Sekar Anindyah Lamase | Ardina Praf
Buku The House with Nobody in It (goodreads.com)
Ardina Praf

The House with Nobody in It karya Jon Klassen adalah buku anak yang sederhana, unik, dan sedikit menyeramkan. Buku berbentuk rumah ini mengajak pembaca mengintip setiap ruang.

Namun, ada satu pertanyaan yang terus mengusik: benarkah rumah ini tidak berpenghuni?

Sejak sampulnya, buku ini sudah menawarkan pengalaman membaca yang berbeda.

Bentuk rumah membuat buku terasa seperti benda yang bisa dimainkan. Pintu dan jendela berlubang menjadi bagian penting dari petualangan kecil di dalamnya.

Cerita dimulai dengan sebuah rumah yang tampak kosong. Pembaca diajak melihat benda-benda biasa seperti kursi, jam, bangku, dan lampu. Semuanya terlihat familiar, tetapi suasananya perlahan terasa semakin ganjil.

Daya tarik utama buku ini terletak pada desain die-cut yang berlapis. Lubang pada halaman memungkinkan pembaca mengintip ruang lain sebelum benar-benar membukanya. Efek tersebut membuat kegiatan membalik halaman terasa seperti menjelajahi rumah sungguhan.

Jon Klassen tidak membutuhkan cerita yang rumit untuk menciptakan rasa penasaran. Kalimat-kalimatnya singkat dan tenang, tetapi justru membuat suasana misterius semakin kuat.

Kesederhanaan tersebut memberi ruang bagi anak untuk memperhatikan detail dan membuat dugaan sendiri.

Hal yang menarik, rumah ini dikatakan tidak memiliki seseorang di dalamnya. Pernyataan tersebut terdengar biasa sampai pembaca mulai melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada.

Di sinilah humor gelap khas Klassen terasa bekerja dengan sangat halus.

Buku ini juga menarik karena rasa seramnya tidak dibuat berlebihan. Tidak ada suasana yang terlalu menakutkan atau adegan yang terasa kasar. Misterinya hadir melalui bayangan, ruang kosong, dan sesuatu yang mungkin sedang memperhatikan.

Ilustrasi Jon Klassen memperkuat pengalaman tersebut dengan gaya visual yang sederhana. Warna, bentuk ruangan, dan detail benda digunakan untuk membangun perubahan suasana.

Rumah yang awalnya terasa nyaman perlahan menjadi tempat yang membuat pembaca lebih waspada.

Keunikan lainnya adalah cara buku ini mengajak pembaca berinteraksi secara fisik. Anak tidak hanya melihat gambar, tetapi juga mengintip melalui lubang pada halaman.

Karena itu, buku ini terasa seperti perpaduan antara cerita, permainan, dan objek koleksi.

The House with Nobody in It cocok untuk pembaca usia dini yang mulai menyukai cerita misteri ringan. Buku ini dapat menjadi pilihan bagi anak yang penasaran dengan cerita hantu, tetapi belum membutuhkan suasana yang benar-benar menyeramkan.

Orang dewasa juga bisa menikmati kecerdikan konsepnya saat membacakan buku ini.

Menurut saya, kekuatan terbesar buku ini justru terletak pada keberaniannya menjadi sangat sederhana. Jon Klassen membuktikan bahwa cerita anak tidak harus penuh karakter, dialog, atau kejadian besar untuk meninggalkan kesan.

Sebuah rumah, beberapa benda, dan sebuah misteri sudah cukup untuk membuat pembaca terus memperhatikan.

Buku ini juga mengingatkan bahwa format dapat menjadi bagian dari cerita. Bentuk rumah bukan sekadar hiasan, melainkan pintu masuk menuju pengalaman membaca yang berbeda.

Setiap lubang, halaman, dan sudut terasa dirancang untuk membangun rasa ingin tahu.

Bagi penggemar karya Jon Klassen seperti The Skull, buku ini menawarkan nuansa yang terasa akrab. Humor datar, kesunyian, dan misteri kecil menjadi kekuatan utamanya.

Bedanya, pengalaman kali ini dibuat lebih ramah untuk pembaca yang masih sangat muda.

The House with Nobody in It adalah buku yang sederhana, tetapi tidak biasa. Ia berhasil mengubah rumah kosong menjadi ruang penuh pertanyaan.

Buku ini membuktikan bahwa sedikit rasa seram bisa menjadi sangat menyenangkan ketika disajikan dengan cerdas.

Pada akhirnya, buku ini bukan hanya tentang mencari tahu siapa yang ada di dalam rumah. Ia juga mengajak anak memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin terlewatkan.

Jika menyukai buku anak interaktif dengan misteri ringan, karya Jon Klassen ini layak masuk daftar bacaan.