Bagaimana rasanya jika seluruh ingatanmu dihapus, kepribadianmu dilenyapkan, lalu kamu dipaksa memulai hidup dari nol? Tidak ada kenangan masa kecil, tidak ada pengalaman buruk, bahkan tidak ada gambaran tentang siapa dirimu sebelumnya. Inilah premis utama Slated karya Teri Terry, novel pertama dari trilogi fiksi ilmiah dan thriller remaja yang menawarkan dunia masa depan penuh pengawasan, misteri, dan pertanyaan tentang identitas manusia.
Novel ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Buana Ilmu Populer pada 2013 dengan ketebalan 545 halaman. Berlatar London di masa depan, sekitar dekade 2030-an, Slated menghadirkan suasana dystopian ketika pemerintah memiliki kekuasaan besar terhadap kehidupan masyarakat.
Sinopsis Novel
Kyla, seorang gadis berusia 16 tahun yang termasuk golongan “Slated” atau “yang dihapus”. Mereka adalah orang-orang yang dianggap melakukan kejahatan, bahkan dikategorikan sebagai teroris, tetapi kemudian mendapatkan kesempatan kedua. Hukuman tersebut dilakukan dengan cara menghapus ingatan dan kepribadian mereka sehingga mereka dapat memulai kehidupan baru.
Kyla pun harus menerima identitas baru, keluarga baru, dan kehidupan baru. Secara teori, ia seharusnya menjadi seperti Slated lainnya: patuh, tidak banyak bertanya, dan mengikuti aturan yang sudah ditentukan pemerintah.
Namun, Kyla berbeda. Alih-alih menerima semuanya begitu saja, ia justru memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat ia terus mempertanyakan kehidupan barunya. Mengapa ingatannya harus dihapus? Apa sebenarnya kejahatan yang pernah dilakukannya? Apakah semua orang yang disebut Slated benar-benar bersalah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlahan membawa Kyla ke situasi yang semakin berbahaya. Ia mulai menyadari bahwa orang-orang di sekelilingnya tidak selalu mengatakan kebenaran. Ada sesuatu yang disembunyikan, dan semakin ia mencoba mencari jawaban, semakin banyak pula teka-teki baru yang muncul. Konsep penghapusan ingatan menjadi gagasan yang menarik karena berkaitan langsung dengan identitas manusia. Jika ingatan seseorang dihapus seluruhnya, apakah orang tersebut masih merupakan pribadi yang sama? Jika pemerintah dapat menghapus masa lalu seseorang, apakah mereka juga memiliki hak untuk menentukan masa depan orang tersebut?
Pertanyaan semacam ini membuat novel terasa lebih dari sekadar thriller remaja. Ada isu mengenai kontrol pemerintah, kebebasan individu, hukuman, dan manipulasi yang menarik untuk direnungkan. Kyla sendiri digambarkan sebagai gadis biasa yang sedang belajar mengenali dirinya kembali. Justru rasa ingin tahunya menjadi pembeda utama. Sayangnya, sifat tersebut juga membuatnya semakin diawasi. Dalam dunia yang menuntut kepatuhan, terlalu banyak bertanya bisa menjadi ancaman.
Selain Kyla, ada Amy, kakak perempuan Kyla dalam keluarga barunya. Pada awal cerita, Amy terlihat sebagai sosok ceria, tetapi porsinya terasa semakin berkurang seiring perkembangan cerita. Ada pula Ayah dan Ibu Kyla yang sangat misterius. Kehadiran mereka justru menambah rasa curiga karena pembaca sulit mengetahui apa yang sebenarnya mereka sembunyikan.
Kemudian ada Ben, seorang Slated yang digambarkan manis, ceria, dan rendah hati. Hubungannya dengan Kyla menjadi salah satu bagian penting cerita. Namun, perkembangan karakternya terasa agak gamang. Perubahan sikap Ben muncul cukup tiba-tiba, termasuk ketika perasaannya terhadap Kyla mulai berkembang, sehingga hubungan keduanya tidak selalu terasa memiliki fondasi yang kuat.
Kelebihan dan Kekurangan
Hal yang paling membuat saya kewalahan setelah menyelesaikan novel ini adalah jumlah pertanyaannya. Hampir setiap jawaban seperti membuka pintu menuju pertanyaan berikutnya. Bahkan setelah sampai halaman terakhir, hanya ada sedikit titik terang yang berhasil ditemukan, sementara misteri lainnya masih menggantung.
Di satu sisi, hal tersebut membuat pembaca penasaran dan mendorong untuk melanjutkan ke buku kedua. Namun, di sisi lain, terlalu banyak teka-teki tanpa penyelesaian yang cukup dapat membuat pembaca merasa bingung dan kelelahan.
Meski begitu, Slated tetap menarik bagi penggemar dystopian dan thriller yang menyukai cerita penuh konspirasi serta misteri. Novel ini tidak memberikan jawaban dengan mudah. Pembaca justru ditempatkan dalam posisi seperti Kyla: sama-sama tidak tahu siapa yang dapat dipercaya.
Jika masa lalu seseorang dapat dihapus begitu saja, apakah itu benar-benar berarti kesalahannya juga hilang? Dan jika ingatan adalah bagian penting dari identitas, lalu siapa sebenarnya Kyla setelah seluruh masa lalunya direnggut? Mungkin, justru pencarian jawaban itulah yang akan membawa Kyla pada dirinya yang sebenarnya.
Identitas Buku
- Judul : Slated
- Penulis : Teri Terry
- Penerbit : BIP (Bhuana Ilmu Populer)
- Tahun Terbit: 2013
- ISBN: 9786022492375
- Tebal : 545 halaman
Baca Juga
-
Bahasa Campuran Bukan Sekadar Tren: Multibahasa Menjadi Tuntutan Hidup
-
Tenaga Ahli Diekspor, Teknologi Diimpor: Paradoks Pembangunan Indonesia
-
Membaca Wonderstruck: Ketika Dunia Tak Selalu Ramah untuk Anak Disabilitas
-
Oposisi Dilemahkan dari Parlemen, Kritik Rakyat vs Musuh Imajiner
-
Indonesia Negara Maritim, Kenapa Teknologi Transportasinya Belum Berdaulat?
Artikel Terkait
Ulasan
-
3 Buku Favorit El Putra, Ada Karya Ziggy Z. Hingga Mitch Albom
-
Bapak Paling Jujur: Sindiran Tajam untuk Budaya Politik Pencitraan di Indonesia
-
Dulu Benci, Sekarang Relate: Mengapa Squidward Adalah Cermin Pekerja Modern
-
Love, Death & Robots Volume 2: Kumpulan Antologi Cerita Pendek yang Terbaik
-
Review 12.12: The Day, Ketika Ambisi Satu Orang Jadi Bencana Banyak Orang
Terkini
-
Drama Baru Ha Young, The Long Shot Trial Resmi Ditunda Usai Kontroversi
-
Jebakan Dunia Filter: Kenapa Gen Z Sulit Lepas dari Obsesi Validasi Digital?
-
Rahasia Bumbu Aromatik Masakan Nusantara dan Segudang Manfaat Kemangi
-
Dari Kue Hingga Skincare, Matcha Dimodifikasi Sejauh Ini Demi Bisa Disukai?
-
Bahasa Indonesia Era Gen Z: Bertahan, Berubah, atau Kehilangan Identitas?