Hidup kadang memang terasa ribet. Sudah membaca banyak buku motivasi, menonton konten produktivitas, mengikuti tips sukses dari sana-sini, tetapi ujung-ujungnya tetap bertanya, gue sebenarnya mau ke mana?
Masalahnya mungkin bukan karena kita kekurangan informasi. Bisa jadi kita terlalu banyak mengumpulkan cara, tetapi lupa mencari alasan paling dasar kenapa kita melakukan semua itu?
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk buku Gue Ogah Ribet karya Sunil Tolani, atau yang akrab disapa Bro Neal. Buku bertema motivasi, pengembangan diri, bisnis, dan pola pikir finansial ini dikemas dengan gaya bahasa santai dan dekat dengan anak muda. Dengan sekitar 225 halaman, buku ini tidak sekadar menawarkan daftar tips menjadi sukses, tetapi lebih dulu mengajak pembaca membenahi mindset.
Isi Buku
Menurut gagasan utama buku ini, sebelum sibuk mencari how to success, seseorang perlu menemukan why-nya. Buku ini dibuka dengan bagian “Ribetnya Hidup Gue Dulu”, yang mengajak pembaca melihat bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu rapi. Ada masa ketika hidup terasa penuh masalah, kebingungan, dan ketidakpastian. Dari pengalaman tersebut, pembaca kemudian diajak masuk ke pembahasan tentang harta, tahta, dan yang dianggap lebih penting: mindset merdeka.
Mindset merdeka bukan berarti hidup tanpa aturan atau melakukan apa saja sesuka hati. Justru sebaliknya, konsep ini mengajak seseorang memiliki kerangka berpikir sendiri sehingga tidak terus-menerus bergantung pada standar keberhasilan orang lain.
Di era media sosial, gagasan ini terasa relevan banget. Kita setiap hari melihat orang lain membeli rumah, membuka bisnis, naik jabatan, traveling, menikah, atau memamerkan pencapaian. Tanpa sadar, hidup kita berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah kita daftarkan. Akhirnya kita mengejar sesuatu bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena takut terlihat tertinggal.
Buku ini mengajak pembaca berhenti sejenak dan bertanya: “Sebenarnya WHY gue apa?”
Untuk menjawabnya, pembaca diajak berkenalan dengan diri sendiri dan menyadari keaslian diri. Dua hal ini penting karena seseorang sulit menentukan tujuan jika bahkan belum memahami apa yang ia inginkan, apa yang ia anggap penting, dan nilai apa yang ingin ia pegang.
Setelah menemukan arah, buku berlanjut pada pembahasan tujuan hidup, kegagalan, dan kemampuan menghadapi krisis. Salah satu gagasan menariknya adalah melihat kegagalan sebagai sesuatu yang biasa.
Kedengarannya sederhana, tetapi praktiknya tidak gampang. Banyak orang menganggap gagal sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu. Padahal, kegagalan dapat menjadi informasi: strategi mana yang tidak bekerja, keputusan mana yang perlu diperbaiki, dan kemampuan apa yang masih harus dikembangkan.
Kelebihan dan Kekurangan
Bagian “Living in Crisis” terasa relevan karena hidup tidak pernah benar-benar bebas dari masalah. Yang dapat dikendalikan bukan selalu situasinya, melainkan respons kita terhadap situasi tersebut.
Kemudian ada pembahasan tentang orang-orang yang menjadi pendukung dalam perjalanan, profesionalisme, kewirausahaan, hingga prinsip “NDABLEG” sebagai salah satu bekal untuk tetap bertahan. Pesannya cukup jelas: kemauan saja belum cukup. Seseorang juga membutuhkan kemampuan untuk mempertahankan kebiasaan baik melalui skill, konsistensi, dan kesabaran.
Inilah bagian yang sering terlupakan dalam konten motivasi. Kita mudah bersemangat pada hari pertama. Membuat target, menulis resolusi, menyusun rencana bisnis, atau berjanji akan berubah mulai Senin. Tantangannya justru muncul setelah semangat tersebut turun. Apakah kita tetap menjalankan sesuatu ketika tidak ada lagi rasa excited?
Karena itu, buku ini tidak berhenti pada “ayo bermimpi”. Pembaca diarahkan untuk membangun pola pikir yang kemudian diterjemahkan menjadi tindakan.
Ada pula Special Chapter: “Anti-Ribet in Action! How to Find Your WHY” yang semakin menegaskan benang merah buku. Kesuksesan tidak harus memiliki satu formula yang berlaku untuk semua orang. Setelah memahami alasan dan tujuan sendiri, seseorang bisa menentukan how yang paling sesuai dengan kondisinya.
Pada akhirnya, Gue Ogah Ribet adalah buku yang mengingatkan bahwa manusia sebenarnya tidak selalu kekurangan kemampuan. Sering kali yang kurang adalah kemauan untuk memulai dan keberanian untuk konsisten.
Jadi, sebelum kembali sibuk mencari resep sukses orang lain, mungkin ada baiknya berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri. Apa alasan aku mencari ini. Karena ketika alasan kita cukup kuat, perjalanan menuju tujuan mungkin tetap melelahkan. Tetapi setidaknya, kita tahu untuk apa kita berjalan.
Identitas Buku
- Judul: Gue Ogah Ribet
- Penulis: Sunil Tolani (Bro Neal)
- Penerbit: @aksoroid
- Tahun terbit: Januari 2021
- Tebal: 225 halaman
- Kategori: Motivasi, Pengembangan Diri, Bisnis
Baca Juga
-
Dialog Indonesia dan Masa Depan: Antara Modernisasi vs Kemanusiaan
-
Guru Dituntut Mengurus Segalanya, Kapan Bisa Fokus Mengajar?
-
Belum 2040, Krisis Air Sudah Terasa: El Nino Ekstrem Tanda Peringatan Dini
-
Revisi UU Kehutanan Sekadar Tambal Sulam: Siapa yang Sebenarnya Dilindungi?
-
Efisiensi Anggaran Kesehatan Jangan Membuat Pasien BPJS Kehilangan Obat
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Film Idiots: Cerita Seru Dua Pria Mengawal Remaja Penuh Masalah!
-
Mengenal Perjalanan Ibnu Sina, Sang Ilmuwan Bidang Kedokteran dan Filsafat
-
Di Balik Tragedi Attack on Titan: Mengurai Dilema Kebebasan Eren Yeager
-
Review Love Story: Saat Nama Kennedy Terlalu Besar bagi Sebuah Cinta
-
Dialog Indonesia dan Masa Depan: Antara Modernisasi vs Kemanusiaan
Terkini
-
Darurat Karhutla: Ketika Asap Beracun dan Ancaman Penyakit Mengintai Warga Tanpa Henti
-
Bye Jerawat! 4 Toner Succinic Acid Solusi Bersihkan Pori-Pori secara Lembut
-
Beraroma seperti Dessert Lezat! 5 Parfum Gourmand Murah di Bawah Rp100 Ribu
-
Mengintip Dapur Redaksi Suara.com: Saat Anak-Anak SD VIS School Belajar Jadi Jurnalis Cilik!
-
Sering Terlupakan, 3 Serealia Lokal Ini Bisa Jadi Pengganti Gandum