Seekor domba bisa jadi ilmuwan gila, menciptakan monster, membuat satu desa panik, lalu tetap terlihat polos seolah-olah semua kekacauan itu cuma bagian dari rencana bermain. Begitulah Shaun bekerja. Selama puluhan tahun, karakter ciptaan Aardman ini membuktikan bahwa untuk menjadi lucu, sebuah karakter bahkan nggak perlu banyak bicara.
Shaun the Sheep: The Beast of Mossy Bottom kembali membawa Shaun ke petualangan panjang ketiganya setelah Shaun the Sheep Movie (2015) dan A Shaun the Sheep Movie: Farmageddon (2019). Film stop-motion produksi Aardman ini disutradarai Steve Cox dan Matthew Walker, dengan skenario Mark Burton dan Giles Pilbrow. Richard Beek menjadi produser, sementara pengisi suara utamanya meliputi Justin Fletcher sebagai Shaun dan Timmy, John Sparkes sebagai Bitzer dan Farmer, serta Kate Harbour sebagai Timmy's Mum. Nina Sosanya mengisi suara Vet, Paul Whitehouse sebagai Shopkeeper, Roman Kemp sebagai Pizza Boy, dan Dani Dyer sebagai Influencer.
Cerita bermula menjelang Halloween ketika Shaun dan kawanan domba diam-diam menanam kebun labu untuk pesta mereka. Rencana tersebut berantakan setelah Farmer menghancurkan kebun itu secara nggak sengaja. Shaun lalu menemukan buku sains dan memutuskan memakai eksperimen untuk menghasilkan labu berukuran besar dari benih yang berhasil diselamatkan. Percobaan tersebut menghasilkan cairan pertumbuhan yang kemudian secara keliru masuk ke botol penumbuh rambut milik Farmer.
Farmer memang sedang gelisah dengan rambutnya yang menipis. Dia menyukai Vet yang sedang berkunjung ke Mossingham, tapi rasa minder membuatnya kesulitan mengajaknya pergi bersama. Setelah menggunakan cairan itu, Farmer berubah jadi sosok berbulu besar.
Ketika Farmer menghilang, warga mulai panik karena melihat makhluk misterius berkeliaran di sekitar ladang dan hutan. Shaun, kawanan domba, dan Vet kemudian berusaha mengungkap identitas makhluk itu. Vet bahkan menggunakan perangkat DNA untuk memeriksa sampel bulu yang berhasil diambil dari sang monster. Pada akhirnya, misteri itu mengarah kembali pada eksperimen Shaun dan perubahan Farmer.
Komedi yang Lahir dari Gerakan
Seriusan deh, Shaun hampir nggak butuh kata-kata untuk menyampaikan leluconnya.
Tatapan Bitzer, gerakan kepala Shaun, telinga yang tiba-tiba bergerak, tubuh kawanan domba yang berlarian, sampai benda kecil yang muncul di latar bisa memunculkan komedi. Aardman membangun humor lewat timing dan bahasa tubuh. Bahkan ekspresi yang hanya berubah sedikit bisa ngasih informasi mengenai kepanikan, rasa penasaran, atau kenakalan karakter.
Hal seperti ini membuat The Beast of Mossy Bottom ibarat komedi bisu yang dibawa ke dalam stop-motion masa kini. Aardman sendiri memang mempertahankan pendekatan minim dialog sejak film panjang pertama Shaun. Keputusan tersebut membuat karakternya mudah diterima lintas negara dan budaya.
Leluconnya juga sering muncul begitu saja. Sebuah benda di belakang karakter, reaksi Bitzer, kepanikan domba lain, sampai detail kecil dalam satu adegan bisa jadi punchline.
Masalahnya, gaya komedi seperti ini sangat bergantung pada ritme. Ketika sebuah gag visual berlangsung terlalu lama, efek lucunya perlahan menurun. Beberapa bagian film terasa mengalami persoalan tersebut. Lelucon yang sebenarnya sudah bekerja kadang masih diteruskan beberapa detik lebih panjang sehingga momentum adegan ikut melambat.
Jadi persoalannya bukan pada jenis humornya. Humor visual Shaun masih kuat. Yang terasa sesekali kurang presisi adalah durasinya.
Meski begitu, The Beast of Mossy Bottom tetap menunjukkan alasan Shaun mampu bertahan selama tiga dekade. Dia nggak perlu berubah jadi karakter yang lebih cerewet, pintar, atau kekinian. Cukup satu ekspresi, gerakan kecil, ide buruk, lalu seluruh Mossy Bottom ikut berantakan.
Dan mungkin memang di situlah pesona Shaun berada. Ketika karakter lain membutuhkan dialog untuk menjelaskan kekacauan, Shaun cukup mengangkat alis, menatap Bitzer, lalu berlari. Selebihnya, stop-motion Aardmanyang bekerja. Keren, deh!
Baca Juga
-
Review Film Love of Your Life: Terlalu Banyak Kesedihan dalam Satu Paket
-
Review Practical Magic: The Book of Magic: Saat Perempuan Menulis Takdirnya
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Review Last Seen: Thriller yang Menekan Emosi, Bukan Cuma Twist Saja
-
Review Why Did I Get Married Again?: Biasa dan Mudah Ditebak
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Lagu Kamu Yang Kutunggu: Bukti Chemistry Romantis Rossa dan Afgan
-
Ulasan Film Istimewa: Kisah Perjuangan Anak Disabilitas yang Menginspirasi
-
Seperti Hilang Arah, 4 Novel Tema Keterasingan Ini Pertanyakan Eksistensi
-
Tafsir Lagu Pamungkas: Memaknai BKKASM dalam Relasi Orang Tua dan Anak
-
Laura: Perjuangan, Keteguhan, dan Keberanian Melawan Hubungan Toksik
Terkini
-
Jangan Asal Larang! Ini 5 Langkah Ajarkan Aturan agar Anak Paham dan Disiplin
-
Kabar Buruk Jelang ASEAN Cup 2026: Jay Idzes Cedera, Elkan Baggott Siap Turun Gunung?
-
Below Tayang 8 Oktober di Netflix, Josh Hartnett Hadapi Monster Laut
-
Anti-Gerah! 4 Chemical Sunscreen Korea Andalan Kulit Kombinasi Buat Outdoor
-
iQOO Pad Ultra Segera Rilis 29 September: BawaLayar OLED 8,8 Inci, Snapdragon Generasi Baru