Lintang Siltya Utami | aisyah khurin
Novel Metropolis (goodreads.com)
aisyah khurin

Dunia kesusastraan populer Indonesia acapkali dipenuhi oleh narasi percintaan metropolitan yang manis, namun novel Metropolis karya Windry Ramadhina mendobrak kebiasaan tersebut dengan menyajikan drama kriminologi yang kelam dan serba cepat. Berlatar belakang di Jakarta, sebuah kota megah yang menyimpan rahasia kelam di balik gemerlapnya, novel ini membedah pergerakan bawah tanah sindikat narkotika dan intrik kekuasaan yang melingkupinya. 

Melalui gaya penulisan yang lugas dan mengalir, cerita ini berhasil menggambarkan kompleksitas hubungan antarmanusia yang terjebak dalam lingkaran kejahatan tanpa terjebak dalam pola penceritaan yang berbelit-belit. Karya ini menjadi sebuah pencapaian tersendiri yang mampu memperkaya ragam bacaan fiksi kriminal di Tanah Air.

Sinopsis Novel Metropolis

Kisah Metropolis berawal dari sebuah tragedi berdarah lima belas tahun silam, di mana pimpinan tertinggi mafia narkotika Jakarta, Frans Al, beserta seluruh familinya dibakar hidup-hidup oleh kelompok rival. Pihak kepolisian gagal membongkar pelaku di balik pembantaian keji tersebut dan membiarkan kasusnya mengendap di dalam lemari arsip.

Runtuhnya kekuasaan Frans Al memicu perpecahan di dunia bawah tanah, hingga akhirnya muncul dua belas kelompok independen yang menguasai peredaran obat-obatan terlarang di ibu kota, yang dikenal sebagai Sindikat 12.

Tatanan kekuasaan Sindikat 12 yang berlangsung aman selama belasan tahun mendadak terguncang ketika Johan, putra Frans Al yang berhasil selamat dari tragedi masa kecilnya, kembali ke Jakarta dari Vancouver. Dengan berbekal deretan nama pimpinan sindikat serta bantuan dari figur misterius seperti Aretha dan Indira, Johan melancarkan aksi pembalasan dendam yang dingin dan sistematis.

Satu per satu pemimpin Sindikat 12 tewas secara beruntun sejak pertengahan tahun 2006, memicu kepanikan luar biasa di antara para penguasa jaringan gelap tersebut. Gelombang pembunuhan berantai ini memaksa Agusta Bram, seorang Inspektur Polisi Satu dari Sat Reserse Narkotika Polda Metro Jaya, untuk turun tangan mengusut tuntas motif di balik kematian para petinggi mafia.

Bram, yang didorong dendam pribadi atas kematian ayahnya yang dibunuh pengedar, menjalankan investigasi bersama asistennya, Erik, seorang polwan berpenampilan maskulin. Penyelidikan mereka kemudian terhubung dengan Miaa, seorang mantan polwan asal Yogyakarta yang terseret ke dalam lingkaran kasus ini setelah melacak identitas ayah kandungnya melalui jejaring dunia maya.

Upaya Bram dalam mengupas fakta harus berhadapan dengan tembok tinggi tatkala Burhan D. Saputra, atasan barunya yang bermoral korup, berusaha menghalangi penyidikan dan memindahkan kasus tersebut. Ketegangan mencapai puncaknya ketika Erik tewas dalam tugas setelah ditembak oleh pihak musuh, meninggalkan duka mendalam bagi Bram.

Dibantu oleh pensiunan polisi Ajun Komisaris Besar Polisi Moris Greand, Bram bertindak melintasi garis batas hukum demi menuntaskan dendam dan menegakkan keadilan di tengah kerasnya belantara kota.

Kelebihan

Kelebihan utama dari novel Metropolis terletak pada kekuatan narasi dan eksekusi alur yang konstan serta penuh kejutan. Windry Ramadhina berhasil meracik latar belakang para tokoh utama, seperti Bram dan Johan, menjadi figur yang abu-abu, tidak sepenuhnya suci dan tidak pula sepenuhnya jahat.

Selain itu, perpaduan antara aksi ketegangan tinggi dengan sisipan humor yang cerdik menjadikan novel ini sangat nikmat untuk dibaca tanpa terasa menjenuhkan. Struktur pembuka dan penutup yang bersimbolkan lokasi pemakaman turut menegaskan atmosfer noir yang konsisten di sepanjang cerita.

Kekurangan

Di sisi lain, terdapat beberapa aspek yang menjadi catatan kekurangan novel ini. Riset yang dilakukan penulis tampak sangat menonjol pada seluk-beluk bisnis narkotika, namun terasa agak selintas pada detail teknis kepolisian. Selain itu, terdapat sedikit celah alur pada beberapa bagian aksi operasional serta penggunaan label deskriptif karakter yang diulang-ulang. Kendati demikian, kekurangan tersebut tidak sampai merusak kualitas keseluruhan dari alur cerita yang telah dibangun secara apik.

Kesimpulan

Pada akhirnya, Metropolis karya Windry Ramadhina merupakan sebuah bacaan yang sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang merindukan kisah fiksi kriminal lokal yang berkualitas tinggi. Jalinan konflik yang penuh teka-teki, pengkarakteran yang kuat, serta atmosfer cerita yang dingin namun memikat akan membuai pembaca dari halaman awal hingga akhir cerita. 

Bagi para pencinta genre thriller, drama intrik kepolisian, maupun pembaca yang sekadar ingin menikmati kisah misteri yang memicu adrenalin, novel Metropolis adalah pilihan yang sangat tepat untuk masuk ke dalam daftar bacaan utama. 

Identitas Buku

  • Judul: Metropolis
  • Penulis: Windry Ramadhina
  • Penerbit: Grasindo
  • Tanggal Terbit: 1 April 2009
  • Tebal: 331 Halaman