitas cara berpikir seseorang.
Buku ini adalah ajakan untuk kembali mencintai bahasa Indonesia melalui hal-hal kecil yang selama ini sering kita abaikan. Usai menghatamkan buku ini, saya merasa bahwa merawat bahasa sejatinya adalah merawat cara kita berpikir, berkomunikasi, dan menghargai identitas bangsa.
Identitas Buku
- Judul: Buku Sejarah Nama Bahasa Indonesia
- Penulis: Holy Adib
- Penerbit: DIVA Press
- Cetakan: I, Oktober 2023
- Tebal: 210 Halaman
- ISBN: 978-623-189-278-2
- Genre: Esai/Reference
Baca Juga
-
Melihat Pengarang Tidak Bekerja: Ketika Musuh Terbesar Penulis Adalah Dirinya Sendiri
-
5 Rekomendasi HP Rp5 Jutaan: Performa Ngebut, Kamera Jernih, dan Memori Lega
-
Meracik Penawar Luka Sendiri dari Buku Jika Lukamu Sedalam Laut, Ikhlasmu Harus Seluas Langit
-
5 HP Murah Baterai 6.000 mAh Awet Dipakai Seharian, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri: Tak Semua Rumah Menjadi Tempat Pulang
Artikel Terkait
Ulasan
-
Deathstalker: Hadir dengan Petualangan Pahlawan Barbar Melawan Penyihir!
-
Eternal Sunshine of the Spotless Mind: Saat Kenangan Tak Bisa Sepenuhnya Hilang
-
Review Home School: Saat Belajar di Sekolah Tak Harus Lewat Buku Pelajaran
-
Dibalik Sangar dan Brutalnya Aksi Agent Kim Reactivated, Ada Kisah Ayah dan Anak yang Menguras Emosi
-
Review Drama My Mister: Mahakarya Slice-of-Life tentang Beban Hidup dan Empati Kemanusiaan
Terkini
-
Kemiren Lawan Komersialisasi Budaya Lewat Wirausaha UMKM Berkelanjutan
-
Geliat Literasi Anak Muda: Minat Baca Bangkit, Harga Buku Sulit
-
Jinakkan El Nino Pakai Garam Laut: Ide Brilian atau Malapetaka Baru?
-
Fenomena Kerja "Serabutan" di Era Modern: Cari Fleksibilitas atau Terpaksa?
-
Bukan Sekadar Visual, Ini Alasan Drama Korea Jadi Terapi 'Healing' Paling Favorit